Bab 66: Camilan Asin
Dia melotot ke arahnya, pengen banget marahin dia abis-abisan, tapi dia milih buat nahan emosinya.
"Kenapa gue?" Kendra ngeliatin Lendon dan nanya dengan putus asa.
"Karena gue suka sama lo tanpa mikir panjang." Wajahnya melembut, natap Kendra dengan berpikir.
Kendra ngerasa nggak berdaya. Lendon kayaknya udah kecanduan sama dia. Gawat banget. Gimana caranya dia bisa kabur dari Lendon nanti?
"Cepetan! Gue pengen banget nyobain camilan buatan lo sekarang." Lendon tiba-tiba ganti topik.
Kendra bikin camilan dengan pikiran nggak fokus dan masukin ke oven. Sepuluh menit kemudian, semuanya udah siap.
Lendon ngambil satu camilan dan nyicipin dengan senang. Tapi, dia langsung berenti senyum. "Kenapa? Nggak enak ya rasanya?" Kendra nanya dengan bingung. Dia tau camilannya mungkin nggak enak. Gimana nggak, dia aja susah konsentrasi daritadi.
"Nggak, enak kok." Lendon langsung jawab dan nyoba yang lain. Camilannya panas, tapi dia makan dengan anggun.
Kendra ragu dan pengen nyobain juga.
"Jangan dimakan." Lendon ngehentiin dia pas dia mau ngambil sedikit.
"Kenapa?" Kendra natap dia, bingung.
"Semuanya buat gue." Lendon ngeliatin dia dan ngomong kasar, "Taruh lagi. Jangan sentuh makanan gue."
"Tapi kan gue yang bikin," Kendra ngejawab dan langsung nelan satu. Tapi, sedetik kemudian, dia lari ke wastafel buat cuci tangan dan muntah.
"Kan gue udah bilang taruh lagi." Lendon nyusulin Kendra dan nepuk-nepuk punggungnya pelan. Dia juga ngasih segelas air putih buat dia abis itu.
Kendra kumur-kumur dan ngerasa lega pas rasa asinnya udah ilang.
"Kok lo bisa makan sih? Asin banget." Dia ngeliatin Lendon dan bilang nggak percaya.
"Gue suka," Lendon mengangkat bahu dan ngomong santai. Dia bahkan pengen nambah dan balik ke meja.
"Nggak! Rasanya nggak enak banget." Kendra cepet-cepet nyusul Lendon dan narik tangannya buat ngehentiin dia makan makanan yang tersisa. Pasti dia salah ngira garam jadi gula.
"Mau bikinin camilan baru buat gue nggak?" Lendon ngangkat kepalanya, ngeliatin wajahnya dengan penuh harap.
"Iya deh," kata Kendra dan ngebuang semua camilan ke tempat sampah. Terus, pas dia mau masang sarung tangan lagi, Lendon ngambil tangannya dan ngebawa dia keluar dari dapur.
"Nggak sekarang. Selama lo mau bikinin gue camilan, gue cuma bakal makan buatan lo." Dia ngomong pelan.
Ngeliatin Lendon, Kendra ngerasa agak campur aduk. Apa Lendon seriusan?
Lendon langsung bawa Kendra ke ruang kerjanya.
Pas mereka sampe, Kendra milih buat baca buku di dalem ruangan Lendon. Orang-orang dateng silih berganti buat laporan ke Lendon, dan pas mereka keluar, mereka selalu ngelirik ke arahnya. Tapi, Kendra udah biasa.
Bahkan, karyawan Lendon Group udah nerima kenyataan kalo bos mereka bakal bawa cewek ke kantor tiap hari, tapi mereka nggak bisa nahan hasrat buat ngelirik diem-diem ke arah dia.
"Pak Martin, kita udah mulai persiapan buat penawaran di LA. Dan waktu pembukaan Martin Mall bakal hari selasa depan." Seorang manajer senior laporan dan nunggu jawaban Lendon.
"Oke, kamu boleh pergi sekarang." Lendon nanda tangan dan ngasih kode buat dia cepet pergi.
"Siap, Pak," Manajer itu lari ke pintu.
Kendra fokus aja sama bukunya seolah-olah nggak ada orang di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian, Lendon ngambil bukunya. Kendra ngangkat kepala dan ngeliat Lendon berdiri di depannya.
"Kenapa?" Kendra senyum ke arahnya.
