Bab 61: Tak Seorang Pun Akan Mengambil Makananmu
Wajahnya langsung memerah, dan mereka berdua ngos-ngosan setelah Lendon ngejauhin mulutnya dari dia. Semua orang yang lewat aula makan pada nunduk. Curtis juga langsung keluar.
Kendra ngerasa malu dan ngejauhin Lendon. "Nanti dilihat orang," katanya pelan.
Lendon senyum dan nyium Kendra lagi. Rasanya manis banget sampe Lendon gak mau ngelepasin.
Setelah beberapa lama, Kendra susah napas, dan Lendon akhirnya ngelepasin dia.
"Kita sarapan sekarang, yuk." Lendon megang tangan Kendra dan narik kursi buat dia.
Kendra ngangguk dan ngambil pisaunya. Waktu itu, Lendon ngambil piringnya.
"Potongin steak aku jadi kecil-kecil dan suapin aku," kata Lendon sambil natap Kendra.
"Ambil sendiri aja kali," Kendra malu-malu. Dia tau Lendon pengen nunjukin rasa sayangnya.
"Enggak, aku mau kamu yang suapin," Lendon ngeyel. Matanya gak bisa lepas dari wajah cantik Kendra.
Kendra pengen banget nonjok Lendon. Dia tingkahnya nyebelin. Tapi dia gak berani.
"Cepetan!" Lendon ngegas gak sabaran.
Kendra terpaksa nyuapin Lendon dengan hati-hati.
Lendon kayaknya nikmat banget. Dia ngusap rambut Kendra dan ngusapnya pelan.
Kendra ngerasa Lendon ngerlakuin dia kayak peliharaan. Akhirnya, Lendon selesai sarapan. Dan Kendra kelaperan. Dia langsung minum susu, tapi Lendon nyium dia lagi dan nyedot semua susunya.
Mata dia melotot sambil ngeliatin Lendon.
Lendon ngelap mulutnya dan senyum. "Enak." Dia gak nyangka makanan di mulut Kendra bakal seenak ini.
"Kamu gak jijik apa?" tanya Kendra pasrah.
"Emang kamu mikir kamu menjijikkan?" Lendon balik nanya. Dia gak ngerti sikap Kendra.
Kendra gak mau debat sama dia. Akhirnya, dia ngambil sandwich dan ngegigit.
Detik berikutnya, Lendon ngambil sandwichnya dan langsung makan.
"Kamu ngapain sih?" Kendra gak percaya dia bakal kayak gitu.
"Aku lagi sarapan," kata Lendon santai. Dia gak mikir dia salah.
"Itu punya aku," Kendra muter matanya, ngeliatin dia dengan jijik.
"Semua yang ada di istana ini punya aku. Kamu juga punya aku," Lendon ngangkat bahunya.
Ya udah deh, Lendon bener. Jadi Kendra harus milih makanan lain. Dia sadar begitu dia milih makanan, Lendon bakal natap dia. Jadi Kendra harus masukin ke mulut cepet-cepet dan mulai ngunyah. Dia gak mau ngasih Lendon kesempatan buat ngambil makanannya lagi.
Lendon mikir mungkin dia bisa nyium Kendra lagi buat nyedot makanannya. Tapi Kendra udah sadar niatnya dan langsung nelen semuanya.
"Kamu!" kata Lendon gak seneng.
Kendra pengen ngetawain dia, tapi makanan di mulutnya bikin dia keselek tiba-tiba. Dia batuk keras, dan wajahnya jadi merah.
"Kenapa?" Lendon panik.
"Keselek," Kendra nunjuk tenggorokannya dan bilang, dia gak bisa berhenti batuk.
Lendon nuangin segelas susu buat Kendra dan nepuk punggungnya pelan.
Kendra berhenti batuk, tapi matanya masih merah.
"Kenapa buru-buru banget? Gak ada yang ngambil makananmu," kata Lendon sarkas.
Kendra melotot ke dia sambil minum susunya. Kok dia bisa gak punya malu sih?
