Bab 9: Berutang Padanya
Pas Curtis pergi, Kendra sendirian. Dia duduk di kasur dengan lesu dan nangis sesenggukan. Dia udah kotor sekarang. Harus gimana nih? Gimana nanti dia bakal ketemu tunangannya? Gimana dia bisa jadi pengantinnya? Dia kesel banget.
"Maafin aku..." Kendra nangis sambil bergumam. Dia makin putus asa. Udah 15 tahun. Apa tunangannya ninggalin dia? Apa pertunangan mereka cuma bercandaan? Kendra nyemplungin dirinya dalam kesedihan dan ngeliatin keluar jendela. Setelah lama, akhirnya dia tenang.
Dia ngapus air matanya dan pengen berdiri. Pas itu, seorang pembantu masuk.
"Nona Miller, biar saya bantu." kata pembantu itu.
Kendra ngangguk dan gak ngomong apa-apa. Dia turun ke bawah setelah bersihin diri.
Lendon duduk di meja makan dengan anggun dan menikmati makanannya.
Ngeliat Kendra muncul, Curtis ngangguk sopan ke dia dan ngajak dia duduk.
Kendra cuma berdiri di depan Lendon dan natap dia. "Tuan Martin, kita perlu ngomong." Dia langsung ngomong.
Dibanding semalem, Lendon keliatan lebih menonjol dan beneran gentleman sekarang. Keanggunan terpancar dari gerakannya yang halus.
"Oke," Lendon berhenti makan dan ngelap mulutnya pake serbet. Dia ngeliatin Curtis. Dengan cepet, Curtis ngerti apa yang diinginkan Tuannya.
Curtis nyamperin Kendra dan ngasih map ke dia. "Nona Miller, ini kontraknya. Tolong dilihat."
Kendra bingung, ngeliatin Curtis dan nanya, "Kontrak apaan nih?" Dia ngerasa ada yang gak beres dan mengerutkan dahi.
"Tuan Martin nyuruh pengacara profesional buat nyiapin kontrak ini sesuai dengan situasi kamu sekarang. Kontrak ini bakal selesai kalau tesnya udah selesai." Curtis ngejelasin singkat.
Kendra ngeliatin kontraknya dan marah. Dia ngelempar kontrak itu ke lantai dan teriak, "Aku gak mau tanda tangan. Lepasin aku!"
Lendon gak ngomong apa-apa dan gak peduli sama rengekan dia.
Curtis senyum dan ngambil kontraknya. "Jangan marah, Nona Miller. Kalau kamu gak puas, kita bisa bikin beberapa perubahan."
"Bukan masalah kontraknya. Kenapa aku harus tanda tangan? Kamu gak bisa maksa aku." Kesel, dia ngejawab. Kemarahannya udah di ubun-ubun.
"Kita gak akan maksa. Ini keputusan kamu mau tanda tangan atau enggak." Curtis menekankan, "Tapi kalau kamu nolak tanda tangan, kita tetep gak bisa ngelepas kamu."
Kendra kesel banget. Dia nyamperin Lendon dan ngegenggam tangan kanannya, "Lendon, kamu gak bisa maksa aku!"
"Kamu mau tanda tangan atau enggak?" Lendon ngelirik tangan Kendra yang ngegenggam erat tangan kanannya, terhibur sama keras kepalanya.
"Gak mau. Kamu sakit!" Kendra bersikeras. Kalau dia tanda tangan, dia harus ngelakuin semua yang diperintah Lendon. Gimana dia bisa ngejual dirinya ke Lendon? Apa bedanya Lendon sama setan?
Denger jawaban Kendra, Lendon gak marah. Malah, dia senyum dan dengan tenang ngejawab, "Sayang, aku tau kamu pengen pergi dari sini dan pergi ke luar negeri. Kalau kamu tanda tangan, aku bakal bantu kamu. Kamu bisa milih universitas terkenal di luar negeri dan ngejauhin keluargamu selamanya. Kalau kamu gak tanda tangan, kamu harus tinggal di sini selamanya. Pilihannya ada di kamu."
Apa Lendon ngancem dia? Kendra kesel banget, ngelepasin genggamannya di tangan Lendon, dan ngepelin tangannya kuat-kuat. "Kamu sakit! Kamu sakit! Gak, aku gak akan tanda tangan." Dia teriak keras-keras. Bahkan kalau Lendon ngebunuh dia, dia gak akan tanda tangan. Curtis nahan napasnya pas denger kata-kata Kendra. Dia takut buat dia tapi juga mengagumi dia karena punya keberanian buat nolak Tuannya.
Kendra muter badan dan pengen pergi, tapi gak sengaja nyenggol beberapa mangkok mahal di deket situ dan pecah berantakan pas kena lantai.
Denger suara yang gak salah lagi itu, semua orang kaget. Kendra ngeliatin pecahan-pecahan itu dan tau dia bikin masalah.
Semenit, gak ada yang ngomong dan nunggu reaksi Lendon. Semua orang nahan napas dan mikir Lendon bakal ngamuk.
Anehnya, Lendon cuma berdiri dan nyamperin Kendra sambil senyum. Dia ngeliatin dia dan dengan tenang ngomong, "Sayang, kamu tau gak kalau aku bayar 20 juta dolar buat beli mangkok-mangkok ini. Kamu baru aja mecahinnya. Gimana kamu mau gantiinnya, pake uang tunai atau kartu kredit?"
Ketakutan, Kendra gak ngejawab dia. Dia gak bisa nemuin kata-kata buat ngomong.