"Lo asik banget baca," Lendon ngeluh. Kendra bahkan nggak mau ngelirik dia daritadi.
Kendra pengen ngambil bukunya lagi tapi gagal. Dia ngelirik Lendon dan bilang, "Lo kerja aja sana. Gue nggak mau ganggu."
"Ulangi lagi?" Lendon melotot ke Kendra, kesel sama jawabannya.
"Harusnya gue berentiin lo kerja gitu?" Kendra natap Lendon polos dan monyongin bibirnya.
Sialan! Dia nggak tahan sama tatapan Kendra. Lendon ngelempar buku itu di depan Kendra dan bilang, "Baca aja sana!"
Kendra nunduk lagi dan lanjut baca.
"Gimana Baja Ditempa? Lo udah tua ya?" Lendon ngeliatin bukunya dan nanya. Dia baca buku itu pas umur delapan tahun.
Kendra tau Lendon lagi ngejek dia. Dia ngeliatin dia dan nggak bilang apa-apa.
"Apa? Lo nyumpahin gue?" Lendon narik dagu Kendra dan bilang, "Gue terlalu baik ya sama lo belakangan ini?"
Kendra nggak bisa berkata-kata. Gimana caranya dia bilang kalo dia benci banget diolok-olok?
Dia narik napas panjang, "Nggak ada apa-apa, kerjain aja tugas lo, bisa nggak sih?"
Lendon nunduk dan nyium dia dengan ganas. Mata Kendra tiba-tiba kebuka lebar dan cuma biarin dia nyelesaiin apa yang dia lakuin. Terus, begitu dia puas, dia ngelepasin dia.
Lendon harus ketemu klien lain pas jam makan siang. "Gue ada meeting makan siang nanti. Jadi gue bakal minta orang buat nyiapin makan siang buat lo," Kata dia, sambil ngelus pipinya pelan.
"Nggak usah repot-repot nyuruh staf lo buat bawain makan siang buat gue. Gue bakal ke kantin aja," Kendra bilang sebelum Lendon pergi. Dia pengen keluar.
Tapi, Lendon cepet nyadar maksud asli Kendra dan bilang, "Nggak, lo nggak boleh pergi dari sini."
"Lendon." Kendra mengerutkan kening, nggak berdaya.
"Gue bilang nggak." Lendon naikin alisnya dan keluar dari ruangan tanpa ngasih kesempatan buat dia debat.
Sejak Kendra bilang ke Lendon kalo dia pengen ninggalin dia suatu hari nanti, Lendon pengen ngontrol penuh dia, yang hampir bikin dia gila. Dia ngegaruk rambutnya dengan kesel dan mikir gimana caranya dia bisa bikin Lendon ngelepasin dia.
"Mbak Miller, ini makan siang Anda." Curtis masuk, bawain makanan buat dia.
Kendra ngeliatin makan siangnya dan ngerasa sedih.
"Curtis, gue ngerasa kayak tahanan di sini." Dia ngejawab, ngeliatin tiap gerakannya.
"Lo nggak perlu pesimis gitu." Curtis ngelirik dia, senyum.
"Cuma bercanda kok." Kendra meralat perkataannya.
"Lo kayaknya lagi nggak enak ya belakangan ini. Kenapa?" Curtis ngadep dia setelah naro makanan di meja tengah.
"Curtis, kenapa gue?" Kendra senyum getir, mata penuh kesedihan.
"Apa?" Curtis nanya dengan bingung.
"Gue mikir terus. Kenapa Lendon nggak bisa suka sama orang lain? Kenapa gue?" Kendra megang dagunya dan nanya, "Dia kan kaya dan ganteng. Banyak banget cewek yang pengen deket sama dia. Jadi kenapa dia milih gue?"
"Lo nggak butuh alasan buat cinta sama seseorang, Mbak Miller," Curtis jelasin, terkekeh.
"Hmm, gue nggak kaya kayak dia! Gue ngerasa nggak pantas buat dia," Kendra ngalihin pandangan, "Dan gue nggak suka sama dia. Harus gimana dong?"
"Kenapa lo nggak suka sama dia? Pak Martin itu sempurna. Dia punya semua yang ditawarin hidup," Curtis natap dia serius.
"Curtis, lo pernah cinta sama seseorang?" Kendra nanya tiba-tiba.
"Pernah," jawab Curtis.
