Bab 13
"Kamu mau bawa aku ke ranjang sekarang? Setidaknya ajak aku kencan dulu," gumamku bercanda sambil agak ngelantur waktu Easton nyelimutin aku di ranjangnya, cuma pake salah satu hoodie-nya.
Dia memutar mata sebelum berbalik dan melepas hoodie-nya, ngasih aku kesempatan buat liat otot punggungnya yang lagi main.
"Gila, Daddy, kamu seksi banget, a-"
"Kalo kamu selesain kalimat itu, aku gak bakal ragu buat ngurung kamu di kamar tamu," katanya sambil ngasih tatapan peringatan yang bilang buat gak nantang dia.
"Oke deh, aku cuma bakal ngeces liatin kamu dalam diem," kataku sambil mulai cekikikan gak terkendali.
"Tolong, JANGAN PERNAH mabok lagi," katanya sambil mutar mata, tapi aku bisa liat senyum tipis di ujung bibirnya.
"Kenapa?" aku gak bisa nahan diri buat nanya.
"Soalnya kamu lebih menggoda dari biasanya," katanya sambil pake celana pendek basket, terus masuk ke ranjang di sampingku.
"Jangan ge-er. Kamu yang menggoda aku," kataku sambil naik ke atas dia dan duduk di perut bagian bawahnya, bikin napasnya tersengal, yang bikin aku ketawa.
Aku mendekat dan mulai ngasih ciuman pelan di sepanjang garis rahangnya sebelum mulai turun ke lehernya.
Waktu aku nyampe di satu titik di lehernya deket bahunya, dia megang pinggulku dan ngeremesnya, bikin aku ngeluarin tawa lirih.
"Aku bikin kamu 'nyala', ya?" godaku sambil mulai cium dan gigit di tempat yang bikin dia susah buat diem.
"Kapan sih kamu gak bikin aku 'nyala'?" Dia menggerutu sambil aku nyedot di tempat itu sebelum mundur biar aku bisa natap matanya.
"Mungkin kamu emang gampang 'nyala'," kataku sambil ketawa waktu aku guling dari dia dan nyenderin kepalaku di dadanya.
"Cuma sama kamu," bisiknya sebelum aku tidur nyenyak.
"Wow," kataku sambil ngebiarin semuanya meresap.
"Aku harus berhenti minum vodka," kataku, lalu dia meledak dalam tawa yang sebagai gantinya bikin aku senyum ke arahnya.
"Cuma itu yang mau kamu bilang?" tanyanya masih ngakak.
"Selain fakta bahwa kamu menggoda aku dan aku ikut main, aku gak mikir kita punya hal lain buat dibahas," kataku sambil ketawa liat wajah kagetnya.
"Aku biarin kamu menang dalam argumen ini," katanya sambil berdiri dari ranjang dan keluar dari kamar.
"Emang aku gak selalu menang?" tanyaku bercanda sambil bangun dan ngikutin dia turun tangga menuju mobilnya.
Waktu kita keluar, dia lari ke pintu sisi penumpang dan ngebukainnya buat aku, bikin aku natap dia dengan bingung karena dia biasanya gak gitu.
"Emangnya aku gak boleh baik ke sahabat terbaik adik kecilku?" katanya waktu aku masuk ke mobil, bikin hatiku tertekan sedih.
"Kamu lebih tua 5 detik," gumamku waktu dia nutup pintu dan jalan ke sisi pengemudi.
Aku ngeluarin HP-ku dan nge-chat Stella soal acara nginepnya waktu Easton nyalain mobil dan mundur dari halaman.
Pas kita kena macet, aku bosen jadi mutusin buat seru-seruan sama Easton sebelum aku harus ninggalin dia.
"Siniin aux-nya, aku mau bikin kamu ketawa," kataku sebelum dia ngasih tatapan nanya dan ngasih aux-nya ke aku.
Aku nyambunginnya ke HP-ku terus liat-liat daftar putar musikku dan nyalain lagu paling 'bernafsu' yang aku liat dan mulai teriak liriknya.
"Suasananya udah pas, jadi kamu udah tau apa selanjutnya," aku mulai nyanyi lebih keras dari musik sambil natap matanya buat ngerasain reaksinya.
"TV on blast, Turn it down, Turn it down, Don't want it to clash, With my body screaming now" aku terus nyanyiin liriknya sekeras-kerasnya waktu dia cepet noleh ke arahku dengan mata lebar dan kaget di seluruh wajahnya.
"Aku tau kamu dengerin, You got me moaning now" aku terus nyanyiinnya sebelum dia nyela.
"Oke, jangan, jangan, kita gak akan bahas kamu 'moaning'," katanya sambil cepet matiin lagunya, bikin aku ketawa.
"Teknisnya itu lirik lagunya," kataku waktu dia mulai nyetir pas lalu lintasnya bergerak tapi matanya liat ke mana-mana selain ke aku.
"Kenapa? Kamu 'nyala'?" tanyaku ke dia sambil nyender ke konsol tengah dan nyium lehernya, bikin napasnya tersengal.
Aku senyum waktu aku nyender lagi ke kursi dan denger dia menggerutu.
"Kamu bakal jadi akhir dari aku, Amelia," katanya waktu dia belok ke halaman rumahku, aku ngasih dia senyum lebar sebelum keluar dari mobilnya dan masuk ke rumahku, ketemu sama Ibu lagi meditasi di tengah ruang tamu.
"Uh, hai Ibu. Ibu lagi ngapain?" kataku sambil duduk di seberangnya.
"Aku baca di suatu tempat kalo meditasi bisa bikin kamu hidup lebih lama," katanya sambil terus narik dan ngeluarin napas dalam-dalam, aku mutusin buat gak nanya Ibu karena dia mungkin lagi diet yang lain besok.
"Aku mau nginep sama cewek yang aku kenal di tim cheer. Boleh gak?" tanyaku sambil ngasih tau dia.
Dia buka matanya dan megang bahuku "Kamu masuk tim?" tanyanya sambil nahan napas karena dia tau aku pengen jadi cheerleader dari SMP.
Aku senyum dan ngangguk bikin dia lompat dan teriak "OMG, aku gak percaya anakku jadi cheerleader" katanya waktu aku juga berdiri dan kita ketemu dalam pelukan semangat.
"Aku bangga banget sama kamu, sayang. Tentu aja kamu boleh pergi nginep," katanya waktu aku ngasih dia senyum lebar "Makasih Ibu, aku sayang Ibu" kataku terus lari naik tangga menuju kamar buat ngepak tas buat acara nginepnya.