Lendon ngulurin tangan kanannya dan ngegenggam belakang leher Kendra. Dia ngerasa makin deket, napas mereka bersentuhan, dan berbisik, "Sayang, kamu bisa bayar semuanya ini?" Lendon ngangkat alisnya sambil ngeliatin wajah Kendra yang ketakutan. Dia tau kalau keluarga Kendra ninggalin dia, dan dia cuma anak kuliahan miskin sekarang.
Kendra panik. Bahkan pas dia diusir dari keluarganya, dia gak ngerasa sesedih ini. Gimana bisa mangkok-mangkok ini semahal itu? Tiba-tiba dia pengen nangis. Robert gak akan pernah ngasih dia uang sebanyak itu buat bayar, apalagi dia udah bukan anaknya lagi.
"Aku bakal tanda tangan kontraknya," Kendra cepet-cepet ngejawab dan ngegigit bibirnya. Dia harus nyerah.
"Tapi aku gak mau sekarang," Lendon ngejek.
"Maksudnya?" Kendra mengerutkan dahi dan pengen ngejitak wajah gantengnya.
Dia ngelepasin dia, "Curtis, suruh pengacara ubah kontraknya dalam waktu 20 menit. Bikin daftar semua yang harus dia lakuin. Jangan lupa harganya." Lendon bercerita.
Lendon pengen Kendra bayar kerusakan dengan kerja sama dia. Dia gak akan biarin cewek kecil ini kabur dari cengkeramannya.
Dalam beberapa menit, Kendra sekarang punya utang besar karena kecerobohannya.
Setelah 20 menit, Kendra dapet kontrak barunya. Dia tanda tangan tanpa ragu dan ngasihnya ke Lendon.
Puas, Lendon ketawa dan ngejek dia lagi, "Bagus! Curtis, masukin dia ke dalam."
Kendra ngeliatin Lendon dan bingung. Dia tiba-tiba punya firasat buruk. Maksudnya apa?
Curtis nyamperin Kendra dan senyum. "Nona Miller, mulai hari ini, kamu adalah seorang pembantu." Dia ngomong.
"Pembantu?" Kendra nanya gak percaya dan nunjuk dirinya sendiri. Gimana dia bisa jadi pembantu secepet ini?
"Lendon! Bajingan! Kamu ngelakuin ini sengaja!" Dia teriak. Terhibur, Lendon ngangkat bahunya.
Curtis ngasih Kendra seragam dan ngomong, "Iya. Kontraknya bilang jelas kalau kamu bakal kerja sebagai pembantu mulai sekarang. Tuan Martin bakal ngasih kamu gaji yang cukup. Tapi di saat yang sama, tanggung jawabmu juga spesial."
"Sepesial gimana?" Kendra nanya marah.
"Kamu bisa liat di kontraknya," Curtis ngingetin dia.
Kendra nge-browse kontraknya cepet-cepet dan ngeliat tanggung jawab spesialnya: Menerima semua jenis tes dan kerja sama dengan pengobatan Lendon.
"Ini konyol!" Dia malah makin marah dan teriak, "Maksudnya apa kontrak ini? Dijebak? Apa ini termasuk tidur sama dia setiap bulan?"
"Kamu punya utang sama aku sekarang. Kamu gak punya pilihan. Kalau kamu gak bisa penuhi kontraknya, aku bisa hukum kamu. Itu juga termasuk di dalamnya." Lendon ngomong santai.
Apaan sih? Kenapa dia gak ngecek klausul kontraknya dulu? Kendra ngerasa susah napas dan nyender di meja.
"Kendra, ini seragam kamu." Curtis ngingetin dia lagi.
Kendra narik napas dalem-dalem dan ngomong, "Tuan Martin, aku punya satu syarat."
"Apa?" Lendon ngeliatin dia lurus.
"Kontraknya bilang kalau aku bisa sekolah dari Senin sampe Jumat. Aku cuma bisa di sini pas akhir pekan." Kendra ngomong.
"Gak bisa." Lendon ngegenggam dagu Kendra dan ngomong, "Kamu harus balik setiap hari."
"Tapi..."
"Penolakan gak diterima. Aku bakal atur supir buat kamu," Lendon motong omongannya. Dia gak akan biarin Kendra nolak permintaannya.
"Oke deh." Kendra menghela napas dan nyerah.
"Keluar dari sini sekarang." Lendon senyum dan ngomong. Tapi sebelum Kendra bisa pergi, dia ngegenggam dia lagi dan nyium bibirnya. Gak peduli ada semua orang di sekeliling mereka.
Kaget, Kendra cuma bisa dorong dia, dan dia ngerasa gak enak sama cara dia memperlakukannya. Dia jadi pembantunya. Walaupun dia gak perlu kerja banyak, dia udah gak bebas lagi. Dia ngumpat Lendon beberapa kali dalam pikirannya.
***
Senin, Kendra bangun pagi-pagi. Dia punya kamar sendiri, beda sama pembantu lainnya. Setelah sarapan, Kendra pergi ke sekolah.
Sekolah Hukum Harvard terkenal banget, jadi kampusnya selalu rame. Mobil mewah Kendra gak narik banyak perhatian. Lagian, sekolah gak pernah kekurangan murid kaya.
Kendra turun dan berterima kasih sama supirnya, terus dia balik badan buat pergi.
"Nona Miller," Supir manggil Kendra dan ngomong sopan, "Tuan Martin nyuruh saya buat jemput kamu jam 6 sore."
"Aku tau," Kendra ngomong. Mau kemana lagi dia? Lendon gak harus ngawasin dia se-intens ini.