Bab 16: Untuk Mengancamnya
Dengan berjinjit, dia berjalan lebih dekat ke lab.
"Kamu pembohong!" Lendon berteriak, "Kamu gak tau apa yang ada di dalam dirinya atau gimana cara memperbaikinya. Kamu cuma nyuruh aku buat gak nyentuh dia. Omong kosong! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku?"
Alexis mengusap dahinya dan melihat labnya yang berantakan. "Mr. Martin, aku cuma nyaranin kamu buat jauhan dari Miss Miller, tapi kamu masih bisa milih cewek lain." Katanya.
Kata-kata Alexis mengingatkan Lendon, dan Kendra juga mendengarnya. Lendon gak boleh nyentuh dia? Pantesan Curtis nyela Lendon tadi. Ternyata Lendon gak bisa tidur sama dia. Tapi kenapa?
"Mr. Martin, masalah di dalam tubuh Miss Miller akan memicu racun kamu kecuali pas bulan purnama. Kalau kamu gak bisa ngontrol diri, racunnya bisa makin parah. Kamu mungkin akan lebih sering kambuh. Aku yakin kamu udah tau risikonya," Alexis menjelaskan dengan tenang.
Racun di dalam tubuh Lendon udah numpuk seiring waktu. Dia jadi makin agresif. Kalau racunnya gak bisa dikontrol atau dihilangin, itu bakal ngaruh ke kehidupan sehari-hari Lendon cepat atau lambat dan mungkin bakal ngerusak citra baiknya kalau publik tau.
Denger kata-kata Alexis, Lendon jadi lebih tenang. Tapi dia masih keliatan kesel.
Kendra akhirnya ngerti apa yang terjadi. Lendon harus jaga jarak dari dia karena racunnya. Itu berita bagus banget buat Kendra. Setidaknya, dia gak bisa tidur sama dia terus-terusan. Kendra seneng banget sampe gak sengaja kejedot kusen pintu. Untungnya, Lendon gak nyadar. Kendra langsung pergi.
"Gak papa. Cari cara secepatnya. Jangan sampe orang lain tau soal ini," kata Lendon dan balik lagi ke kamarnya.
Alexis menghela napas dan duduk di sofa. Ngeliatin kekacauan itu, dia ngerasa gak berdaya. Kayaknya Kendra satu-satunya solusi, tapi dia harus cari tau apa yang ada di dalam tubuh Kendra yang bisa memicu peningkatan racun Lendon yang cepet. Kalau kondisi Lendon makin parah, dia bisa makin berbahaya.
Tanpa gangguan dari Lendon, Kendra tidur nyenyak sepanjang malam. Pas dia bangun keesokan harinya, udah jam 9 pagi. Dia gak ada kelas hari ini, tapi dia tetap nyuruh sopirnya buat nganter dia ke sekolah. Dia gak mau tinggal di kastil.
Pas Kendra turun dan pamit sama sopir, dia tiba-tiba ngeliat orang yang gak mau dia temuin. Kok bisa dia ada di sini? Kendra bingung. Gak lama, teleponnya bunyi. Kendra ngeliatnya dan liat nama Marga. Marga emang dateng buat nyari dia. Oke, Kendra mutusin buat nanya Marga soal kehamilannya. Dia matiin telepon dan jalan ke Marga dengan senyum sinis.
"Ngapain kamu kesini?" Kendra berdiri di belakang Marga dan nanya dengan dingin.
Marga berbalik dan ngeliat Kendra dari atas sampe bawah. "Aku gak nyangka kamu keliatan lebih bagus dari pas kamu di rumah. Aku anggap semua baik-baik aja akhir-akhir ini," katanya dengan sinis.
"Makasih. Pokoknya, aku akhirnya ninggalin rumah menjijikkan itu dan dapet kebebasanku," kata Kendra sarkas.
"Bianca bilang ke aku kalau Michael balik beberapa hari lalu dan makan malem sama dia. Kamu juga ngeliat dia hari itu," Marga mencibir dan berkata. Dia natap Kendra dan pengen liat ekspresinya.
"Kamu mau bilang apa? Langsung aja," kata Kendra. Dia gak ada niatan buat buang waktu sama Marga.
"Aku yakin kamu tau apa yang mau aku bilang. Aku mau kamu jauhan dari kita. Waktu ayahmu ngusir kamu dari keluarga kita, kita udah jelas. Bianca bakal nikah sama Michael. Mending kamu gak ngapa-ngapain, atau aku bakal nyiapin hadiah yang lebih besar buat kamu," Marga ngancem dia.
