Bab 38
"Kita di mana sih?" tanya Amelia ke Stella waktu dia belok ke tempat parkir kosong, gue ngeliat ke atas gedung putih gede dan natapnya bingung.
Keliatannya sepi.
"Nanti kalau udah masuk, naik lift ke atap," kata dia sebelum buka kunci pintu mobil.
Begitu gue keluar mobil, dia langsung ngebut pergi, bikin gue makin bingung ngeliatin mobilnya soalnya dia nggak keliatan lagi.
Sumpah, kalau gue sampe dibunuh atau diculik di sini, gue bakal ngamuk banget sama dia.
Gue jalan pelan-pelan ke arah gedung sebelum narik pintu kaca gede itu.
Gue kira bakal dikunci.
Gue jalan-jalan di lobi yang remang-remang, nyari orang, tapi akhirnya gue sadar nggak ada siapa-siapa.
Gue jalan ke arah lift dan pencet tombol paling atas sebelum nunggu pintunya kebuka. Gue mundur dikit pas ngeliat ada bapak-bapak umur tengah baya pake setelan hitam putih, ada kain di tangannya, berdiri di pojokan lift.
Pelayan?
Gue hati-hati masuk ke mesin itu sebelum pencet tombol atas, yang ngarah ke atap.
Waktu liftnya berhenti dan pintunya kebuka, gue nggak bisa nahan napas kaget pas ngeliat sekeliling.
Gue shock banget sama pemandangan di depan mata.
Ada meja bundar di tengah, ditutup taplak meja putih. Ada lilin di tengah meja, sama dua piring di ujung berlawanan meja.
Pas gue jalan lebih jauh ke atap, gue ngeliat Easton berdiri di samping meja sambil megang mawar putih.
Bunga kesukaan gue.
Gue senyum lebar pas berenti di depannya. Dia pake setelan putih rapi, sama dasi hitam. Tangannya gemeteran, pas dia ngasih mawar ke gue. Gue terima mawarnya sebelum gue genggam tangannya dan saling mengaitkan jari.
"Udah lama di sini?" tanya gue penasaran pas dia cium kening gue dan nuntun kita ke meja.
"Sejak gue ninggalin lo tadi sore," kata dia sambil senyum, sambil narik kursi gue, bikin gue kaget ngeliat dia.
Dia udah di sini enam jam?
"Makanya Ibu sama Stella aneh seharian ini?" tanya gue sambil duduk di kursi dan geser diri, dia jalan ke kursinya dan duduk sebelum ngangguk.
"Gue minta bantuan nyokap, tapi Stella nemu sendiri," kata dia sebelum pelayan dari lift dateng ke meja kita.
"Tuan. Nyonya." Dia nyapa kita sambil nunduk.
"Makanan Anda akan diantar dalam beberapa menit. Minuman apa yang Anda pilih?" tanya dia sambil ngeluarin pulpen dan buku catatan.
"Cola," jawab Easton sambil senyum sebelum dia noleh ke gue.
"Air putih," kata gue ke pelayan, bikin dia ngangguk sebelum pergi.
Gue natap matanya dan senyum.
"Nggak usah gini juga. Lo kan tau gue nggak suka hal-hal mewah kayak gini," kata gue manis biar dia nggak salah paham. Dia ngeliat tangan gue, yang ada di atas meja, sebelum menggenggamnya dan saling mengaitkan jari.
Dia balik natap mata gue dan senyum lebar yang bikin hati gue meleleh.
"Gue tau, tapi gue pengen sesuatu yang spesial buat lo sebelum kita kuliah dan kebanjiran tugas," kata dia, bikin gue senyum.
"Gue hargain banget, gue sayang lo," kata gue, bikin dia senyum makin lebar sambil lesung pipinya mulai keliatan.
"Gue juga sayang lo," kata dia sebelum dia angkat tangan kita yang saling menggenggam dan ngecup punggung tangan gue sebelum pelayan itu balik lagi.
"Ini minuman Anda," kata dia sebelum naruh minuman kita. Seorang wanita keluar dari lift bawa baki perak di tangannya, ditutup tutup metal gede.
