Bab 64: Aku Ingin Kau Menjadi Milikku Selamanya
Di perjalanan ke Garden Hotel, Kendra deg-degan banget sampai keringetan. Curtis juga ikutan khawatir dan cemberut.
Lendon gak ngeh sama kelakuan aneh mereka. Dia cuma mikirin kejutan apa yang udah disiapin Kendra buat dia.
Mereka bakal sampai di hotel sebentar lagi. Kendra hampir gak bisa napas.
"Kamu keringetan banyak banget," Lendon godain dia.
Kendra ngangguk, gak ngomong apa-apa.
"Kamu grogi?" Lendon natap dia terus nanya penasaran.
"Lendon," Kendra nanya hati-hati, "Gimana kalau ada orang lain yang ikut makan malam kita?"
"Maksudnya?" Alis Lendon naik, denger kata-kata terakhir Kendra.
"Waktu kita makan malam di istana, banyak pelayan di sekeliling kamu kan. Apa kamu ngerasa aneh?" tanya Kendra.
"Udah biasa," Lendon mikir sebentar terus jawab. Dia kan lahir dari keluarga kerajaan. Pelayan itu hal yang paling biasa buat dia. Gak ada yang spesial, dan semua orang cenderung melayani dia karena mereka emang dipekerjakan buat itu.
"Bagus deh," Kendra lega dan bilang.
"Kamu punya kejutan buat aku?" Lendon natap Kendra dan nanya. Dia udah gak sabar pengen denger Kendra ngakuin perasaan aslinya ke dia.
"Hah?"
"Kendra, aku suka banget sama kamu." Lendon ngusap kepala Kendra dan ngomong lembut. Kendra kan bilang mau nyiapin kejutan buat dia, dan dia mikirin Lendon terus.
Kendra salting. Kalau Lendon tahu yang sebenarnya, apa dia bakal marah?
"Kita udah sampai," kata Curtis terus turun dari mobil. Garden Hotel emang terkenal. Cuma orang kaya atau orang penting yang bisa datang ke sini.
Lendon dan Kendra turun. Lendon gandeng tangan Kendra dan jalan masuk ke lobi hotel. Kendra nuntun Lendon ke ruang makan pribadi. Joyce udah ngasih tau dia soal ruang makan pribadi sebelum mereka sampai di sini.
Waktu Lendon mau buka pintu, Kendra nahan dia dan bilang, "Lendon, janji sama aku. Apa pun yang kamu lihat, jangan kaget berlebihan." Dia mau ngasih peringatan dulu.
Lendon ngangguk tanpa ragu. Dia buka pintu dan masuk.
"Lama gak ketemu, Mr. Martin." Joyce berdiri dan nyapa dia.
Senyum Lendon langsung hilang, dan dia ngeratin genggaman tangannya di tangan Kendra.
Kendra cemberut. Pasti Lendon lagi marah sekarang.
"Lendon, ini Joyce. Kamu udah pernah ketemu dia sebelumnya," Kendra pegang lengan Lendon dan ngenalin.
"Berisik!" Lendon melotot ke Kendra dan nanya, "Ini kejutan yang mau kamu kasih ke aku?"
"Aku..." Kendra gak tahu mau ngomong apa.
"Kendra, kamu lagi nguji kesabaran aku," kata Lendon dengan nada dalam dan makin kuat genggamannya.
Kendra nahan sakit dan tetep senyum. "Aku ngajak Joyce buat makan malam bareng kita," jelas dia.
"Jadi ini bukan buat aku, dan gak ada kejutan?" Tatapan Lendon jatuh ke Kendra, wajahnya jadi gelap.
Kendra natap Lendon gugup. Dia kelihatan serem banget. Kendra tahu dia bakal meledak.
Joyce gak tahu apa yang lagi terjadi.
Dia berdeham dan bilang, "Lendon, kita kan belum ngobrol terakhir kali. Aku..."
"Berisik!" Lendon teriak keras.
Joyce malu.
"Sakit," Kendra ngelihat tangannya dan bilang.
Lendon gak ngelepasin dia.