Ternyata Marga dateng buat ngasih peringatan.
"Gak usah khawatir. Aku gak bakal. Aku sama sekali gak tertarik," Kendra tersenyum dan berkata.
"Mending kamu jujur," kata Marga. Dia gak nyangka Kendra setuju semudah itu.
"Aku mau nanya sesuatu sama kamu. Sebulan lalu, kamu nyuruh orang buat nyerang aku?" Kendra natap Marga dan nanya.
"Oh, kamu pinter juga dan tau soal itu, ya?" Tanpa ragu, Marga ngakuin perbuatannya, "Iya. Itu rencana aku."
Marga punya rencana yang sempurna. Dia nyuruh orang buat nyerang Kendra, bikin laporan palsu, bilang Kendra hamil. Akhirnya, Kendra diusir.
"Selama bertahun-tahun ini, kamu udah jadi aib buat aku. Keberadaanmu mengingatkan aku sama ibumu. Dia jalang," Marga dengan bangga ngumumin.
Kendra kesel. "Marga, kamu boleh benci aku, tapi ibuku gak bersalah. Kamu gak akan pernah bisa dibandingkan dengannya," katanya dengan dingin.
"Apa bagusnya ibumu yang udah meninggal? Kalau bukan karena dia, aku udah nikah sama ayahmu lebih awal. Aku gak perlu hidup sama Bianca sendirian selama bertahun-tahun," kata Marga dan natap Kendra dengan tajam. Dia pikir itu kesalahan Fatima.
Namun, kata-kata Marga kedengeran konyol banget buat Kendra. "Gimana bisa kamu ngomong gitu? Kamu cuma simpanan. Kalau ibuku masih hidup, kamu gak akan pernah bisa nikah sama ayahku," kata Kendra dengan sinis.
Kalau bukan karena bantuan Fatima, Robert akan tetap jadi orang miskin. Dia gak akan dapet reputasi dan kekayaannya, apalagi selingkuh sama wanita lain.
Marga tau semuanya dengan baik, tapi dia gak mau Kendra ngomongin itu. Denger kata-kata Kendra, Marga mengepalkan tangannya dan berusaha mengendalikan amarahnya.
"Kamu bener-bener anak yang baik dari ibumu," Marga natap Kendra dengan tajam dan berkata, "Pokoknya, kamu bukan lagi bagian dari Miller sekarang. Kamu gak bisa nghentiin aku lagi."
Kendra gak bilang apa-apa. Selama bertahun-tahun ini, Marga pura-pura jadi ibu tiri yang baik. Untungnya, dia sekarang tau wajah asli ibu tirinya. Kendra pikir dia terlalu bodoh percaya Marga adalah wanita yang baik.
"Aku kesini buat ngasih peringatan. Bisakah kamu jauhan dari Michael dan kita? Kamu gak akan pernah bisa dapetin dia," Marga mencibir dan berbalik.
"Marga," Kendra tiba-tiba memanggil.
Marga berhenti berjalan dan berbalik dengan bingung.
"Aku lupa ngasih tau kamu. Michael udah tau rencana kamu. Dia juga tau siapa aku. Kita udah ngobrol beberapa hari yang lalu," Senyum kemenangan muncul di wajah Kendra.
"Apa?" tanya Marga dengan kaget.
"Rencana kamu kayaknya gak sempurna. Kamu bahkan gak bisa bohong sama Michael. Kamu pikir keluarganya gak akan tau kebenarannya?" kata Kendra, "Aku harus pergi sekarang. Kalau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu di masa depan, jangan lupa kasih tau aku. Aku bakal ketawa bahagia ngeliat kejatuhanmu."
Marga mau ngancem dia? Gak mungkin! Dia bukan orang bodoh lagi, pikir Kendra.
Kendra masuk ke kampus dengan cepat. Marga gak ngikutin dia. Sesuai dengan kejahatan Marga, dia harus cari cara lain buat menjebak Kendra setelah hari ini. Tapi Kendra gak takut sama dia. Ibu Kendra pernah bilang ke dia kalau kebaikan dan keberanian bisa ngalahin semua kesulitan. Kendra percaya kalau ibunya bakal ngejaga dia di surga. Marga akan dihukum suatu hari nanti.