"Kamu gak papa? Ayo pergi," Lendon megang tangan Kendra dan bilang, terus ngebawa dia keluar.
Kendra nengok ke meja dan ngerasa sedih. Dia hampir gak makan apa-apa.
Martin Group selalu sibuk di pagi hari. Lendon harus inspeksi. Kendra nunduk waktu jalan di antara para manajer senior.
Tapi, Lendon nyuruh dia cepetan biar bisa ngimbangin dia.
Kendra jalan ke Lendon pelan-pelan dan nanya, "Ada apa, Pak Martin?"
"Berdiri di samping aku dan jangan pergi," Lendon natap wajahnya.
Kendra ngangguk dan diem aja.
Waktu Lendon lagi dengerin laporan, dia tiba-tiba ngeliat Kendra dan nanya, "Kenapa tanganmu dingin banget? Kamu kedinginan?"
Kendra malu banget sampe pengen pergi aja.
"Enggak, aku gak kedinginan," Kendra berusaha senyum, malu. Dia sadar semua orang di sekeliling mereka kaget.
"Matiin AC. Siapa yang berani nyalain? Siapa yang mau bayar tagihannya?" Lendon tiba-tiba teriak.
"Panas," seorang sekretaris baru bergumam pelan, tapi Lendon denger.
"Kamu kepanasan?" Lendon ngeliat sekretaris itu dan bilang, "Kamu dipecat."
"Pak Martin...." Sekretaris itu ngeliat Lendon memelas dan memohon.
"Kamu gak ngerti omongan aku? Apa aku harus panggil petugas keamanan?" Lendon melotot ke sekretaris itu, wajahnya dipenuhi amarah. Terus, dia megang tangan Kendra dan langsung pergi.
Semua orang ngeliatin sekretaris itu dan kasihan sama dia, tapi gak ada yang ngomong apa-apa.
"Lendon, aku gak kedinginan. Gak papa," Kendra bisik ke Lendon pasrah.
"Tanganmu gemeteran tadi, jadi kamu kedinginan," Lendon natap dia, gak peduli sama permohonannya.
Ya udah deh, Lendon mulai gak masuk akal lagi. Karyawannya gak bisa debat sama dia. Mereka gak bisa pake AC karena dia.
Lendon harus ketemu klien penting siang ini, jadi Kendra harus makan siang sendirian. Dia duduk di kantor besar dan natap makanan enak, terus menghela nafas.
Curtis nyadar suasana hati Kendra yang buruk dan nanya, "Nona Miller, kamu gak papa? Kamu gak suka makanan ini?"
"Curtis, aku rasa Lendon makin aneh akhir-akhir ini," Kendra balik natap dia.
"Kenapa kamu bilang gitu?" Curtis bingung.
"Dia kayaknya peduli banget sama pikiran aku," Kendra mikir sebentar dan bilang,
"Itu bagus. Berarti Pak Martin beneran cinta sama kamu," Curtis senyum ke dia.
"Kamu serius?" Kendra ngeliat Curtis dan nanya ragu.
"Kamu gak liat dia beda dari sebelumnya?" tanya Curtis.
Kendra gak tau gimana ngejelasin pikirannya. Sebenarnya, dia gak mau cinta Lendon karena dia takut.
"Hari ini, Lendon nyuruh karyawannya matiin AC karena tangan aku kedinginan. Dan dia bahkan ngancurin aula pesta terakhir kali cuma karena aku hilang sebentar. Itu bukan pertanda bagus," Kendra menghela nafas berat. Semakin Lendon peduli sama dia, semakin bahaya dia. Bisakah dia ninggalin dia nanti?
"Pak Martin kadang impulsif, tapi itu karena dia terlalu peduli sama kamu. Dia pengen ngelindungin kamu," jelas Curtis.
"Dia juga pengen ngendaliin aku," kata Kendra. Lendon selalu sama dia kecuali di beberapa acara penting. Dia gak mau kayak gitu.
