Bab 69: Aku Takkan Pernah Meninggalkanmu
Kendra bangun kepagian hari berikutnya. Dia masuk ke kamar mandi dan ngelihat barang-barang yang mereka beli kemarin udah dipasang. Punya dia warna pink, dan punya Lendon warna biru. Seketika, Kendra ngerasa kayak udah tinggal sama Lendon bertahun-tahun.
"Pagi." Lendon meluk pinggang Kendra dan nyapa dia dengan suara yang hangat.
"Pagi." Dia bales nyapa dan ngerasain kehangatan Lendon.
Lendon megang tangan Kendra dan tiba-tiba ngejilat telinganya.
Rasanya ada kupu-kupu kecil yang terbang-terbang di perutnya, hasratnya mulai kebangun, tapi dia berusaha nahan, "Lapar nggak? Waktunya sarapan." Kendra muter badan dan coba ngehindar dari pelukan Lendon.
"Aku mau makan kamu." Lendon senyum nakal.
Hah, gila? Tadi malam dia hampir nyiksa Kendra semalaman, dan sekarang dia mau ngulang lagi?
"Aku lapar." Kendra mukanya merah padam. Dia malu buat ngebahas hal itu.
"Makan aku dulu, baru deh kamu boleh sarapan," Lendon berbisik dan nundukin kepalanya, nyium Kendra dengan penuh gairah, yang akhirnya bikin mereka bercinta di pagi hari. Dan sebelum Lendon ngelepasin dia, Lendon udah cukup puas, dan mereka berdua udah kecapekan banget.
Setengah jam kemudian, Kendra keluar dari kamar mandi setelah mandi. Dia ganti baju dan pergi ke ruang makan.
"Selamat pagi, Nona Miller." Curtis nyapa dia dengan senyum ramah.
"Pagi."
Begitu Kendra duduk, Lendon turun juga. Seperti biasa, dia harus nyobain makanan buat Lendon. Kendra ngerasa kayak tikus, nyobain makanan sebelum ngasih ke dia.
Nggak lama, teleponnya bunyi. Itu pengingat buat acara spesial. Kendra natap layarnya lama banget.
"Kita mau ke pantai akhir pekan ini." Lendon ngasih tau dia santai aja. Dia nggak nyadar reaksi nggak nyaman Kendra.
"Nggak." Kendra nolak tanpa ragu-ragu.
"Hah? Kenapa? Alasannya?" Mata Lendon langsung ngarah ke dia.
"Aku nggak bisa," Kendra ngejelasinnya tiba-tiba.
"Lo becanda?" Lendon natap dia sinis. Nadanya tiba-tiba berubah.
"Hari peringatan kematian Mama aku mau datang." Dia natap Lendon balik dengan serius dan ngomong.
"Mama kamu?"
"Iya."
Kendra nyetel pengingat di hp-nya biar dia inget tiap tahun di hari itu.
"Aku ikut kamu." Lendon ngelap mulutnya dan jawab santai.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Aku tau kamu sibuk," Kendra geleng-geleng kepala. Makam Mama dia nggak deket. Butuh waktu buat nyampe kesana.
"Kamu nggak mau ajak aku ke makam ibumu?" Lendon naikin alisnya.
Nah, mulai lagi deh. Kendra mikir dalam hati. Kendra ngerasa nggak berdaya. Dia cuma nggak mau ngebebanin Lendon, tapi Lendon malah salah paham. "Aku… aku tau kamu sibuk. Kamu nggak usah ikut aku, beneran. Aku bisa kok sendiri," Dia ngasih isyarat pake tangannya buat ngebuang pikiran salah Lendon.
"Aku udah mutusin." Lendon maksa. Dia dorong piring kosongnya, "Curtis, siap-siap."
"Siap, Tuan," Curtis ngangguk dan buru-buru pergi buat ngelakuin perintah Lendon.
Dia nggak bisa debat lagi. Lendon emang selalu jadi bos.
***
Akhir pekan hujan deras. Kendra khawatir dan ngelirik Lendon. "Lendon, hujannya makin gede. Jalan ke makam Mama aku bakal bahaya. Jadi, mending kamu di rumah aja."
