Bab 5
"Oke, ini daftar tiga orang yang lolos tim," Emma mulai bicara, membungkam obrolan kita.
"Pertama, Amelia Montgomery," katanya sambil tersenyum lebar. Aku balas tersenyum lalu turun dari bangku penonton dan berdiri di sampingnya saat dia berbalik dan menyerahkan sepasang pom-pom berbulu biru dan putih.
"Selamat ya, resmi jadi bulldog," katanya sambil menjerit. Biasanya aku gak bakal menjerit, tapi saking semangatnya, aku ikut menjerit juga. Cepat-cepat menenangkan diri, Emma memanggil dua cewek terakhir.
"Dan dua pemandu sorak terakhir adalah Emily dan..." Katanya sambil berhenti sebentar lalu menatapku seolah sedang mencoba memahami perasaanku, kemudian menunduk dan menghela napas. "Stella," katanya seolah itu menyakitinya. Aku penasaran kenapa dia tiba-tiba bersikap kayak gini.
Stella dan cewek berambut cokelat bermata biru berlari ke arah Emma saat dia memberi mereka pom-pom.
"Selamat ya, sekarang kalian jadi bulldog," katanya sambil tersenyum pada mereka, tapi senyumnya gak tulus kayak waktu dia bilang ke aku. Tapi aku gak mau jadi perusak suasana dan bikin semua orang sedih, jadi aku cuma diam aja.
"Buat kalian yang gak lolos tim, senang ketemu kalian, tapi tolong keluar," kata Emma dengan baik. Semua orang pergi, dan dia berbalik ke arah tim.
"Oke, ambilkan seragam pemandu sorak mereka dan kasih tau aturan-aturannya, terus kalian boleh pulang hari ini, tapi latihan besok setelah sekolah. Jangan. Sampai. Telat," jelasnya pada tim, lalu menghadapku dan tersenyum.
"Ikut aku," katanya sambil menggunakan jarinya untuk memanggilku, sementara dia membawaku ke ruang ganti cewek.
Begitu kita masuk ruangan, dia menutup pintu lalu membawaku ke bangku tempat dia menyuruhku duduk.
"Aku ngerasa ada hubungan aneh sama kamu... bahwa aku bisa percaya sama kamu," katanya sambil menunduk melihat pangkuannya. Aku meraih tangannya dan menggunakan ibu jariku untuk mengelus punggung tangannya dengan lembut.
"Tentu aja bisa," kataku pelan, membuatnya menatap mataku, dan aku tersentak melihat semua emosi mentah di matanya.
"Aku mau kamu tau kalau aku mau kamu jadi co-head cheerleader aku," katanya sambil tersenyum lemah.
"Makasih banyak," kataku sambil memeluknya, dan dia langsung membalas pelukanku, kita cuma berlama-lama dalam posisi itu dan menikmati kebersamaan.
Yah, kita menikmati sampai ponselku bergetar, langsung memisahkan kita.
"Maaf, aku harus ngecek ini," kataku meminta maaf, lalu berjalan sedikit di depannya supaya dia gak bisa baca teksnya. Aku dapat satu dari Easton dan Stella.
Aku memutuskan untuk membuka teks dari Easton dulu.
Easton- ketemu aku di belakang sekolah setelah tryout
Aku langsung baca teks itu sambil tersipu. Ada apa sih sama dia akhir-akhir ini.
Aku buka teks dari Stella selanjutnya.
Stella- Kamu di mana? Aku di mobil nungguin kamu.
Ya ampun, aku lupa banget kalau hari ini harus pulang bareng dia. Aku langsung nge-teks balik.
Amelia- Maaf banget, aku paling lama 20 menit, aku harus ambil tugas dari Guru.
Aku merasa bersalah karena bohong sama dia, tapi aku gak bisa bilang kalau aku mau ketemu abangnya. Dia gak akan pernah maafin aku.
Aku berbalik untuk menghadapi Emma yang tampak penasaran.
"Maaf, itu dari Stella, aku harus pergi. Kita mau ke rumahnya buat nginep," kataku lalu tersenyum supaya dia gak mikir aku ninggalin dia.
"Yah, sampai jumpa besok deh," katanya sambil tersenyum lalu berdiri dan berjalan untuk memelukku yang tentu saja aku balas pelukannya.
"Aku ambilkan seragam kamu ya, dan kita harus tukeran nomor," Aku mengangguk dan memberikan ponselku padanya saat dia memberikan ponselnya padaku.
Kita mengetik nomor masing-masing dan memprogram nama kita di ponsel masing-masing, lalu menyerahkannya kembali satu sama lain. "Aku ambilkan seragam kamu," katanya lalu keluar dari ruang ganti, meninggalkanku berdiri di sana dengan canggung.