"Curtis, menurutmu dia bakal ngelepasin aku setelah dia sembuh?" Kendra tiba-tiba nanya.
"Um..." Curtis ragu-ragu.
"Ngelepasin kamu? Kamu mau kemana, Kendra?" Lendon tiba-tiba muncul.
Kendra noleh dan ngeliat Lendon berdiri di belakangnya. "Aku cuma mikirin..." Dia ragu, takut nyinggung dia.
"Apa?" Lendon motong dia waktu jalan ke dia. Dia kayaknya langsung marah.
"Aku cuma mau liat kamu lagi ngapain," Kendra senyum ke dia sebagai gantinya. Dia ngelirik Curtis dan ngasih kode supaya gak ngasih tau Lendon tentang percakapan mereka.
Lendon ngangkat Kendra buat ditaruh di pangkuannya. Dia duduk di pangkuannya.
Kendra malu dan pengen berdiri.
Tapi, Lendon ngentengin dia dan bilang, "Jangan gerak." Dia cuma pengen meluk dia.
Curtis keluar dari kantor pelan-pelan dan nutup pintunya.
Lendon mulai ngambil keuntungan dari dia. Dia nyentuh tubuh Kendra di mana-mana.
Kendra megang tangan Lendon buat ngehentiin dia dan takut dia bakal ngelakuin sesuatu di dalam kantornya, "Aku laper."
"Kamu belum makan siang?" Lendon cemberut dan bilang, "Ayo makan siang kalau gitu,"
"Aku kira kamu udah makan," Kendra natap dia, nanya.
"Belum kenyang," jawab Lendon. Dia beneran pengen nyobain makanan yang udah Kendra coba.
Kendra langsung mulai makan, tapi Lendon ngambil pisaunya. Dia megang pinggangnya sambil nyobain makanan yang dia makan.
Dia seneng. Itu yang dia butuhin.
"Lendon, kamu suka ya sama air liur aku?" Kendra nanya pasrah.
"Iya," Lendon ngangkat alisnya dan mikir sambil ngejawab dia. Dia natap bibir Kendra dan senyum jahat.
"Kamu pernah denger kan kalau kamu nyobain air liur orang, kamu harus dengerin orang itu," Kendra bilang ke dia.
"Kamu juga punya air liur aku waktu aku cium kamu. Jadi kamu harus dengerin aku," Lendon ngeledek dia.
Ya udah deh, gak pinter buat berantem sama Lendon.
Lendon ngerasa puas setelah Kendra diem. Dia makan semua makanannya.
Kendra ngeliatin dia dan ngerasa kesal. Dia beneran laper tapi gak bisa ngentengin dia juga, soalnya setiap makanan yang dia ambil, Lendon ngambilnya dari mulut dia.
"Aku kenyang," Lendon ngelap mulutnya dengan elegan, terus ngejatuhin serbet di meja.
Curtis harus kerja jadi sekretaris sementara karena Lendon baru aja mecah sekretaris sebelumnya. Dia masuk setelah beberapa lama dan bilang, "Pak Martin, Anda ada janji sore ini. Kita akan pergi ke lapangan golf baru."
Lendon ngangguk dan terus mainin rambut Kendra.
Curtis malu dengan kemesraan mereka di depan umum tapi entah bagaimana merasa senang karena Lendon berangsur-angsur berubah.
Sorenya, Lendon ngajak Kendra ke lapangan golf. Mereka pergi ke ruang ganti dan ganti baju.
Setelah mereka keluar, Lendon natap dia dan bilang, "Kamu tau kan, setiap seragam yang kamu pake bakal bikin aku semangat." Terus, dia megang pinggang Kendra dan nyium telinganya.
Kendra gugup dan gemeteran sedikit.
"Ayo pergi," Lendon narik tangannya.
"Aku gak tau cara main golf," kata Kendra setelah beberapa lama.
"Nanti aku ajarin. Jangan khawatir," Lendon ngedipin matanya ke dia.