Bab 76: Jadi Kau Suka Tinggal Denganku?
Kaget, Kendra langsung matiin aplikasi itu dan nanya, "Siapa sih?"
"Nona Miller, Tuan Martin sudah siap. Dia menunggu Anda di bawah." Suara pembantu terdengar di luar pintunya.
Kendra narik napas dalam-dalam dan inget kalau dia setuju buat kemping sama Lendon hari ini. Dia batuk dan bilang, "Oke, gue tau," Kendra ngeliat ponselnya dan menghela napas.
Dia harus dengerin rekaman itu lain kali. Jadi, Kendra turun ke bawah dan masuk mobil.
Kali ini, Lendon sama dia bakal pergi berdua.
Curtis yang milih tempatnya buat mereka. Katanya pemandangannya bagus.
Kendra ngeliat ke luar jendela dan melamun. Dia mikirin Marga bakal ngomong apa lagi.
"Kamu ngelamun lagi." Lendon ngelus kepala Kendra begitu nyadar dia diem.
"Kenapa sih?" Kendra ngelirik Lendon dan nanya.
"Udah bosen ya?" Lendon melotot ke Kendra, kesel sama reaksinya.
"Enggak, seru kok." Kendra ngegeleng dan bilang, "Lihat, ada burung di pohon!" Dia berusaha bikin dia ketawa.
"Kendra."
"Kenapa?"
"Jangan malu-maluin diri sendiri." Lendon ngelirik Kendra dan bilang.
Lendon emang susah banget kalau lagi kumat.
"Kamu gak suka sama aku ya?" Lendon masang muka murung.
"Enggak!" Kendra langsung nyangkal. Gimana bisa dia ngomong gitu padahal udah setuju buat ikut dia berpetualang?
"Jadi kamu suka sama aku?" Lendon nanya lagi.
Kendra jadi gak bisa berkata-kata. Kenapa sih Lendon keras kepala banget?
"Lendon, selain item sama putih, ada juga abu-abu," Kendra ngejelasin dengan sabar.
"Kenapa tiba-tiba ganti topik?" Lendon melotot ke Kendra dan nanya.
"Enggak, gue gak ganti topik." Kendra ngegeleng lagi.
"Gue kesel!" Lendon ngomong dengan gak seneng.
Oke, susah banget komunikasi sama Lendon kali ini. Mereka gak ngomong apa-apa lagi sepanjang jalan. Pas udah sampe, Kendra turun dan kaget sama pemandangannya yang indah.
Ada padang rumput hijau di samping sungai, dan udaranya seger banget.
Kendra lari-larian di sekitar sungai dan balik lagi ke Lendon. "Indah banget!" Dia keliatan seneng banget.
"Suka di sini?" Lendon masukin tangannya ke kantong celana. Dia merhatiin cewek kecil yang keliatan seneng banget.
"Suka!" Kendra jawab dengan seneng. Dia emang paling suka tempat yang tenang dan damai.
Ngeliat Kendra seneng banget, Lendon senyum dan gak bisa lepasin pandangannya dari dia. "Oke, udah puas mainnya. Ayo bawa barang-barang dulu." Lendon nunjuk ke mobil dan bilang setelah beberapa saat.
"Kamu mau aku yang bawa?" Kendra kaget pas nyadar kalau Lendon mau dia yang bawa semua barang.
"Tentu aja." Lendon ngejek dia. Dia gak mungkin jadi kuli sendiri.
Kendra kira mereka cuma keluar buat nikmatin pemandangan. Dia gak nyangka harus kerja!
"Sialan! Siapa sih yang nyuruh cewek bawa koper? Gak gentle banget! Sialan!" Kendra ngumpat pelan sambil bawa barang-barang dari mobil.
Nggak lama, Kendra udah keluarin semuanya dan bilang, "Ya ampun! Capek banget!" Dia nyender ke mobil dan ngelap keringetnya. Tiba-tiba, dia nyadar kalau Lendon lagi berdiri di samping sungai, ngambil beberapa batu dan ngelemparnya ke permukaan air.
Kendra kesel banget dan bilang, "Sialan! Sialan!" Dia capek banget, dan Lendon cuma main-main?
