Bab 12: Apakah Dia Benar-benar Menganggapnya Iblis?
Kendra berdiri di depan ruang kerja Lendon. Ini shift pertama Kendra. Dia ngetok pintu dengan gugup.
"Masuk," suara Lendon kedengeran.
Kendra masuk dan lihat Lendon lagi duduk di depan komputernya. Kayaknya dia lagi meeting virtual. Dia nggak ngelirik Kendra sama sekali. Malah, dia cuma natap laptopnya dan terus ngomong.
Kendra nggak berani ganggu Lendon, jadi dia jalan ke pojokan dan mulai bersihin tumpukan buku yang segede gaban itu.
Suara Lendon tuh karismatik banget, dan aksennya juga enak didenger, jadi Kendra senyum-senyum sendiri sambil dengerin dia. Dia tahu Lendon punya tanggung jawab gede, tapi ini pertama kalinya dia lihat Lendon sesibuk ini.
Lendon kelihatan bener-bener kewalahan. Selesai meeting langsung lanjut meeting lagi. Kayaknya sih meeting internal.
"Proyek dan proposal lo sampah. Nggak mutu! Kerjain lagi!" Lendon tiba-tiba teriak marah, "Gue bayar lo buat kerja, bukan buat main-main. Kalo nggak bisa, ya udah cabut aja." Dia bener-bener beda dari lima menit yang lalu pas dia sok elegan.
Kendra denger Lendon ngamuk dan hampir aja jatoh. Orang ini mood-nya cepet banget berubah kayak cuaca. Siapa aja yang denger nada marahnya pasti langsung merinding.
"Dia serem banget." Kendra nepuk-nepuk dadanya sambil nghela napas.
Lendon sadar ada suara Kendra dan ngeliatin dia. Dia lihat Kendra lagi berdiri di tangga kayu sambil megang kemoceng. Roknya pendek banget, ampe kakinya yang jenjang itu hampir kelihatan di udara. Dari sudut pandang Lendon, kayaknya Kendra telanjang. Bahkan dia bisa lihat dalemannya Kendra dengan jelas. Lendon tiba-tiba gerah dan mengerutkan dahi.
"Tuan Martin, proyek ini…"
"Bikin yang baru," kata Lendon dan selesaiin meetingnya dengan nggak sabaran. Dia nyender di kursinya dan nyilangin tangan, natap kaki Kendra dan senyum-senyum.
Kendra awalnya nggak ngeh sama tatapan Lendon. Tapi lama-lama, dia sadar Lendon udah nggak ngomong. Ada apa sih? Kenapa dia ngerasa kayak ada yang merhatiin dia? Kendra noleh dan natap mata Lendon. Dia panik dan bilang, "Tuan Martin, saya…"
"Berdiri aja di situ." Lendon natap Kendra dan bilang, "Lanjutin tugasmu."
"Iya." Kendra ngangguk patuh dan bilang gitu. Tapi, dia ngerasa nggak enak. Lendon ngapain sih? Kenapa tatapannya kayak gitu, kayak serakah? Kendra mengerutkan dahi dan nunduk. Gak lama, dia nemuin alasannya dan teriak, "Brengsek! Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?"
Kendra kesel dan ngelempar kemocengnya langsung ke arah Lendon.
Lendon kena dan teriak. Kena matanya dan sakit banget.
"Lo ngeliatin apaan sih?" Kendra turun dari tangga dan teriak. Dia melotot ke arah Lendon, nggak peduli sama reaksinya.
Lendon nutupin matanya dan balik teriak, "Berani banget lo! Lo nyakitin gue lagi," Dia nendang meja dan berdiri.
Curtis denger suara ribut dan langsung masuk. "Tuan Martin!" Dia kaget, ngeliat Lendon ngucek-ngucek matanya yang kelihatan luka parah. "Ada apa, Tuan?"
Kendra ketakutan, dan sadar apa yang udah dia lakuin. Dia nyakitin Lendon. Ya ampun!
"Tuan Martin, mata Anda luka." Curtis nyamperin Lendon dan ngomong hati-hati.
"Pergi!" Lendon teriak. Curtis berhenti dan langsung pergi, ngehindarin amukan Lendon.
Lendon nyamperin Kendra dan ngangkat dia.
"Lo ngapain sih?" Kendra nanya keras, ketakutan.
Lendon nggak peduliin Kendra dan bawa dia ke kamar tidur rahasia.
Kendra ngerasa deg-degan banget. Dia tahu dia bener-bener bikin Lendon marah kali ini.
Lendon nutup pintu dan ngelempar Kendra ke kasur. Ada darah di sekitar matanya, bikin dia kelihatan serem.
"Tuan Martin, maaf. Saya nggak sengaja nyakitin Anda." Kendra natap Lendon dan mohon-mohon. Dia nggak bisa ngapa-ngapain selain minta maaf.
"Minta maaf? Lo nggak sadar tadi lo ganas banget." Lendon ngomong pelan. Kendra udah mukul dia tiga kali, dan dia udah nggak tahan lagi sama kelakuan cewek ini. Berani-beraninya cewek ini sering banget nantangin dia.
"Saya nggak sengaja nyakitin Anda, saya minta maaf." Kendra nangis dan mohon-mohon.
