Bab 2: Tuduhan Ayahnya
Sebulan berlalu dengan cepat sejak malam tragis yang dia alami.
Hari ini, Kendra berlutut di depan ayahnya, Robert Miller, di ruang keluarga rumah mereka. Robert merasa sangat kesal.
"Kok bisa sih kamu begitu? Ayah besarin kamu baik-baik! Gak ada balasan apa-apa selain anak haram! Berani-beraninya kamu tidur sama cowok sembarangan?" Robert membentak, dan urat-urat di dahinya menonjol.
"Ayah, aku gak tidur sama siapa pun. Aku gak punya anak haram," Kendra bersikeras dengan keras kepala. Dia gak ada niat buat menerima tuduhan ayahnya.
"Berhenti bohongi aku!" Robert berteriak dan melempar beberapa lembar kertas ke arah Kendra, "Jelasin ke aku! Laporan medis yang jelas yang ada nama kamu. Gak buta apa gimana sampe gak liat nama kamu di situ? Katanya kamu hamil!"
Kendra melihat kertas di lantai dan kaget banget pas liat tulisan "LAPORAN KEHAMILAN" dengan huruf tebal.
"Kendra, itu punya kamu?" Ibu tirinya Kendra, Marga, turun dari tangga dan bertanya, "Aku nemuinnya di tempat sampah kamar kamu." Dia memegang stik tes kehamilan dan berjalan ke arah Kendra dengan semangat.
Sebelum Kendra sempat ngomong apa-apa, Robert menampar wajah Kendra dan mengumpat, "Sialan! Kamu mau nikah sebulan lagi! Sekarang kamu hamil? Ayah yakin kamu gak tau siapa bapaknya! Gimana caranya Ayah jelasin semuanya ke tunangan kamu?"
"Ayah, ini gak bener. Aku harus ke rumah sakit dan tes kehamilan lagi," Kata Kendra sambil memegang pipinya yang bengkak dengan tenang.
"Kendra, aku nemuin laporan ini dan stik tes kehamilan di kamar kamu. Apa kamu beneran harus cek lagi? Terima aja udah. Gak papa kok," Marga mendesak.
"Mama, stop," Adik Kendra, Bianca, masuk dan berkata, "Ayah, mungkin ini cuma salah paham. Gimana bisa Kendra tiba-tiba punya bayi? Kita harus hati-hati sebelum nuduh dia. Nanti reputasi keluarga kita hancur kalau publik tau soal ini," Dia berjalan ke arah Kendra dan ngebantu dia berdiri.
"Bianca!" Marga memelototi Bianca dan berkata, "Sini dan diem! Bukan urusan kamu!"
"Mama!" Bianca berkata gak mau.
"Sini!" Marga berkata dan menarik Bianca ke arahnya. Kendra jatuh lagi ketika Bianca menjauh dari sisinya.
"Robert, kita harus gimana sekarang? Kalau keluarga Michael tau, mereka bisa marah," Suara Marga terdengar mengejek, dan dia bersikap khawatir. Gak lama, dia bertepuk tangan dan berkata, "Lagian, Michael udah di luar negeri bertahun-tahun. Dia gak tau Kendra itu siapa. Gimana kalau kita suruh Bianca aja yang nikah sama dia? Mungkin ini solusi yang bagus buat masalah ini."
"Apa?" Bianca menatap ibunya dengan kaget, dan gak percaya sama apa yang dia denger.
"Diem!" Marga menatap Bianca tajam, diikuti dengan tatapan peringatan. Kemudian, dia melihat ke Robert dan berkata lagi, "Aku rasa ini satu-satunya pilihan kita. Kalau Michael tau kebenarannya setelah dia balik, kita tamat."
Robert menatap Kendra dengan marah dan berpikir sejenak. Akhirnya, dia mengangguk dan menjawab, "Kita gak punya pilihan sama sekali."
Kendra menatap orang tuanya dengan kaget, dan dengan sedih dia berkata, "Marga, ini rencana kamu kan?"
Marga memalsukan laporan kehamilan dan menaruhnya di kamar Kendra. Terus, dia memalsukan stik tes kehamilan dengan hasil positif. Dia cuma mau menjebak Kendra.
"Kamu ngomong apa sih?" Marga berjalan ke Kendra dan menampar wajahnya, berteriak, "Kok kamu bisa ngomong gitu? Aku udah baik banget sama kamu selama ini. Gak papa kalau kamu gak menghargai, tapi kok kamu nyalahin aku atas kesalahan kamu?"
Kendra memegangi wajahnya yang bengkak dan menangis. "Pasti kamu! Kamu rencanain semuanya! Aku gak hamil!" Kendra berteriak dengan mengerikan. Dia yakin dia gak hamil. Dari mana laporan itu berasal? Pasti Marga!
"Kendra!" Robert memegangi Marga dan berteriak, "Ayah akan usir kamu sekarang kalau kamu ngomong satu kata lagi ke ibu kamu!"
