Bab 29
Aku dan Asher udah pacaran seminggu nih.
Dia baik banget sama aku dan kita udah kencan tiap hari sejak dia nembak aku.
Stella aneh banget sejak kita berantem di lemari di bioskop.
Easton sama Emma sering banget ngabisin waktu bareng, tapi Easton keliatan sengsara banget, sedangkan Emma keliatan puas.
Setiap kali aku dan Stella jalan, dia selalu nyari alesan buat nyebut-nyebut Easton, tapi aku potong omongannya sebelum dia lanjut.
Aku gak benci dia, tapi aku benci cara dia langsung ambil kesimpulan sebelum cerita ke aku dulu.
Aku, Stella, dan Asher lagi makan siang nih. Aku duduk di sebelah Asher dan Stella duduk di seberang kita sambil makan makanannya dengan muka kesel.
"Sayang, kita harusnya pergi ke gelanggang seluncur es setelah sekolah," kata Asher sambil natap aku dengan muka semangat yang bikin Stella ngejek.
"Amelia gak bisa main seluncur es," dia bilang dengan datar, yang bikin aku melotot ke dia sebelum aku noleh ke Asher sambil senyum.
"Aku mau banget pergi," kataku yang bikin dia senyum sebelum dia cium aku.
"Nanti aku ajarin," katanya yang bikin aku ngangguk sebelum bel masuk bunyi, tanda makan siang selesai.
"Ketemu di Eastside Skate Center setelah sekolah, ya?" dia nanya sambil kita buang nampan.
"Iya, tentu aja," kataku sambil senyum waktu kita jalan keluar dari pintu ganda.
Kita ciuman manis sebelum dia cepet-cepet cium pipi aku dan masuk ke kelasnya.
"Biasanya orang yang punya pacar keliatan seneng kalau dicium. Kamu malah kebalikannya," kata Stella sambil jalan di samping aku dan merhatiin muka sedih aku.
Dia bener.
Aku punya pacar, seharusnya aku seneng.
Tapi aku gak seneng.
Hidup aku gak terasa se-lengkap dulu waktu ada Easton.
Ciuman Asher gak se-intens ciuman Easton.
Mata Asher gak nunjukkin emosi sebanyak mata Easton.
Asher gak bikin aku segirang Easton.
Asher bukan Easton.
"Aku kekenyangan dan perut aku sakit," kataku yang bikin Stella ketawa.
"Iya, deh," katanya sebelum kita masuk ke kelas Bahasa Inggris.
Kita sekelas sama Easton dan Emma.
Ah, senangnya.
Aku dan Stella yang pertama sampe, soalnya kelas Asher mulai dua menit sebelum kelas kita.
Dia di kelas yang lebih pinter dari kita.
Aku mutusin buat nge-chat dia sambil nunggu yang lain dateng.
Aku- Kamu lagi belajar tentang apa di kelas?
Asher- Anatomi ubur-ubur
Asher- Lucu banget
Aku- Aku yakin
Asher- Kamu keliatan sedih. Kenapa?
Aku- Kok kamu tau?
Asher- Kamu pake kata-kata yang lebih pendek
Aku- Oh. Menurut kamu kita terlalu cepet gak sih?
Asher- Gak, kenapa? Kamu gak nyaman?
Aku- Gak, aku cuma pengen tau gimana perasaan kamu tentang kita
Asher- Kamu yakin?
Aku- Yakin
Asher- Oke. Aku harus balik ke pelajaran, nanti ketemu lagi ya
Aku matiin hape tanpa bales. Aku suka banget sama Asher dan aku suka dia baik dan perhatian, tapi aku rasa aku harus putus sama dia.
Aku tertarik sama dia, tapi aku gak cinta dia dan aku gak ngerasa bisa punya masa depan sama dia.
"Amelia!" aku denger seseorang manggil yang bikin aku kaget dan noleh ke Guru.
"Karena kamu merhatiin banget pelajarannya," kata Guru dengan nada sarkas, "kamu bisa jawab pertanyaan ini," katanya yang bikin aku ngangguk.
"Gimana pendapat kamu tentang Romeo dan Juliet?" dia nanya yang bikin aku menghela napas dalam hati.
Kita baru selesai baca buku Romeo dan Juliet dan jujur aku gak terlalu suka.
"Menurut aku, 'cinta' mereka terlalu gak realistis dan random," kataku yang bikin semua murid di kelas natap aku dengan muka kaget.
Buku ini favorit Guru kita, jadi semua orang pasti pengen denger reaksi dia.
"Silakan dilanjutkan," kata Guru sambil naruh tangan di dagu dan merhatiin aku.