Lendon nyeringai dan tiduran di atas tubuh Kendra, ngusap-ngusap kulitnya lembut. "Gue cuma mau lo liatin gue. Lihat apa yang udah lo lakuin ke gue. Jangan malu, sayang." Dia bergumam.
"Saya nggak…" Kendra jawab, suaranya gemeteran.
"Apa? Gue nggak denger," Lendon nanya.
"Saya nggak ngindar dari tatapan Anda dan udah ngeliatin Anda," Kendra bohong.
"Pembohong!" Lendon nyubit kaki Kendra dan bilang nakal, "Boleh gue liat?"
"Apa? Lo, lo mau liat… lo gila ya?" Marah, dia teriak. Dia kejebak lagi sama tipu muslihatnya.
"Nggak mau? Apa gue salah denger?" Lendon nundukin kepalanya.
"..." Dia ngedumel marah.
"Nggak mau?" Lendon berbisik di dekat telinganya.
"Mau," Kendra terpaksa bilang iya, nerima kekalahannya.
Tanpa ragu, Lendon ngarahin tangannya ke daleman Kendra, ngusap-ngusap bagian pribadinya. "Nikmat?" Rintihan keluar dari mulutnya.
"Iya," Merem, Kendra harus bilang iya.
Lendon lanjut dan masukin tangannya ke bawah rok Kendra, ngeremes payudaranya yang kencang, "Gimana yang ini?"
Kendra merem erat, ngehindarin diri dari ngerintih lagi, dan bilang, "Iya." Gimana lagi, dia nggak punya pilihan.
"Lo bakal nyakitin gue lagi nggak?" Suara Lendon kayak nada yang indah, ngambil semua sisa kewarasannya. Dia seneng banget sama ekspresi wajah Kendra yang menggoda, tapi dia harus pura-pura serius.
"Nggak," Kendra langsung jawab.
Lendon mutusin buat ngebiarin dia pergi sebelum dia ngelakuin sesuatu ke dia. Dia ngontrol hasratnya, bangun, dan nyuruh, "Pergi. Panggilkan Alexis untuk gue."
"Apa?" Kendra buka mata dan nanya nggak percaya. Lendon barusan ngebiarin dia pergi?
"Lo nggak mau pergi? Lo mau sesuatu terjadi di antara kita? Gue seneng banget buat ngelayanin lo, sayang," Lendon ngelirik Kendra, senyum kayak anak kecil nakal. Kenapa Kendra kelihatan kaget banget? Apa dia beneran mikir dia iblis?
"Nggak," Kendra bilang dan ngapus air matanya. Dia lari keluar secepat mungkin.
Alexis dateng gak lama kemudian. Pas dia ngeliat muka Lendon, dia kaget banget. Setelah dia tahu Kendra yang bikin luka, dia natap Kendra beberapa saat dan mikir kenapa dia masih idup.
"Jangan liatin dia!" Lendon ngomel nggak sabaran. Nggak ada yang boleh natap ceweknya.
Alexis senyum dan ngebantuin Lendon ngurusin lukanya.
"Nggak parah kok. Jangan kena air ya. Nanti gue kasih obatnya," Alexis bilang ke Lendon.
"Makasih banyak, Alexis." Kendra lega, denger apa yang Alexis bilang, "Apa dia bakal punya bekas luka?" Dia natap luka itu khawatir.
Alexis ragu-ragu.
"Kalo gue punya bekas luka di muka gue, gue bakal lakuin hal yang sama ke lo. Lo pantes nerima itu." Lendon ngelirik Kendra dan ngancem dia.
"Saya minta maaf." Kendra minta maaf lagi. Dia cuma mau nakut-nakutin dia, tapi dia nggak nyangka bakal bisa mukul dia.
"Lo berani juga ya. Lanjutin terus," Alexis ngecengin.
"Mau mati?" Lendon ngancem Alexis.
"Cuma becanda! Siapa juga yang mau nerima hukuman lo? Gue masih pengen punya keluarga dalam waktu dekat," Dia bergumam sambil terus ngobatin luka Lendon.
Kendra nundukin kepala dan diem aja. Kalo dia tahu bakal kayak gini, dia nggak perlu sok berani. Tapi dia ngerasa nggak enak pas ngeliat gimana Lendon ngeliatin dia.
"Sekarang lo takut, ya? Tadi semangat banget mau nyakitin gue," Lendon bilang nggak seneng dan melotot ke Kendra, "Lo harus tanggung jawab atas perbuatan kejam lo. Kasih ke dia. Biarin dia ngelayanin gue," Lendon ngamuk.
Alexis mengangkat bahunya nggak berdaya dan ngasih kain kasa ke Kendra. "Hati-hati ya. Gue baru bersihin lukanya. Tinggal kasih salep dan balut aja." Dia pergi dan senyum pelan.
Kendra nyamperin Lendon dan ngebantuin dia ngasih salep dengan lembut.
Lendon nggak bisa lepas pandang dari Kendra. Jujur aja, pas Kendra pake seragamnya, dia kelihatan seksi dan hot banget. Lendon tertarik banget dan naruh tangannya di pinggang Kendra secara alami.
Kendra berontak dan nggak sengaja nyentuh luka Lendon lagi.
Lendon langsung teriak.
"Maaf." Kendra ngerasa ketakutan dan langsung minta maaf. Dia bener-bener nggak sengaja nyakitin dia kali ini.