"Lo masih cinta sama dia?" Kendra nembak pertanyaan lagi.
"Iya."
"Nggak ketemu yang lebih baik dari dia selama bertahun-tahun ini?"
"Pernah, tapi..."
"Lo ngerti kan sekarang?" Kendra motong Curtis dan nanya.
"Kalo lo cinta sama seseorang, nggak ada ruang buat orang lain." Akhirnya, Curtis ngerti pertanyaan Kendra dan bilang.
"Lo bener." Kendra ngangguk, "Lagian, Lendon dan gue berasal dari dunia yang beda. Gue inget lo bilang Lendon bakal jadi keturunan tahta selanjutnya. Gue nggak akan pernah bisa jadi cewek yang pantas buat jadi pasangan hidup dia." Lendon lahir buat jadi seorang duke. Gimana caranya dia bisa sama dia? Kendra bahkan nggak akan punya delusi ini.
"Tapi Pak Martin hampir nggak pernah berubah pikiran." Curtis mengangkat bahunya nggak berdaya.
"Beneran?" Kendra nanya dengan penasaran, "Biasanya dia bakal sama satu cewek itu berapa lama?"
"Um, tiga bulan, kayaknya." Curtis mikir beberapa detik dan ngejawab.
"Tiga bulan," Kendra ngulang.
"Lo mau ngapain, Mbak Miller?" Curtis bingung pas denger dia.
"Gue bakal bikin dia benci sama gue." Kendra bilang tanpa ragu, "Biar gue bisa pergi lebih cepet."
Curtis nggak bisa berkata-kata. Dia tau banget kalo Kendra beda dari cewek lain. Lendon nggak nganggep dia sebagai partner seks. Jadi rencana Kendra bakal gagal.
Setelah makan siang, Kendra ngecek meja Lendon sebelum dia balik dan nemuin file penting. Dia duduk di kursinya dan sengaja ngegambar di atasnya, ngerasa enak banget.
Nggak lama, Lendon balik sama sekretarisnya, yang lagi laporan ringkasan meeting. Tiba-tiba, Lendon berenti langkahnya dan ngelirik dia. "Lagi ngapain?" Dia nanya.
"Lagi ngegambar sesuatu." Kendra nunjukin file itu ke Lendon. Dia ngegambar Lendon versi kartun. Satu marah, satu sedih, dan satu lagi ketawa.
"Gimana? Gue nggak nemu kertas item, jadi gue pake file lo aja." Kendra senyum dan bilang. Dia lagi nunggu Lendon marah.
"Bagus." Lendon senyum dan nyamperin dia.
Apa? Kendra nggak percaya sama telinganya.
"Bagus kok." Lendon ngeliatin gambar Kendra dan mengaguminya.
Sekretaris ngeliat file itu, dan wajahnya langsung pucet. "Pak Martin, ini dokumen penawaran..." Dia ngingetin.
"Gue tau." Lendon ngelirik sekretaris dan bilang, "Suruh mereka bikin yang baru."
"Apa?"
"Nggak denger?" Lendon nanya dingin.
"Denger kok. Saya bakal bilangin sekarang." Sekretaris bilang dan keluar dari ruangan dengan terburu-buru. Apa Pak Martin udah gila? Mbak Miller ngerusak file penting kayak gitu, dan kok dia bisa setenang itu?
Jangankan sekretaris Lendon, bahkan Kendra ngerasa kaget. Dia ngeliatin Lendon nggak percaya dan nanya, "Gue ngerusak file lo. Kok bisa..."
"Nggak papa," Lendon senyum dan bilang, "Lo ngegambar gue, itu yang paling penting!" Kemana pun Kendra ngegambar, dia mikirin dia. Itu udah cukup.
Kendra ngusap dahinya dan ngerasa nggak berdaya.
Lendon bakal ngelirik gambar Kendra tiap beberapa menit dan senyum puas selama sore itu.
Kalo bisa, Kendra bakal ngambil pembuka surat dan nyayat muka Lendon.
Dalam satu jam, seluruh perusahaan tau kalo Kendra ngerusak dokumen penawaran mereka.
Pas Lendon dan Kendra keluar dari gedung pas senja, semua orang ngelirik Kendra diem-diem. Mereka harus lembur gara-gara dia.
Kendra ngerasa kesel banget. Siapa sangka Lendon nggak marah sama sekali? Dia juga ngerasa aneh.