"Contohnya, Romeo jatuh cinta sama Juliet pada pandangan pertama. Juliet dijodohin sama cowok lain yang dia gak suka, jadi dia diem-diem jalan sama Romeo. Waktu Romeo nyoba hentiin perkelahian jalanan, dia malah bikin sepupu Juliet, Tybalt, mati yang bikin dia diasingkan," kataku sambil liat sekeliling dan semua orang natap aku dengan mata terbelalak kecuali Emma. Dia muter matanya.
"Terus Juliet saking pengennya ketemu Romeo lagi sampe pura-pura mati. Siapa sih yang gitu?" kataku sambil natap Guru yang merhatiin aku dengan muka geli.
"Waktu Romeo salah dapet informasi kalau Juliet pura-pura mati, dia bunuh diri di dalam makam Juliet," kataku sambil menekankan kata pura-pura.
"Waktu Juliet bangun dan liat Romeo beneran udah mati, dia bunuh diri. Dan akhirnya keluarga mereka bersatu dan berduka," kataku sambil memutar mata.
"Aku cuma mikir keputusan mereka itu bodoh," kataku yang dapet beberapa desahan dari murid.
"Menurut aku mereka punya ide yang bener," aku denger Easton bilang yang bikin aku noleh ke dia.
"Kenapa kamu bilang gitu?" tanyaku dengan nada bingung.
"Mereka berdua saling cinta banget sampe mau mati buat satu sama lain," katanya sambil natap aku seolah ada makna tersembunyi di balik ucapannya.
"Dia bisa aja nanya orang kalau berita itu beneran sebelum bunuh diri. Biasanya orang bakal ngecek nadi buat liat mereka masih hidup atau udah mati," kataku sambil memutar mata.
"Kalau kamu lebih berpikiran terbuka, kamu bakal liat kalau cinta dia ke dia udah bikin dia buta sama realita jadi dia lakuin hal pertama yang kepikiran supaya mereka bisa bareng lagi," katanya dengan muka marah.
Dia gak bisa marah sama aku karena punya pendapat.
"Mungkin kalau kamu realistis dan gak keras kepala, kamu bakal sadar betapa gak realistisnya jatuh cinta pada pandangan pertama," kataku sambil melotot ke dia.
Aku denger beberapa tawa dan cekikikan di sekitar kita, tapi aku abaikan.
Ini urusan aku sama Easton, sekarang.
"Mungkin kalau kamu gak terlalu menentang cinta, kamu bakal tau kalau apa yang mereka punya itu nyata," katanya dengan nada defensif.
Dia masih ngomongin buku gak sih?
"Gimana caranya aku menentang cinta? Aku juga cinta dan apa yang mereka punya itu cuma fase," kataku yang bikin dia berdiri dengan amarah di mata abu-abunya.
"Kamu gak bakal tau apa itu cinta meskipun aku berdiri di depan kamu. Apa yang mereka punya itu lebih dari fase," katanya yang bikin aku berdiri dan melotot ke dia.
"Kamu lagi berdiri di depan aku sekarang dan aku cinta sama kamu. Tentu aja apa yang mereka punya itu lebih dari fase, tapi semua orang di sekitar mereka mikir itu cuma fase," kataku sambil air mata frustrasi keluar dari mata aku.
Aku marah, kesel, frustrasi, bingung, dan penuh harapan.
Aku lagi emosional banget sekarang jadi aku gak kaget air mata keluar dari mata aku.
"Aku cinta sama kamu dan aku gak pernah mikir itu cuma fase jadi kenapa kamu peduli sama apa kata orang lain?" katanya dengan frustrasi dan bingung sambil jalan ke arah aku.
Aku rasa kita berdua lupa kalau ada satu kelas yang ngeliatin kita.
Tapi biar adil, Guru gak ngehentiin kita.
"Karena mereka bener. Itu gak akan pernah berhasil," kataku yang bikin dia nyoba megang muka aku tapi aku tepis tangannya.
"Itu bisa berhasil. Itu akan berhasil," katanya dengan nada sedih tapi penuh harapan.
"Gak, karena orang lain bakal dateng dan nyoba ngehancurinnya," kataku yang bikin dia megang muka aku supaya kita saling tatap.
Aku sesak napas.
Mata dia nunjukkin banyak banget emosi sekarang.
"Aku gak akan biarin mereka," katanya dengan nada serius. Aku meraih dan lepas tangannya dari muka aku sebelum aku seka air mata aku.
"Kamu udah biarin," kataku dengan nada sedih sebelum aku jalan melewati dia dan keluar dari kelas itu.
Waktu aku jalan melewati dia, dia keliatan kayak aku baru aja nonjok perut dia dan bilang aku ngehancurin mobilnya.
Dia keliatan lebih buruk dari patah hati.
Sekarang dia tau gimana perasaan aku.