Bab 20: Apakah Dia Gelandangan Sekarang?
Udah lewat jam sepuluh malam, dan bosnya nyamperin dia, "Kendra, udah malem banget. Kamu boleh pulang sekarang. Makasih banyak udah bantuin aku beberapa hari ini."
"Santai aja, kok. Aku malah yang berterima kasih udah diterima kerja paruh waktu. Aku pulang dulu, ya."
"Oke, hati-hati, ya."
Kendra keluar dari toko kue sambil senyum bahagia. Dia dapet ratusan dolar beberapa hari ini. Walaupun gak seberapa, Kendra udah puas. Setidaknya, dia udah deket sama kesuksesannya.
Kendra ngeliat ke langit dan sadar udah malem banget. Dia udah pulang terlalu malem beberapa hari ini. Lendon gak nemuin dia kemarin. Kendra berharap dia masih sibuk hari ini.
Waktu taksi mendekati hutan, supirnya berhenti dan bilang, "Ini tanah pribadi. Saya gak bisa lanjut lagi. Ada yang nyuruh saya berhenti."
"Hah? Biasanya, kita bisa masuk. Ada apa, sih?" kata Kendra bingung.
"Kayaknya, mbak harus turun di sini aja," kata supirnya.
"Oke," kata Kendra sambil bayar tagihannya. Dia turun dan jalan ke kastil. Begitu dia deket sama kastil, salah satu penjaga berhentiin dia.
"Kamu gak boleh masuk."
"Kamu gak kenal aku?" Kendra nunjuk dirinya sendiri dan jelasin, "Aku tinggal di sini. Coba tanya Curtis."
"Kami kenal, kok. Tapi Tuan Martin nyuruh kami buat ngehentiin kamu di sini," kata seorang penjaga.
Kendra akhirnya nyadar apa yang terjadi. Itu pasti Lendon.
Kendra ngeliat kastil dan nyibir, "Oke deh." Dia balik badan dan pergi. Siapa juga yang mau balik ke sangkar ini? pikirnya.
Lendon duduk di ruang kerjanya dan ngerasa gak sabar. Dia ngetok-ngetok meja secara teratur buat ngontrol emosinya. Dia udah nunggu lama, tapi Kendra tetep gak balik-balik. Perginya cewek itu ke mana, sih? Dia nanya dalam hati, ngerasa kesel, mikir Kendra makin keras kepala akhir-akhir ini.
Tiba-tiba, Lendon nepuk meja dan teriak, "Curtis!"
"Tuan," Curtis masuk dan bilang.
"Kendra belum balik juga?" tanya Lendon, mukanya murung.
"Nona Miller baru balik beberapa menit yang lalu, tapi..." Curtis ragu-ragu; dia bingung mau ngomong apa, tau gimana emosinya Lendon.
"Dia di mana sekarang?" Lendon nuntut.
"Dia pergi," Curtis nunduk, ngomong dengan tenang.
"Apa?" Lendon berdiri dan teriak, "Sialan! Dia di mana sekarang?" Dia nendang vas bunga dan mengerutkan dahi. Bagus, Kendra berani gak balik dan bikin dia emosi.
"Dia perginya kapan?" tanya Lendon.
"Beberapa menit yang lalu," jawab Curtis.
"Bawa dia balik! Sialan! Dia bikin aku naik darah!" Lendon ngelempar vas bunga lain dan teriak.
Curtis ngeliat vas bunga mahal yang pecah itu dan menghela nafas. Dia ngangguk dan keluar.
Kendra jalan-jalan di jalanan dan entah kenapa ngerasa sedih. Dia gak bisa balik ke kastil atau sekolahnya. Udah terlalu malem. Apa dia gelandangan sekarang? Lendon kejam banget. Sekarang dia udah ngusir dia, apa dia bakal balik lagi ke kastilnya? Kalo dia gak perlu balik lagi selamanya, ya bagus. Dia bebas. Lagian, itu tujuan utamanya. Tapi, mau ke mana sekarang?
Waktu Kendra ngelewatin toko, dia tertarik sama boneka yang dipajang di rak.
"Cantik banget!" Kendra menghela nafas. Tapi, dia denger ada orang ngomong persis kata-kata itu dengan nada datar. Dia noleh dan ngeliat Michael berdiri di belakangnya.
"Michael!" Kendra kaget ngeliat dia.
"Iya, ini aku," Michael senyum ke dia. Dia masukin tangannya ke saku dan ngangkat alis ke Kendra.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Kendra. Kok dia bisa muncul tiba-tiba, sih?
"Aku udah ngikutin kamu dari tadi. Kamu terlalu fokus sama pikiranmu sendiri dan hampir gak sadar sama sekitarmu," kata Michael santai.
