Bab 57: Apakah Kamu Ingin Balas Dendam?
Supirnya langsung ngangguk. Kendra lega banget. Untungnya, Lendon setuju balik ke kastil. Kalo dia ngeyel mau turun, gue nggak tau harus gimana.
Namun, pas mereka mau cabut, orang tuanya Michael ngeliat mereka.
William sama Jane jalan ke arah mereka, sama beberapa pengawal, terus berdiri di luar mobil dengan hormat.
Lendon senyum terus ngangkat alisnya. "Tuh, kan? Kita nggak bisa pergi sekarang." Dia bilang sambil ngebuka pintu mobil.
Kendra tiba-tiba pusing. Dia deg-degan banget.
"Mr. Martin, kami nggak nyangka Bapak dateng. Maaf ya, kami nggak langsung ngeh." William nunduk ke Lendon, terus heboh sendiri. Emang, di depan Lendon, siapa aja juga bakal ngerasa kecil. Tapi, meskipun dia kepala keluarga Baker, dia tetep harus hati-hati.
Lendon ngelirik William terus ngangguk. Abis itu, dia ngulurin tangannya sambil bilang, "Keluarlah."
Kendra ngeliatin dia terus geleng-geleng.
"Keluarlah," ulang Lendon.
Semua orang penasaran ngeliatin ke dalam mobil, termasuk William sama Jane.
Kendra nggak punya pilihan lain. Dia narik napas dalem-dalem terus turun.
Lendon megang tangan Kendra terus meluk pinggangnya sambil senyum lebar. Abis itu, dia nundukin kepalanya terus berbisik, "Karena kita udah di sini, kamu harus pede. Meskipun kita nggak bikin masalah, kamu harus nunjukkin ke mereka kalo kamu baik-baik aja sekarang."
Lendon perhatian banget. Kendra harus ngaku kalo dia tersentuh. Matanya berkaca-kaca, dan Kendra mutusin buat hadapin keluarganya.
Pasti aja, pas Kendra turun, semua wartawan langsung ngejepretin fotonya dengan heboh.
Beberapa pengawal nuntun Kendra sama Lendon masuk ke hotel.
"Dia itu..." Jane ngeliatin Kendra sambil bergumam. Itu Kendra! Kok bisa dia ada di sini bareng Lendon Martin?
"Kenapa?" tanya William. Dia sadar Jane tiba-tiba tegang.
"Nggak ada apa-apa," Jane senyum terus bilang. Dia udah nyelidikin Kendra sebelumnya, jadi dia tau gimana rupa Kendra, tapi William nggak tau semuanya. Jadi dia harus nyimpen rahasia.
"Kita balik aja. Tamu-tamu juga hampir semua udah dateng," Jane ngegandeng lengan suaminya.
"Ayo," William ngangguk terus nuntun istrinya ke aula pesta.
Kendra masuk ke lift dan ngerasa deg-degan banget.
"Kenapa kamu tegang gitu?" Lendon ngeliatin dia. Dia ngeliat muka Kendra pucat.
"Lendon, janji ya, kamu bakal bersikap baik," Kendra natap Lendon terus bilang khawatir.
"Kenapa? Takut aku bikin rusuh?" Lendon ngangkat alisnya. Dia emang dateng ke sini buat bikin ulah.
"Please," pinta Kendra. Kalo pesta ini nggak sukses, Robert pasti bakal nyalahin dia.
Lendon ngelirik Kendra nggak sabar. Ini pertama kalinya Kendra mohon sesuatu ke dia. "Dasar pengecut," Dia nyubit pipi Kendra pelan.
"Please," Kendra megang lengan Lendon terus mohon lagi.
"Oke, deh. Aku bakal turutin permintaanmu," kata Lendon nggak mau, "Kalo bukan karena kamu, aku juga nggak bakal dateng ke sini." Dia itu duke, dan nggak banyak orang yang punya kehormatan ngundang dia ke pesta pertunangan.
"Makasih, Lendon," Kendra senyum tulus.
