Bab 56: Apakah Kamu Berhubungan?
Curtis berbalik, "Tuan, mereka semua udah pergi."
Lendon megangin pinggang Kendra dan nanya, "Sarapan udah siap?"
"Udah, Tuan," Curtis ngangguk.
"Yuk," kata Lendon, terus jalan ke ruang makan bareng Kendra.
Pas sarapan, Kendra diem-diem ngelirik Lendon dari waktu ke waktu sambil cemberut. Kayaknya dia lagi mikirin sesuatu.
"Kalo mau liatin gue, jangan malu-malu. Gue punya lo sepenuhnya," Lendon naikin alis dan ngegodain dia.
Kendra jadi salah tingkah dan nundukin kepalanya.
"Kendra." Lendon tiba-tiba manggil dia.
"Iya?"
"Liat gue," kata Lendon.
Kendra natap Lendon dengan bingung.
Lendon nyamperin Kendra dengan cepet dan nyium dia. "Anak pinter." Abis itu dia ngelus bibir Kendra pake tangannya.
Kendra cuma bisa diem dan ngusap jidatnya. Abis sarapan, dia kira bakal kerja bareng Lendon, tapi Curtis ngasih dia selembar kertas.
"Nona Miller, ini tugas kamu hari ini," kata Curtis.
Kendra ngeliat kertas itu dan jadi penasaran. "Maksudnya?" dia nanya.
"Kamu harus belajar semua itu." Lendon naro pisaunya dengan anggun, natap dia dengan serius.
"Gimana caranya gue belajar masak 30 macem makanan dalam sehari? Terus gue juga harus belajar dandan, tata krama, dan etiket fashion?" Matanya gede.
"Gue mau kamu siapin makanan buat gue sendiri. Tapi, buat yang lain, kamu butuh mereka buat ningkatin diri kamu," Lendon ngejelasin dengan simpel.
"Nggak mau," Kendra nolak. Bakal makan banyak waktu buat belajar semua tugas ini.
"Nggak harus selesaiin semua pelajaran hari ini. Santai aja," Lendon nyenderin punggungnya ke kursi empuk dengan santai.
"Tapi kenapa?" Kendra nanya dengan bingung. Ini sama sekali nggak ada hubungannya sama profesinya.
"Jangan banyak nanya. Lakuin aja," Lendon melotot ke dia dan bilang dengan nggak sabar.
"Lendon, kamu mau gue sibuk biar nggak ada waktu buat sedih, ya?" Kendra ngehela nafas dan nanya.
Lendon nggak jawab.
"Kamu nggak usah kayak gini. Gue nggak papa kok," Kendra ngeyel. Padahal, abis tidur semalem, dia udah jauh lebih baik.
"Lakuin aja yang gue bilang. Kamu harus belajar semua itu sesuai jadwal mulai hari ini," Lendon maksa. Dia nggak bakal biarin Kendra nolak aturannya.
Sialan! Dia kalah lagi sama dia.
"Nona Miller, ikut saya," dia denger Curtis bilang.
Kendra melotot ke Lendon dan berdiri. Dia pergi ke dapur bareng Curtis dengan nggak rela. Dia ngabisin seluruh pagi di dapur, dan koki ngajarin dia masak satu per satu. Kalo Lendon, dia juga sibuk ngawasin Kendra. Setiap kali Kendra masak makanan baru, dia langsung nyicipin. Dia udah makan lebih dari sepuluh macem makanan sekarang.
Waktu Kendra keluar lagi bawa makanan baru, dia cuma bisa ngeliat piring kosong di depan Lendon. "Lo abisin semua?" Dia nggak percaya Lendon nafsu makannya gede banget.
"Iya," kata Lendon sambil natap makanan baru itu.
Kendra kaget. Lendon itu babi ya? Gimana bisa dia makan banyak banget?
"Gue nggak mau masak," Kendra naro piringnya di meja dan bilang.
"Kenapa?" Lendon nanya.
"Lo udah kebanyakan makan. Gue nggak bisa masak 30 macem makanan dalam sehari," Kendra duduk di sampingnya. Kalo Lendon nggak nyaman karena kebanyakan makan, dia juga bakal tanggung jawab.