"Kamu sakit?" Lendon nyindir dan nanya.
Kendra keabisan kata-kata, dan rasa sakitnya gak tertahankan karena Lendon ngeremas pergelangan tangannya erat-erat.
"Kendra, kamu sengaja bawa aku ke sini?" Lendon natap Kendra dan nanya.
Kendra takut dan ragu-ragu. Terus, setelah beberapa saat, dia akhirnya ngangguk, "Iya."
Lendon tiba-tiba nendang meja dan ngelempar kursi. Dia marah banget karena Kendra ngerayu dia buat kencan makan malam buat orang lain.
Joyce belum pernah ngelihat Lendon semarah ini sebelumnya. Mukanya langsung pucat.
Kendra juga takut dan nundukin kepalanya.
Petugas keamanan hotel denger suara berisik dan langsung masuk ke ruang makan pribadi.
"Kalian semua keluar!" Lendon teriak marah.
Curtis udah ngira bakal kayak gini, jadi dia nyuruh petugas keamanan buat langsung pergi.
"Kendra, aku ini apa buat kamu?" Lendon natap Kendra dan nanya dingin.
"Aku bisa jelasin," Kendra mundur, berusaha jelasin.
"Bisa? Kamu bisa jelasin apa sekarang?" Lendon natap Kendra dengan serius. Dia merasa dikhianati, "Apa dia yang maksa kamu buat bawa aku ke sini? Atau dia bohong ke kamu?"
"Aku..."
"Jawab!"
"Aku minta maaf banget." Kendra pengen nangis. Mukanya pucat.
"Aku gak butuh permintaan maaf kamu." Lendon pegang pergelangan tangan Kendra dan bilang, "Aku kira kamu suka sama aku, dan kamu mau ngasih kejutan buat aku. Tapi, tentu aja, aku gak pernah nyangka kalau dia yang jadi kejutan aku." Dia sekilas ngelihat Joyce.
Lendon akhirnya sadar kalau Kendra gak jatuh cinta sama dia. Malah, dia mau ngejauhin Lendon. Hal ini gak pernah terjadi sama dia sebelumnya. Kendra bener-bener nyakitin dia. Dia pengen hukum Kendra, tapi dia milih buat ngontrol marahnya.
"Aku minta maaf banget," Kendra minta maaf lagi. Dia emang bohong ke Lendon.
"Berisik!" Suara Lendon penuh kekecewaan. Dia benci kalau Kendra sering minta maaf.
Kendra natap Lendon dan hampir nangis. Dia maksain diri buat nahan air matanya.
Lendon ngelihat kalung Kendra dan nyindir, "Konyol banget aku! Aku kira kamu tahu perasaan aku." Dia ngasih kalung itu ke Kendra dan berharap dia bisa ngerti artinya. Tapi kayaknya gak mungkin.
"Hati samudera gak pernah mati." Lendon senyum dingin dan bilang, "Kendra, apa kamu pikir kamu bisa lepas dari aku?"
Denger kata-kata Lendon, Kendra ngerasa gak enak dan nanya, "Maksudnya?"
"Kamu gak ngerti?" Lendon maksa Kendra buat natap dia dan bilang, "Aku mau kamu jadi milik aku selamanya. Apa sekarang aku udah jelas? Lihat apa yang udah kamu lakuin? Kamu nyakitin aku kali ini. Kok kamu bisa lakuin ini ke aku? Kenapa?" Dia pengen teriak ke dia, tapi dia sakit bahkan buat nyakitin dia kali ini. Ini pertama kalinya Lendon ngomong jujur ke Kendra.
Kendra natap Lendon dengan ngeri seolah-olah dia kayak goblin gelap yang ngambil jiwanya. Terus, dia ngeratin tinjunya buat nenangin diri dan nanya, "Apa aku gak bisa pergi kalau kontraknya selesai atau kamu udah sembuh?"
"Kontrak itu cuma kertas bekas dari awal," Lendon ngasih tahu kebenaran itu dengan kejam. Buat Lendon, dia gak peduli sama kontrak sama sekali, dan gak ada yang bisa ngebatasin dia. Itu cuma bohong buat bikin Kendra jadi pelayan dia dan bayarin tagihan dia. Yang dia mau cuma bikin dia jadi ceweknya.