"Harusnya aku minta lebih banyak waktu itu. Alexis nggak guna banget. Kok bisa dia nyimpulin aku harus nunggu sebulan sebelum bisa ena-ena lagi sama kamu," Lendon nyubit pipi Kendra terus berbisik.
Kendra nundukin kepalanya dan ngerasa bersalah. Lendon nggak tau soal pil yang dibuat Alexis buat nyembuhin dia. Kalo dia tau, dia pasti bakal nyiksa dia tiap malam.
Nggak lama, liftnya berhenti. Pas pintunya kebuka, Kendra ngeliat karpet merah panjang yang mengarah langsung ke aula pesta. Ada banyak bunga di samping-samping karpet. Aula pestanya gede banget dan mewah. Suasana pestanya kerasa banget. Semua orang keliatan seneng.
Kendra keluar dari lift bareng Lendon dengan gugup.
Ada foto Bianca sama Michael di pintu masuk aula.
"Jelek," Lendon nyibir pas mereka lewat foto itu.
Kendra nggak bisa berkata-kata. Emang, cowok ini sombong banget.
"Kamu jauh lebih cantik dari dia," Lendon ngeliatin dia terus bilang serius.
Kendra mikir Lendon pasti seleranya jelek. Dari kecil, semua orang bilang Bianca lebih cantik dari dia, termasuk Robert.
"Aku kasihan sama pasangan jelek ini," Lendon menghela napas terus masuk ke aula bareng Kendra.
"Ya Tuhan! Itu Lendon Martin?"
"Kaget banget! Nggak ada yang nyangka Mr. Martin bakal dateng ke pesta pertunangan ini,"
"Dia bahkan keliatan berwibawa dan ganteng dari deket."
"Pengen cerai aja deh sama suami gue."
Pasti aja, pas orang-orang ngeliat Lendon muncul, cewek-cewek langsung pada ribut.
Kendra ngumpet di belakang Lendon dan berusaha nggak terlalu menonjol. Dia nggak mau dibenci sama mereka.
"Kenapa ngumpet?" Lendon berbisik ke dia terus meluk pinggangnya erat-erat pas mereka jalan ke karpet panjang.
"Kita nggak jadi pusat perhatian hari ini. Bisa nggak, sih, jangan terlalu menonjol?" Dia bergumam pelan.
"Salahin aja gue yang terlalu menarik!" jawab Lendon, "Kamu itu milikku. Kok kayak ketakutan gitu? Jalan aja lurus." Dia megang pinggang Kendra dan maksa dia buat ngeliat ke depan.
"Oke, aku bisa jalan sendiri. Jangan nempel-nempel gitu," kata Kendra.
"Aku pengen meluk kamu," Lendon nggak peduli sama keluhannya.
Pas mereka jalan ke area tamu, beberapa orang pengen ngobrol sama Lendon.
"Mr. Martin, kaget banget bisa ketemu Bapak di sini."
"Iya, suatu kehormatan bisa di sini bareng Bapak."
Mereka semua pegang gelas anggur dan pengen bersulang. Tapi Lendon nggak peduli dan langsung pergi.
"Mereka pasti malu," Kendra nengok terus bilang.
"Kalo aku minum sama mereka, aku harus masuk rumah sakit nanti," kata Lendon santai.
Pasti aja, duke kayak Lendon nggak perlu peduli sama perasaan orang lain.
Lendon ngambil segelas anggur dan ngeliat sekeliling, senyum aneh.
"Kendra," kata Lendon.
"Kenapa?"
"Kamu mau balas dendam?"
"Kamu mau ngapain?"
"Ikut aku," Lendon megang pinggang Kendra dan jalan ke sisi kiri panggung.
Kendra nggak tau Lendon mau ngapain awalnya. Tapi pas dia ngeliat Robert, dia berhenti.
"Kenapa?" Lendon sadar dia ragu.
"Aku nggak mau ketemu dia," kata Kendra. Dia belum siap buat ketemu Robert.
"Berani," kata Lendon terus maksa Kendra buat jalan.