"Gue mau lagi," kata Lendon sambil mulai nyicipin makanan baru.
"Nggak, berhenti makan. Ini nggak bagus buat lo," Kendra nahan dia dan ngambil makanannya.
"Lo ngapain sih?" Lendon nanya dengan kesel.
Curtis ngeliatin mereka dan ngerasa nggak bisa ngapa-ngapain. Tuan Martin emang kebanyakan makan pagi ini. Dia nggak pernah gitu sebelumnya.
"Oke deh," Lendon naikin alis dan nanya, "Curtis, mentornya udah dateng?"
"Udah, Tuan," Curtis jawab.
"Bawa dia ke ruang belajar," perintah Lendon.
Bagus, dia nggak bisa istirahat gitu aja. Kendra ngabisin sisa hari ini buat belajar dandan, tata krama, dan fashion. Malemnya, Kendra ngejatuhin tubuh capeknya di kasur dan nggak mau gerak. Dia pengen teriak. Lendon itu nyiksa dia.
Beberapa hari berikutnya, Kendra sibuk sama pelajaran yang diatur Lendon. Dia harus ngaku, dia hampir nggak punya waktu buat mikirin keluarganya karena dia sibuk banget. Lendon bahkan ngecek belajarnya dia malem.
Lima hari kemudian, Kendra ngeliat Curtis nungguin dia di luar pas dia keluar dari kamarnya.
"Hari ini gue harus belajar apa lagi?" Kendra manyunin bibirnya.
"Nggak ada pelajaran hari ini, Nona Miller," jawab Curtis.
"Kenapa?" Kendra kaget.
"Tuan Martin nyiapin ini buat Anda, Nona Miller," Curtis ngasih gaun ke Kendra dan bilang.
"Gaun? Kita mau ke pesta?" Kendra nanya. Kenapa Lendon nggak bilang dia sebelumnya?
"Saya nggak tahu. Tuan Martin cuma bilang bakal jemput Anda sore ini. Jadi siap-siap," kata Curtis dan pergi.
Kendra jadi bingung banget. Apa yang Lendon rencanain kali ini?
Matahari terbenam datang, Curtis muncul lagi dan ngingetin Kendra buat pake gaun itu.
"Curtis, lo tahu kita mau ke mana?" Kendra nanya dengan penasaran pas mereka turun.
"Nanti juga tahu, Kendra," Lendon tiba-tiba muncul dan bilang, dia jalan ke Kendra pake setelan mahal. Jelas, setelannya dibuat khusus, dan itu bahkan bikin dia keliatan begitu mulia.
Pas Lendon jalan, Kendra bisa ngerasain banget pesonanya. Lendon keliatan kayak model profesional. Kendra natap dia seolah lagi ngagumin karya seni yang berharga.
Lendon puas sama reaksi Kendra. Dia berdiri di samping Kendra dan maksa dia buat natap dia. "Gue ganteng nggak?" Dia nyubit dagu Kendra, senyum.
"Iya," Kendra ngangguk tanpa ragu.
"Bagus," kata Lendon, "Curtis, tutup pintunya."
Curtis ninggalin ruangan dan langsung nutup pintunya.
Lendon langsung ngebantu Kendra ngelepas bajunya.
"Lo ngapain sih?" Kendra mundur dan nanya dengan hati-hati.
"Gue bisa bantuin lo dandan," kata Lendon.
"Gue bisa sendiri kok," Kendra nundukin kepalanya dan bilang malu-malu.
Lendon senyum dan megangin pinggang Kendra. "Gue maksa," bisiknya dan ngelepas crop top Kendra.
Nggak lama, Kendra hampir telanjang.
Lendon natap Kendra dan ngerasain keinginan yang kuat. Dia nekan Kendra ke tembok dan nyium dia.
"Kita mau ke pesta," Kendra dorong dia dan ngingetin.
"Masih ada waktu," kata Lendon dan hampir gila. Kendra itu kayak narkobanya. Hari ini hari biasa, tapi dia bakal langgar aturan nggak nyentuh dia. Dia bener-bener butuh dia sekarang, meskipun ada bahaya di depan.