"Kamu bohong ke aku?" Kendra kaget.
"Apa kamu masih mau ninggalin aku? Karena kamu nerima kalung aku, itu gak mungkin," Lendon nyindir dan bilang. Dia itu serigala, hewan paling setia di dunia. Karena dia punya perasaan ke Kendra, dia udah mastiin kalau Kendra bakal jadi satu-satunya buat dia. Dia ngasih kesempatan buat bilang gak, tapi Kendra nerima kalungnya.
"Gak," Kendra ngegeleng dan bilang, "Aku gak tahu artinya. Aku gak tahu kalau itu hati samudera." Dia hancur dan akhirnya nangis. Kalau dia tahu artinya, dia gak bakal nerima. Gimana dia bisa milih buat tetap sama Lendon selamanya?
Ngelihat Kendra nangis, Lendon kesel.
Dia ngeratin tangannya seolah-olah dia mau mecahin pergelangan tangan Kendra. "Apa kamu nyesel? Udah terlambat." Lendon meremehkan Kendra dengan dingin dan bilang, "Di dunia aku, kalau aku udah mutusin, aku gak bakal berubah. Tapi, Kendra, sejak saat aku cinta sama kamu, kamu gak bisa lepas dari aku."
Kendra natap mata Lendon dan nemuin matanya berubah jadi hijau tiba-tiba. Itu mata serigala! Ada apa ini?
Joyce ngelihat semuanya dan kaget banget sampai gak bisa ngomong. Dia berhasil keluar dari ruang makan pribadi, tapi seseorang langsung ngehajar dia.
"Kamu milik aku! Kamu milik aku selamanya!" Lendon bilang dengan semangat. Detik berikutnya, dia jalan ke Kendra dan nyium dia. Dia gak bakal biarin dia pergi. Cewek ini milik dia.
Kendra berusaha dorong Lendon. Tapi, makin keras dia berontak, makin gila Lendon jadi. Akhirnya, dia genggam tangan Kendra erat-erat dan nempelin dia ke dinding.
Kendra gak bisa ngapa-ngapain buat ngehentiin Lendon.
Akhirnya, Lendon ngelepas tangan Kendra, tapi dia ngangkat dia dan buka pintu lain di ruang pribadi ini.
Garden Hotel terkenal dengan kamar rahasia di setiap ruang pribadi. Ada kamar yang tersedia khusus buat setiap tamu.
Lendon tahu itu jelas, jadi waktu Kendra nyebut Garden Hotel, dia mikir dia ngasih kode buat dia.
Lendon ngelempar Kendra ke kasur. Sebelum Kendra bisa bangun, Lendon naik ke kasur, nindih dia.
"Jangan ke sini," Kendra memohon dengan menyedihkan.
Lendon senyum mengerikan dan ngiket tangan Kendra pake dasinya. "Kenapa takut? Jangan khawatir. Aku bakal lembut," katanya.
"Gak!" Kendra ngegeleng dan teriak.
"Gak!"
Lendon ngusap pipi Kendra dan bilang, "Aku gak peduli sama racun aku. Aku bakal nge-fuck kamu malam ini."
"Gak. Tolong jangan," Kendra memohon lagi. Dia bener-bener gak mau berhubungan seks malam ini.
"Kamu khawatir sama diri kamu atau sama aku?" Lendon nyindir.
Kendra teriak keras dan gak ngejawab Lendon.
Lendon senyum dan nyium Kendra lagi.
Meskipun Kendra berontak keras, dia tetep maksa. Dia meluk Kendra sekuat tenaga dan berubah jadi serigala. Dia suka perasaan kalau dia bisa ngontrol semua hal tentang dia. Tapi, Lendon tahu jelas kalau Kendra gak milik dia... hatinya gak milik dia lagi.
Kendra udah kehabisan air mata dan kehilangan semua kekuatannya. Dia tiduran di kasur dan terus gemetar.