"Kamu mau kabur dari aku?" Lendon natap dia sinis. Dia nggak bisa biarin dia pergi sendiri.
"Nggak, aku cuma..."
"Diem!" Lendon megang tangan Kendra dan narik dia, "Ayo berangkat."
Sopir langsung ngegas mobil.
Kendra terpaksa ngalah. Dia pengen nginep di gunung dua hari kali ini.
Di perjalanan, Lendon selalu meluk dia erat. Kendra nggak nolak. Dia kayaknya udah biasa sama tingkah Lendon yang kayak gitu, dan dia nyerah buat berontak.
Mereka butuh empat jam buat nyampe tujuan. Pas mereka akhirnya nyampe, hari udah mulai gelap.
Hujan berenti, dan semua jalannya becek.
"Tuan, nggak ada hotel di sekitar sini. Kita cuma bisa nemuin rumah-rumah warga," Curtis ngasih tau dia cepet-cepet.
"Aku tau ada rumah deket sini. Nggak gede kayak kastil, tapi kita bisa nginep di sana." Kendra ngeliat Lendon dan nanya, "Gimana?"
"Aku ikut kamu. Aku oke aja," Dia jawab santai, sambil ngelus-elus kepalanya Kendra.
"Oke." Dia loncat dari mobil. Dia nuntun mereka ke rumah itu.
Lendon buru-buru meluk pinggang Kendra dan jalan sama dia dengan mantap.
Selama ini, Kendra selalu kesini sendiri. Tapi Lendon ada sama dia hari ini. Kendra entah kenapa ngerasa seneng. Dia tiba-tiba ngangkat kepalanya, natap cowok yang meluk dia.
"Jangan liatin aku kayak gitu. Fokus." Lendon senyum.
Kendra blushing dan buang muka. Detik berikutnya, dia kena batunya karena nggak fokus. Dia keseleo dan hampir aja jatoh.
"Kenapa?" Lendon nanya panik dan buru-buru jongkok, ngeliatin mata kakinya yang bengkak.
"Aku keseleo." Mukanya kesakitan.
"Kamu nggak papa, Nona Miller?" Curtis nanya khawatir.
"Aku nggak papa. Aku masih bisa jalan," Kendra bilang, "Ayo jalan. Kita udah telat."
Sebelum dia bisa bergerak, Lendon ngegendong dia. "Kamu nggak papa!"
"Lendon!" Kendra kaget sama gerakan tiba-tiba Lendon.
"Tuan, biar saya bantu Nona Miller," Curtis nyaranin.
"Berani kamu nyentuh dia? Dia cewekku! Nggak ada yang boleh nyentuh dia," Lendon natap Curtis sinis. Terus, dia ngeliat Kendra dan maksa, "Udah malem. Mau berapa lama lagi kamu buang waktu?"
Curtis nggak bisa ngomong apa-apa. Dia tau sisi posesif bosnya ini.
"Aku berat. Turunin aku dong," Kendra, masih blushing, nggak tahan nunjukkin kasih sayang di depan anak buah Lendon.
"Cepetan!" Lendon ngomong nggak sabaran.
Kendra terpaksa nyerah dan meluk leher Lendon. Lendon lanjut jalan nggak lama kemudian.
Perbuatan Lendon nyentuh hati Kendra, dan air matanya keluar tanpa sadar. Kenangan masa kecilnya kebanjiran di otaknya, dia selalu jalan pulang lewat jalan ini. Kenangan bahagia sama Mamanya jalan bareng di jalan ini, tapi, pas Mamanya meninggal, semuanya berubah.
"Kenapa tiba-tiba nangis?" Lendon nanya nggak jelas. Kendra balik ke kenyataan dan nyadar kalau bahu Lendon basah kena air matanya. "Aku kangen Mama." Dia keselek dan jawab.
"Gimana dia meninggal?" Lendon nanya lembut.
"Kecelakaan mobil," Kendra bilang. Tapi, dia nggak mau inget kecelakaan itu karena dia jadi yatim piatu setelah itu. Sejak saat itu, Robert udah berubah banget sikapnya ke dia.
"Kamu tinggal disini waktu kecil?" Dia ngomong lagi.