"Kendra, ke sini!" Lendon ngelambaiin tangan ke Kendra dan teriak.
"Kenapa sih?" Dia jalan ke Lendon dan nanya. Apalagi sih yang harus dia lakuin?
"Ayo kita lomba," Lendon bilang dengan semangat.
"Lomba apa?" Kendra nanya bingung.
"Ayo kita liat siapa yang bisa ngelempar batu paling jauh. Ikut gak?" Lendon nanya dia.
"Ikut. Kalau kamu kalah gimana?" Kendra naikin alisnya dan nanya.
"Nanti kita harus pasang tenda dan masak makan malam. Siapa yang kalah, harus ngerjain semuanya. Oke?" Lendon senyum dan bilang.
"Oke, jangan nyesel ya!" Kendra natap dia dan ngomong dengan semangat. Dia gak boleh nyia-nyiain kesempatan ini.
"Mending kamu inget apa yang kamu omongin sekarang." Lendon ngusap pipi Kendra dan nyubit pelan.
"Oke, kamu duluan. Kita main tiga ronde." Kendra nyuruh dia sambil milih beberapa batu.
"Gampang." Lendon langsung setuju. Dia ngambil beberapa batu dan ngelemparnya dengan percaya diri. Jauh banget.
"Giliran kamu." Lendon ngeliat Kendra dan bilang. Dia yakin Kendra gak bakal menang.
Kendra nyoba pertama kali, dan yang bikin kaget, batunya malah lebih jauh dari lemparan Lendon! Kendra loncat-loncat dan senyum bahagia. Lendon kesel dan natap Kendra.
"Siapa yang ngajarin kamu gini?" Dia mendengus.
Denger pertanyaan Lendon, senyum Kendra langsung pudar.
"Kendra, gue cuma bakal nunjukkin sekali. Perhatiin baik-baik. Kamu harus pegang batunya erat-erat dan ayunin tangan kamu. Terus, kamu tinggal pake semua tenaga kamu dan lempar. Sip!"
Kendra inget apa yang cowok itu bilang waktu mereka masih kecil dan hampir nangis. Dia masih inget semua yang dia bilang, tapi cowok itu udah gak ada.
"Kamu mikirin apa sih?" Lendon melotot ke Kendra dan nanya. Kenapa sih Kendra akhir-akhir ini aneh? Dia sering ngelamun.
"Enggak ada apa-apa." Kendra senyum dan bilang, "Kamu kalah tadi. Kita masih ada dua ronde. Kamu gak bakal menang."
"Gue gak bakal kalah." Lendon jalan ke Kendra dan bilang.
"Kita liat aja." Kendra senyum ke dia. Yakin banget dia bisa menang.
Lendon melotot ke Kendra dan nyoba lagi. Lebih bagus dari tadi. Kendra ngeliat punggung Lendon dan melamun.
"Giliran kamu," kata Lendon. Tapi kali ini, Kendra gak bisa ngelempar dengan sempurna.
"Gue menang. Kamu cuma punya satu kesempatan terakhir sekarang." Lendon nyender di bahu Kendra dan bilang dengan bangga.
"Gue tau." Kendra ngelirik Lendon dan bilang.
Lendon senyum dan ngambil batu. Dia punya kesempatan terakhir. "Keren!" Lendon teriak dengan semangat. Dia ngambil batu dan Kendra konsentrasi. Dia bilang ke dirinya sendiri kalau dia gak boleh kalah. Nggak lama, dia merem dan ngelempar. Wow! Hasilnya lebih bagus dari Lendon! Dia menang!
Kendra teriak kegirangan. Dia gak percaya bisa menang.
Dia lari-larian di sekitar Lendon dan teriak, "Yess! Gue menang! Gue gak perlu masak makan malam! Gue gak perlu pasang tenda! Asik!" Kendra ketawa kayak anak kecil.
Lendon ngeliat dia dan senyum. Dia gak tau kalau dia keliatan kayak ayah yang manja sama anaknya.
"Sana, sana, sana! Sekarang waktunya kamu kerja buat gue!" Kendra dorong Lendon dan bilang.
Lendon ngerasa gak berdaya. Untuk pertama kalinya, dia kalah sama cewek. Tapi kenapa dia malah ngerasa puas?