Oke, Robert ninggalin ibunya bertahun-tahun lalu, dan sekarang dia mau ninggalin dia juga. Kendra merasa sangat putus asa dan gak berdaya.
"Ayah, jangan marah. Kendra cuma bikin kesalahan," Bianca berdiri di depan Kendra dan melindunginya, "Kendra, minta maaf aja sama Ayah. Kita keluarga. Kita akan bantu kamu."
"Minta maaf?" Kendra mencibir, "Salah aku apa? Aku bilang aku gak hamil. Aku gak tau dari mana laporan ini datangnya, dan Ayah gak percaya sama sekali. Andai kita bukan keluarga."
"Sialan!" Robert berteriak marah dan mengangkat cambuknya, memukuli Kendra tanpa ampun.
Kendra menjerit kesakitan.
Bianca juga berlutut di depan Robert dan memohon, "Ayah, tolong berhenti! Jangan sakitin Kendra!"
Marga bergegas ke Bianca dan menariknya berdiri. "Kamu kenapa sih? Udah Ayah bilang bukan urusan kamu! Balik ke kamar kamu!" Dia membentak.
Robert terus mencambuk Kendra. Setelah beberapa detik, Kendra mulai berdarah. Dia berdiri dan bersembunyi di balik vas bunga buat menghindari cambuk Robert.
Tiba-tiba, cambuk Robert mengenai vas bunga, dan vas itu jatuh, pecah berkeping-keping. Robert menatap pecahan itu dan berkata, "Kamu tau kan betapa mahalnya ini? Anak bodoh!" Dia mencambuk Kendra lagi.
Kendra menghindari cambuk Robert dan berteriak dengan marah, "Kamu bukan Ayah aku. Seorang ayah gak akan kayak kamu. Kamu dibodohi sama Marga dan bikin ibu aku meninggal. Sekarang kamu nyakitin aku karena dia. Aku benci kamu! Aku benci kamu!"
"Kamu benci aku? Kamu bukan apa-apa kalau aku bukan ayah kamu! Anak haram!" Robert juga berteriak dan terus mencambuk Kendra dengan ganas.
Kendra berusaha menghindarinya, tapi dia tetap terluka. Bianca berlari ke Robert dan memegangnya, memohon, "Ayah, tolong! Kalau Kendra beneran hamil, anaknya akan mati kalau Ayah terus menyakitinya!"
"Dan Ayah harap itu mati! Apa yang bisa dia kasih ke kita selain skandal?" Robert berkata.
"Aku gak hamil! Kenapa sih kamu gak percaya sama aku?" Kendra berteriak histeris, "Kamu iblis!"
"Kamu…" Robert mau mukul Kendra lagi, tapi Bianca gak ngebiarin, jadi dia cuma bisa mengumpat, "Seharusnya Ayah gak pernah ngebiarin ibumu ngelahirin kamu! Oke, karena kamu bilang aku bukan ayah kamu, kamu boleh pergi dari sini hari ini. Mulai sekarang, aku gak ada urusan sama kamu!"
Denger perkataan Robert, Kendra merasa patah hati dan hampir jatuh lagi.
"Pergi! Pergi dari sini sekarang!" Robert mencambuk Kendra untuk terakhir kalinya dan berteriak.
Kendra memelototi ayahnya dan berkata, "Oke, aku akan pergi dari sini hari ini, dan aku gak akan pernah balik lagi! Mulai sekarang, kamu bukan ayah aku lagi, dan aku gak berutang apa-apa sama kamu." Dia gak menghindari cambukan terakhir yang dibuat ayahnya.
"Kendra!" Bianca memanggil nama Kendra dengan khawatir dan mau menghentikan Kendra, tapi Marga mencengkeram lengan Bianca erat-erat dan berkata, "Bianca, dia mau pergi! Dia sama sekali gak nganggep kita sebagai keluarganya! Biarin aja dia pergi!"
"Tapi…" Bianca mau ngomong sesuatu yang lain.
"Biarin dia pergi," Robert berteriak. Dia udah mutusin buat ngusir Kendra. "Dia bukan anak perempuan Ayah, dan anak haramnya gak ada urusan sama kita!" Dia menatap punggung Kendra dan berkata dengan kejam.
Hujan turun deras di luar. Kendra keluar dari rumahnya dan tampak bingung. Kulitnya penuh luka dan memar. Pas hujan mengguyur lukanya, Kendra merasa sangat sakit.
Cuma ada beberapa orang di jalanan, tapi hujannya terlalu deras, dan gak ada yang peduli sama Kendra.
Kendra berjuang buat jalan ke depan, tapi dia hampir gak bisa bergerak. Dia udah kehilangan semua kekuatannya. Kendra melihat sekeliling dengan kosong dan merasa sangat kedinginan. Dia gak bisa ngerasain kehangatan atau harapan sama sekali saat ini.