Mereka ngeseks. Sepuluh menit kemudian, Lendon akhirnya ngebiarin Kendra dan bilang, "Ayo pake baju."
Kendra pake gaun itu dan berdiri di depan cermin. Dia ngeliat dirinya sendiri dan bilang, "Cantik."
"Gue yang milih," kata Lendon dengan bangga. Malem ini pesta gede. Tapi, pertama, dia harus mastiin Kendra yang paling keren di antara cewek-cewek lain.
"Tapi..." Kendra ngeliat bahu kirinya dan ragu-ragu. Ada bekas gigitan di sana.
Lendon pake rambut Kendra buat nutupin tanda itu dan bilang, "Jangan biarin orang lain ngeliat.". Cuma dia yang bisa ngeliat tanda ini.
Abis semuanya siap, mereka keluar dan masuk mobil.
Kendra tenang selama perjalanan. Lendon megangin tangannya, ngelus-elusnya dengan sayang.
Sampe mobil berhenti, Kendra akhirnya ngerasa aneh. "Pesta siapa sih ini?" Dia cemberut dan nanya.
Sekelompok wartawan ngepung mobil mereka dan keliatan semangat banget.
"Tuan Martin, apakah Anda berteman dengan keluarga Miller dan Baker?"
"Tuan Martin, apakah wanita ini pacar Anda?"
"Tuan Martin, wanita ini juga partner Anda terakhir kali. Apakah Anda menjalin hubungan?"
"Tuan Martin, bisakah Anda menjawab pertanyaan kami?"
***
Wartawan nanya beberapa pertanyaan dengan mendesak di luar mobil.
Kendra natap Lendon dengan muka pucat. "Ini pesta tunangan mereka?" Dia nanya.
"Turun," Lendon ngangguk dan bilang.
"Tunggu. Kenapa lo nggak bilang gue?" Kendra megang lengan Lendon dan nanya. Terus, tiba-tiba, Kendra kayak sadar sesuatu dan bilang, "Lo bikin gue sibuk selama ini buat nge-distract gue, biar gue nggak liat berita." Nggak heran Lendon bahkan nggak ngebolehin dia pake laptop atau hape. Dia nggak mau dia liat berita terbaru. Dan dia ngerencanain ini di belakang dia.
"Iya," Lendon ngaku.
"Kenapa?" Kendra nanya.
"Kita harus rusak pesta ini. Mereka ninggalin lo. Mereka nggak pantes dapet pesta tunangan yang bahagia," kata Lendon dengan dingin.
"Lo gila?" Kendra nanya. Dia mau ngerusak pesta ini! Itu di luar imajinasi Kendra.
"Turun, jangan bikin gue ulangin kata-kata gue," Lendon nyindir dan bilang, "Jangan jadi pengecut. Lo harus bales dendam."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian." Lendon melotot ke dia dan ngulang, "Turun."
"Nggak mau," Kendra nolak dan nanya, "Lo tahu artinya apa kalo gue rusak pesta ini hari ini?" Pertama, itu bakal bikin Bianca jadi bahan tertawaan. Kedua, itu berarti bahkan kalo dia ditendang dari keluarga Miller, dia masih ngejar mereka. Dia nggak mau keliatan putus asa dengan ngerusak pesta ini.
"Lo nggak benci mereka?" Lendon nggak percaya sama apa yang dia denger dari dia. Dia atur semuanya dengan hati-hati, dan itu rencana yang sempurna. Gimana bisa Kendra nyerah sekarang?
"Gue benci mereka, tapi gue nggak bisa nyakitin Bianca. Tolong, jangan rusak hidupnya," Kendra memohon. Dia punya prinsip sendiri. Buat dia, Bianca nggak bersalah, dan dia nggak bakal berani nyakitin Bianca. Selain itu, Michael nggak mau nikah sama Bianca sama sekali. Kalo dia ngerusak pesta ini, Michael bakal seneng. Dia jelas nggak bisa ngejauh dari hidupnya.
Lendon natap Kendra lama banget, ngehela nafas dalam-dalam, "Ayo balik ke kastil."