Robert langsung nyadar Lendon terus jalan ke arahnya. "Mr. Martin, suatu kehormatan Bapak bisa dateng ke sini." Dia senyum dan nggak sadar Kendra nundukin kepalanya.
"Aku cuma lewat, dan aku pikir seru juga dateng ke pesta yang isinya orang-orang kaya baru," Lendon senyum terus bilang.
Kendra nundukin kepalanya dan ngerasa khawatir. Lendon ngomong apa? Dia mau ngehina Robert?
Robert senyum malu terus nggak bilang apa-apa. Tapi dia emang ngerasa tersinggung. Buat Lendon, semua orang di sini sampah. Dia lahir buat jadi duke, dan gimana bisa dia hormat sama mereka?
"Mr. Martin, kami punya ruang VIP. Pestanya mulai nanti. Bapak mau istirahat dulu?" Robert bilang sopan. Dia sama sekali nggak sadar Kendra itu pasangannya Lendon.
"Oke, tapi..." Lendon ngeliat Kendra terus nyubit pinggangnya tiba-tiba.
Kendra langsung melotot ke dia.
"Mau ikut aku, sayang?" Lendon senyum terus nanya.
Pas Kendra ngangkat kepalanya, Robert akhirnya ngeliat dia. Mukanya langsung pucat. Kenapa Kendra dateng ke sini bareng Lendon?
Kendra ngerasa nggak enak dan nggak bilang apa-apa.
"Kayaknya sayangku nggak mau istirahat. Kita jalan-jalan aja deh," Lendon senyum.
"Terserah Bapak, Mr. Martin," Robert melotot ke Kendra terus bilang. Dia nemu alesan dan langsung pergi.
Ngeliat punggung Robert, Kendra ngerasa lucu. Tadi di depan Lendon, dia keliatan pucat dan pengen kabur. Dia inget Robert berani banget pas dia maksa dia tanda tangan perjanjian hari itu. Kadang orang cuma nindas yang lemah dan ngehindar yang lebih kuat.
"Dia ayahmu?" Mata Lendon ngikutin Robert yang menjauh, natap dengan jijik, terus dia ngalihin pandangannya ke Kendra.
"Kamu udah janji nggak bakal bikin masalah," Kendra langsung ngingetin dia.
"Aku bikin masalah?" tanya Lendon. Dia cuma ngejek Robert.
"Lendon, please. Berhenti," Kendra ngerasa capek terus bilang. Harusnya dia udah tau rencana Lendon dari awal. Sekarang harus gimana?
"Gimana kalo aku bilang nggak?" Suara Lendon kayak guntur.
Denger dia ngomong gitu, semua energinya langsung ilang. Harusnya dia tetep di mobil aja.
"Tuan," Curtis tiba-tiba muncul dan berbisik ke Lendon.
"Tunggu di sini," Lendon ngelirik Kendra terus nyuruh. Abis itu, dia pergi bareng Curtis.
Kendra lega dan ngusap keningnya.
Pestanya mulai, dan lebih banyak tamu dateng.
Entah gimana, banyak cewek ngelilingin Kendra dan ngobrol ribut.
"Aneh banget! Kok bisa dia jadi selingkuhannya Mr. Martin? Dia nggak cantik-cantik amat."
"Mungkin Mr. Martin cuma pengen nyoba selingkuhan baru yang statusnya rendah,"
Kendra nggak mau dengerin mereka, jadi dia muter badan dan pergi. Tapi, dia langsung ngeliat cewek lain yang bikin kesel.
"Kendra? Itu kamu?" Adiknya Marga, Lucy, nyamperin dia.
"Tante," Kendra ngangguk dan nyapa Lucy sopan.
"Jangan panggil tante," Lucy geleng-geleng terus bilang, "Aku denger kamu bukan Miller lagi. Kita nggak ada hubungan apa-apa,"
Kendra nggak bilang apa-apa. Dari kecil, Lucy emang nggak suka sama dia. Lebih parahnya lagi, Lucy sering nampar atau ngejek dia.