Bab 13: Ini Takdirnya
Dia cuma takut pas lengan Lendon meluk pinggangnya.
"Cewek, lo mau bikin cowok lo buta, ya?" Lendon cemberut dan megangin pinggang Kendra erat-erat. Dia narik Kendra dengan keras, dan Kendra terpaksa duduk di pangkuan Lendon.
Kendra teriak dan mukanya merah. Satu-satunya yang ada di antara kulitnya dan bagian bawah Lendon cuma celana bahannya yang tipis. Kendra ngerasa panas banget.
Alexis ngeliatin Lendon dan Kendra terus ngerasa canggung. Dia pergi diem-diem.
"Gue, gue belum selesai," kata Kendra gugup.
"Lanjutin," perintah Lendon sambil pelan-pelan ngusap-ngusap pinggang Kendra, bikin dia geli. Dia pengen marah ke Lendon, tapi nggak berani mancing emosi lagi.
Kendra ragu-ragu dan tiba-tiba diem.
"Cepetan," desak Lendon sambil ngelirik Kendra dengan tatapan peringatan.
Kendra harus lanjutin tugasnya, nahan 'anu' Lendon yang makin gede di antara kedua pahanya. Sialan! Kena paha gue! Nih cowok nggak tau malu bener-bener bikin dia kesel.
Lendon keliatan nikmat dan nyender di kursinya. Dia nyipitin mata dan senyum, terus-terusan ngusap pinggang Kendra.
Beberapa saat kemudian, "Udah selesai," kata Kendra dan pengen berdiri. Tapi, Lendon ngejeblosin dia balik ke sofa.
"Lo..." Kendra panik dan nggak tau harus ngomong apa.
"Lo nyakitin gue. Sekarang giliran gue ngapain, nih?" Lendon ngeliatin Kendra dan bilang. Dia ngusap-ngusap wajah pucat Kendra pelan-pelan.
"Lo mau ngapain?" tanya Kendra gugup.
"Hal yang berarti, dong," Lendon naikin alisnya dan ngejawab dengan sombong, "Lo harus bantuin gue nyari obatnya cepet. Sekarang waktunya lo kerja." Terus, dia nyium bibir Kendra. Demi Tuhan, Kendra udah godain dia semalaman. Gimana bisa dia ngelepasin Kendra secepat ini?
Alexis denger suara itu dan senyum. Dia berdiri di luar kamar bareng Curtis.
Curtis ngelap keringatnya dan nanya dengan bingung, "Ada apa sama Tuan Martin? Sejak Nona Miller dateng ke sini, dia keliatan beda." Dulu, kalo ada yang berani nyakitin Tuan Martin, dia pasti langsung bunuh orang itu.
"Lo tau sendiri, segala sesuatu berubah. Siapa tau? Gimana Nona Miller bisa bantu ngendaliin racun serigala di tubuh Lendon? Waktu yang bisa jawab. Ini takdirnya dia," Alexis nepuk bahu Curtis dan ngedipin mata.
"Lo bijak," canda Curtis.
"Harus, kalo lo bareng Tuan Martin," kata Alexis sambil ngeliat ke dalam kamar lewat pintu, "Bawa dia ke lab gue besok pagi. Gue perlu ngecek."
"Siap," kata Curtis.
Besoknya, Lendon dateng ke lab Alexis pagi-pagi. Dia duduk di kursi dan ngerasa ngantuk banget. Semalaman, dia nggak ngebiarin Kendra tidur nyenyak. Dia 'ngambil' Kendra beberapa kali. "Alexis, waktu gue mahal. Jangan buang-buang waktu!" desaknya.
"Santai aja. Gue masih nyetel alatnya," jawab Alexis dengan tenang.
Setelah beberapa saat, Alexis ngebantu Lendon pake alatnya.
Pas tesnya selesai, Alexis keliatan khawatir. "Aneh," dia ngumumin.
"Alexis, kenapa lo selalu keliatan nggak enak setelah tes? Kali ini kenapa lagi?" tanya Lendon dan ngelepas alatnya.
Alexis natap Lendon dengan serius dan bilang, "Tuan Martin, setelah malem bulan purnama kemarin, gue yakin Nona Miller bisa bantu ngendaliin racun lo, tapi..."
"Apa?" Lendon natap Alexis dan nanya dengan dingin.
"Racunnya meningkat pesat sejak tadi malem," jawab Alexis.
Lendon udah nebak hasil ini, jadi dia nggak marah. "Lo tau alasannya?" tanyanya.
"Gue rasa ada hubungannya sama Nona Miller juga," Alexis ngejelasin dengan sabar, "Pas malem bulan purnama, Nona Miller bakal nyebarin semacam bau khusus plus hal lain dari dirinya yang bisa ngurangin racun serigala di dalem tubuh lo; makanya, gue nyimpulin dia bisa bantu nguranginnya. Tapi pas hari biasa, tubuhnya malah ngehasilin hal lain yang bikin racun di tubuh lo meningkat berkali-kali lipat."