"Dekat sini." Kendra bilang, "Dulu ada kebun disini, dan Mama suka banget. Waktu Papa pergi buat urusan bisnis, Mama bakal bawa aku kesini dan nginep beberapa hari. Aku udah nggak kesini setahun."
Tahun-tahun itu, dia bakal dateng pagi dan pulang pas udah sore. Pertanyaan Lendon bikin Kendra inget masa kecilnya, dan dia ngerasa terharu.
"Lendon, aku udah lama nggak digendong siapa-siapa." Kendra nangis kayak bayi. Dia nyender di dada Lendon dan bisa ngerasain kehangatannya.
"Kamu terharu sampe nangis gitu?" Lendon berusaha bikin dia ketawa.
Kendra senyum, dan buru-buru ngelap air matanya. Dia langsung muter bola matanya.
"Aku bakal bikin kamu cinta sama aku. Aku pasti bisa." Lendon ngomong percaya diri.
"Aku nggak pantes," Kendra bilang santai.
"Aku yang harus narik kesimpulan," Lendon ngomong sombong.
"Lendon, kalau suatu hari kamu nyesel dan mau ninggalin aku, aku nggak bakal nyalahin kamu." Kendra ngangkat kepalanya, natap dia tajam.
"Aku nggak bakal ninggalin kamu, nggak akan pernah," Janji indah keluar dari mulutnya.
Kendra nggak ngomong apa-apa. Malah, dia nyembunyiin mukanya di dada Lendon dan merem.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya nyampe di rumah yang Kendra sebutin. Itu gubuk kecil dengan dekorasi sederhana tapi hangat.
Lendon berdiri di halaman dan ngeliat sekeliling. "Gimana kita bisa tinggal disini? Kecil banget." Dia berkomentar.
"Kita nggak punya tempat lain buat pergi." Kendra nepuk bahu Lendon, senyum. "Turunin aku."
"Nggak, aku bakal gendong kamu masuk." Lendon nolak.
"Tuan," Suara Curtis ngeganggu mereka, "tolong biarkan kami bersihin rumah dulu sebelum Tuan masuk."
Lendon ngangguk.
Udah gelap. Curtis nyaranin mereka buat makan malam dulu, jadi mereka pergi ke restoran terdekat. Setelah makan malam, mereka mulai bersih-bersih.
Lendon narik Kendra ke lantai dua.
"Kamar tidurnya dimana?" Lendon nanya semangat.
"Nggak, aku nggak punya kamar disini. Tapi Mama punya." Kendra bilang. Dia jalan ke sebuah kamar pelan-pelan dan buka pintunya.
Pas pintu kebuka, Kendra kayak balik lagi ke masa kecilnya. Ngeliat kamar yang udah nggak asing lagi, dia pengen nangis. Dia punya banyak kenangan indah disini.
"Kenapa kecil banget?" Ngeliat kamar kecil itu, Lendon mengerutkan dahi. Dia masuk dan ngeliat lukisan di dinding.
"Jangan disentuh." Kendra ngikutin Lendon, "Mama yang lukis, dan dia nggak pernah biarin aku nyentuh."
Lendon megang Kendra dan nyuruh dia duduk di kursi.
"Duduk disini. Jangan jalan." Dia nyuruh.
"Aku nggak papa. Curtis udah bantuin aku bungkus." Kendra senyum dan bilang, "Ada album foto di laci itu. Ambil."
Lendon ngelakuin apa yang Kendra bilang dan duduk di sampingnya.
"Itu aku." Kendra buka album foto dan bilang, "Aku waktu umur satu tahun." Bayi itu nggak pake baju tapi senyum bahagia.
"Bodoh banget kamu dulu," Lendon berkomentar.
"Oke, nggak usah diliat kalau gitu." Kendra ambil dan nutup albumnya.
"Kasih ke aku," Lendon nepuk pipinya dan ngambil album dari tangannya. Dia ngeliat-liat dengan serius dan senyum. Dia ngeliat semua foto Kendra dari bayi sampe beneran jadi cewek cantik.
Kendra ngeliatin dia, dan senyumnya entah gimana bikin dia ngerasa hebat.
"Yang ini bagus." Lendon tiba-tiba ngangkat kepalanya. Dia kebetulan ngeliat mata Kendra.