"Sana!" Kendra nyuruh.
"Tunggu!" Lendon tiba-tiba berenti dan bilang, "Kita kan gak bilang kalau gue gak boleh minta bantuan, kan?"
"Apaan sih? Kamu mau curang?" Kendra gak percaya sama apa yang dia denger.
"Enggak lah." Lendon nyubit pipi Kendra. Dia ngangkat bahunya dan nelpon. Nggak lama, sekelompok koki dateng, dan dalam waktu 10 menit, mereka nyiapin semuanya.
Kendra gak bisa berkata-kata. Gimana bisa Lendon gak punya malu kayak gitu?
"Sini, kita pesta barbekyu," Lendon megang tangan Kendra dengan bangga dan narik dia ke orang-orang yang nyiapin pesta barbekyu. Dia nuntun dia ke panggangan.
"Kamu bisa bikin barbekyu yang simpel?" Kendra ngeliat Lendon dan nanya penasaran.
"Enggak." Lendon ngegeleng dan bilang terus terang.
"Kenapa kamu nyuruh mereka pergi?" Kendra nyindir dan nanya. Sekarang, siapa yang bisa bikin barbekyu buat mereka?
"Mereka bakal ganggu kita." Lendon natap Kendra dan bilang, serius banget.
Kendra muter bola matanya. Dia ditipu sama dia.
"Gue bisa nyoba," Lendon bilang. Tapi, dia ngeliat semua alatnya dan mengerutkan dahi. Dia gak tau harus ngapain.
"Gue kira kamu gak bisa bikin barbekyu. Gue gak mau masakan gosong!" Kendra senyum dan bilang. Dia ngeliatin Lendon dari atas sampe bawah dengan penasaran.
"Jangan remehin gue." Lendon ngelus kepala Kendra dan bilang. Dia ngeluarin ponselnya dan googling. Beberapa menit kemudian, dia bilang, "Oke, gue tau harus ngapain. Bantu gue dong."
"Seriusan?" Kendra nanya gak percaya. "Cowok lo emang jenius," Lendon bilang dengan bangga.
"Oke. Kamu boleh coba sekarang. Gue mau istirahat dulu." Kendra mau pergi, tapi tiba-tiba dia berentiin dia.
"Tunggu!" Lendon ngulurin tangannya dan bilang, "Bantu gue gulung lengan baju gue."
"Oke." Kendra nunduk dan ngerapihin lengan baju Lendon.
Lendon ngeliatin dia dan entah kenapa ngerasa aneh. Pas dia ngeliat Kendra fokus ke dia, rasanya beda banget. Beberapa detik kemudian, Lendon gak bisa ngendaliin dirinya. Dia narik Kendra ke pelukannya dan langsung nyium bibirnya.
Kendra kaget sama gerakan mendadak itu. Terlambat buat dia bereaksi.
"Buka mulut kamu." Suara Lendon tiba-tiba muncul.
"Apa?"
"Buka mulut kamu!"
"Oke."
Setelah beberapa saat, Lendon akhirnya ngelepasin dia. Dia seneng banget mereka bisa berbagi momen manis ini.
Kendra duduk di samping Lendon dan ngeliatin dia dengan gak jago ngambil bahan-bahan dan bumbu, siap-siap buat barbekyu. Yang bikin kaget, Kendra harus ngaku kalau Lendon cepet banget belajarnya. Beberapa saat kemudian, Kendra bisa nyium bau daging yang enak dan menghela napas, "Wanginya enak banget!"
"Gue mau nyoba." Kendra jalan ke Lendon dan bilang.
"Cium gue," kata Lendon dan nunjuk ke pipinya.
Kendra ngelirik Lendon dan gak nyium dia. Tiba-tiba, dia ngambil seutas daging sapi dan lari dengan cepat.
"Gue dapet!" Dia teriak dan senyum bahagia.
Lendon senyum ke tingkah laku nakal dia. Sejak Kendra dateng ke istana, hari ini mungkin hari paling bahagia dia. Kelihatannya Curtis bener. Kalau dia terus nyari kesempatan buat nemenin Kendra, dia pasti bakal jatuh cinta sama dia.
"Enak!" Kendra menghela napas setelah dia nyoba.