"Maksud lo gue nggak boleh nyentuh dia pas hari biasa?" Lendon nendang alatnya dan nanya. Sialan! Dia nggak bisa ML sama Kendra sesuka hati dia? Cuma becanda! Dia marah banget! Gimana bisa dia nggak nyentuh ceweknya?
"Tenangin diri, Tuan Martin," kata Alexis langsung. Dia tau Lendon nggak bakal bisa nerima, tapi dia harus ngomong yang bener sebagai dokter profesional.
"Gue belum nemu solusinya, jadi lo jangan ambil risiko. Pilihan terbaiknya ya jauhin Nona Miller," Alexis narik napas dalem-dalem dan bilang.
Lendon nyeringai dan ngecengkeram kerah Alexis. "Lo main-main sama gue?" Dia nyengir ke Alexis, ngancem dia dengan mata melotot.
"Tapi..." Alexis nggak tau gimana cara ngebujuk Lendon. Ini mungkin jadi tugas yang paling susah buat dia.
"Cari cara secepatnya, atau gue lempar lo ke serigala kalo lo gagal," ancam Lendon.
"Siap. Gue usahain," Alexis ngangguk dengan gugup.
Lendon langsung balik badan dan pergi.
Alexis ngeliatin alatnya yang rusak dan ngerasa sakit hati. Itu barang-barang mahalnya dia; meskipun Lendon ngasih gaji gede, dia tetep aja ngerasa rugi.
***
Udah hampir siang. Kendra megangin kepalanya dan duduk di kursi, ngerasa ngantuk banget. Dia nyumpahin Lendon beberapa kali. Lendon nggak ngebiarin dia tidur sampe subuh. Dosennya lagi semangat ngasih kuliah, tapi pikiran Kendra melayang entah kemana.
"Kendra, semalem lo ngapain? Kok keliatan capek gitu?" Shirley, temen sekelas Kendra, nyolek Kendra dan nanya.
"Gue begadang," jawab Kendra dengan ketus. Gara-gara Lendon, nih, yang bikin dia capek. Lendon nyoba berbagai macam gaya. Jadi, Kendra hampir nggak tidur semalem, tapi dia harus dateng ke sekolah hari ini. Dia mikir dalam hati.
"Gue tau lo punya cowok. Pasti dia alasannya," Shirley ngedipin mata dan bercanda.
"Nggak!" Kendra langsung duduk tegak dan bilang. Dia juga ngegeleng cepet-cepet.
"Jangan panik gitu, deh," Shirley senyum dan bilang, "Ceritain tentang cowok lo, dong."
"Gue nggak punya cowok," Kendra ngelirik Shirley dan bilang.
Dosennya merhatiin Kendra dan Shirley lagi bisik-bisik dan tiba-tiba manggil dia, "Kendra, jawab pertanyaan saya."
Kendra berdiri dan minta maaf, "Maaf, Pak."
Setelah kelas selesai, dosennya nyuruh Kendra dateng ke ruangannya.
"Maaf, Pak, saya cuma capek dan nggak fokus. Maaf banget," Kendra ngejelasin. Dia tau cara terbaik buat ngadepin guru adalah minta maaf dulu. Dosennya udah tua, serius tapi baik hati.
"Bukan itu alasan saya nyuruh kamu ke sini," kata dosennya dan ngasih berkas ke Kendra, "Coba liat."
Kendra ngeliat berkasnya dan nemuin itu tentang rekomendasi pertukaran pelajar.
"Kamu murid terbaik di jurusan kita. Saya udah ngobrol sama dosen-dosen lain, dan kita semua mikir kamu pantas buat mewakili jurusan kita. Jadi, kita mau kamu pergi ke luar negeri dalam setahun. Gimana menurut kamu?" dosennya bilang dengan tenang.
"Iya, saya mau banget," Kendra ngangguk dengan gembira dan bilang.
"Bagus. Kamu masih punya waktu setahun buat persiapan," kata dosennya lagi sambil sibuk sama urusannya.
"Makasih, Pak," Kendra nunduk. Dia nggak nyangka dapet kabar bagus ini. Nggak semua orang bisa dapet kesempatan dan kehormatan ini. Kerja kerasnya nggak sia-sia.
"Saya nggak akan ganggu Bapak lagi, Pak," kata Kendra dan pergi buru-buru.
Setelah keluar dari ruangan, Kendra nunduk buat ngecek lagi rekomendasi itu. Tapi, dia nabrak dada keras di sudut, dan berkasnya jatuh.
Kendra ngusap dahinya dan cemberut.