"Kenapa kamu ngikutin aku?" Kendra mundur selangkah dan nanya dengan hati-hati.
"Waktu aku keluar dari kantor, aku ngeliat kamu jalan-jalan sendirian. Aku penasaran, jadi aku ikutin deh," jelas Michael.
"Kamu baru selesai kerja?" Kendra ngerasa lega dan nanya.
"Iya, tau sendiri, kan, kalo udah jadi bos, gak bakal bebas," Michael senyum dan bilang, "Kenapa kamu gak pulang? Udah malem banget, nih."
Pulang? Mau pulang ke mana, sih? Kendra senyum kecut dan bilang, "Cuma mau jalan-jalan bentar aja." Dia gak mau ngasih tau Michael apa yang terjadi.
"Kayaknya kamu gak lagi jalan-jalan, deh. Kamu diusir, ya?" Michael nebak. Dia kan pengacara. Jadi dia tau Kendra bohong pas ngeliat ekspresi dan reaksinya.
Kendra ngerasa canggung dan tersipu.
"Kamu gak punya tempat buat pulang, ya?" suara Michael kedengeran lagi.
"Udah malem. Aku harus pergi sekarang," kata Kendra dan balik badan. Dia gak mau buang waktu sama Michael.
"Jangan pergi," Michael ngehentiin Kendra dan bilang, "Kalo kamu gak punya tempat buat pulang, kamu bisa nginep di apartemenku malam ini. Bahaya kalo kamu jalan sendirian di luar."
"Aku bakal aman di apartemen kamu?" tanya Kendra.
"Tentu aja, setidaknya, aku gak bakal nyakitin kamu. Aku kan tunanganmu, inget," Michael ngasih senyum hangat ke dia.
"Aku udah bilang, Bianca sekarang tunanganmu," Kendra nyibir dan bilang. Dia jalan melewati Michael dan jalan terus.
"Aku gak terima. Kita kan tunangan sejak kecil. Kenapa kamu biarin adekmu gantiin kamu?" Michael ngikutin Kendra, berusaha bersikap tenang.
"Bukan aku. Ayah gak mau aku nikah sama kamu. Lagian, aku bukan lagi Miller. Gimana bisa aku nikah sama kamu?" Kendra berhenti, ngeliatin Michael, dan bilang pasrah.
"Kamu peduli sama identitasmu?" Michael bingung nanya.
"Iya," Tanpa ragu-ragu, dia jawab. Dia gak mau pernikahan yang gak direstui dari awal. Dia bahkan gak tau apa-apa tentang Michael sebelumnya. Gimana bisa dia nikah sama dia?
"Itu bukan masalah," Michael berusaha meyakinkan dia.
"Kok bisa?" Dia gak percaya sama apa yang dia denger.
"Kalo kamu nikah sama aku, kamu bakal kaya dan punya status bangsawan. Kamu gak perlu khawatir lagi sama identitasmu," Michael ngangkat alis dan bilang dengan serius.
"Kamu serius?" Kendra mengerutkan dahi, gak percaya sama apa yang dia denger.
"Tentu aja!" kata Michael.
"Aku udah bilang, aku gak mau nikah sama kamu. Kalo kamu gak suka Bianca, temuin ayahku dan bilang langsung. Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku punya rencana sendiri dalam hidup. Jangan ganggu aku, ya," mohon Kendra.
"Tapi aku mau nikah sama kamu," Michael natap Kendra dan bilang keras kepala.
Kendra bingung. Maksudnya apa, sih?
"Ini punya kamu, kan?" Michael ngambil jimat dari sakunya dan nunjukin ke dia.
"Kok bisa ada di kamu?" Kendra kaget dan pengen ngambil balik.
Tapi, Michael mundur dan bilang, "Sekarang ini punya aku."
"Bajingan! Balikin ke aku!" Kendra melotot ke Michael dan protes.
"Kita gak perlu bahas soal tunangan sekarang. Udah malem. Mending kamu cari tempat buat nginep. Apartemenku deket. Gimana, kita pergi aja?" Michael gak peduli sama dia.
"Gak mau," Kendra langsung nolak.
"Jangan salah paham. Aku bakal ninggalin kamu di sana sendirian. Bukan gayaku buat manfaatin cewek, apalagi kalo dia penting buat aku," jelas Michael.
Kendra ngerasa pusing. Kalo dia nolak saran Michael, dia harus nginep di hotel, yang berarti dia harus bayar. Tapi, kalo dia ke apartemen Michael…
"Jangan khawatir. Aku gak bakal nginep di sana. Kamu bakal aman," Michael janji lagi.
Kendra ragu-ragu sebentar dan akhirnya mutusin buat nerima bantuan Michael. "Makasih," katanya,
"Ayo, ikut aku. Aku bakal anter kamu," Michael senyum dan jalan duluan.