Moga-moga ada cheeseburger di dalemnya.
"Tuan bilang Anda suka McDonalds," kata pelayan sambil senyum sebelum wanita itu naruh baki di samping meja.
Gue noleh ke Easton dan natap dia dengan ekspresi bingung, sementara dia cuma senyum ke gue dan merhatiin reaksi gue.
Gue pegang gagang di atas tutupnya dan narik napas dalem-dalem sebelum gue buka. Gue senyum begitu ngeliat apa yang ada di baki.
Setengahnya cheeseburger McDonalds, enam biji, dan setengahnya lagi kentang goreng.
"Kok bisa tau sih?" tanya gue kaget dan semangat soalnya gue laper lagi.
"Kapan sih lo nggak pengen sesuatu selain burger?" tanya dia dengan nada ngejek, bikin gue ketawa.
"Makasih," kata gue ke pelayan dan wanita itu sebelum mereka diam-diam ngangguk dan pergi.
-
Kita habisin semua makanan dalam dua puluh menit.
Dan waktu kita nunggu makanan kita dicerna, kita ngobrol soal cita-cita hidup.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," kata gue ke dia waktu kita goyang-goyangin badan sambil pelukan. Lengan gue melingkar di lehernya sementara pipi gue nempel di dadanya, gue bisa ngerasain detak jantungnya. Tangannya melingkar erat di pinggang gue, dagunya nempel di atas kepala gue.
"Pertanyaan yang mana?" tanya dia dengan suara sok bingung, bikin gue muter mata sambil senyum.
"Yang paling atas di daftar yang harus dilakukan," gue ulangi dari tadi.
Dia menjauh dari gue, bikin gue natap dia dengan sakit hati dan bingung.
Tiba-tiba dia berlutut sebelah kaki dan meraih saku jasnya, ngambil kotak beludru merah kecil.
Gue tutup mulut kaget, mata gue mulai pedih gara-gara air mata yang mulai naik ke mata.
"Gue tau apa yang lo pikirin dan nggak, gue nggak nikahin lo... belum. Tapi gue janji sama lo," kata dia, matanya yang abu-abu terang natap mata biru gelap gue dengan begitu banyak emosi yang gue rasain di lutut gue.
"Kalau lo terima cincin ini, gue janji bakal lindungin lo dari semua ancaman yang mungkin dateng. Gue janji bakal ada buat lo di semua momen paling menyakitkan. Gue janji bakal utamain kebahagiaan lo daripada kebahagiaan gue. Gue janji bakal bikin lo ngerasa nggak kurang dari seorang putri," kata dia sambil senyum di wajahnya, air mata terus netes di pipi gue.
"Dan yang paling penting," kata dia sebelum dia ngulurin tangannya buat gue genggam, yang gue lakuin tanpa ragu.
"Gue janji bakal sayang dan hargain lo lebih dari siapapun," kata dia, bikin gue sesenggukan.
"Jadi kasih tau gue, sayang, lo terima cincin ini?" tanya dia dengan ekspresi penuh harapan, bikin hati gue meleleh.
Kok dia bisa mikir gue bakal nolak dia.
"I-iya," gue tersedak sambil ngangguk, dia senyum lebar atas jawaban gue, berdiri dan lepasin tangan gue. Dia keluarin cincin dari kotak sebelum dia tutup dan naruh kotak kosong di meja.
Dia genggam tangan gue dengan tatapan penuh tekad di wajahnya sebelum dia pelan-pelan masang cincin itu di jari yang seharusnya.
Gue kaget karena dinginnya logam dan kejutan listrik yang gue rasain dari sentuhannya. Dia senyum waktu cincin itu udah di jari gue.
"Gimana rasanya?" tanya dia sambil ngeliat mata gue dengan kebahagiaan yang jelas di ekspresinya.
"Sempurna," kata gue sambil senyum sebelum dia ngecup bibir gue dengan ciuman yang menghangatkan hati, bikin kesemutan, bikin kaki gemeteran.
Di saat ini gue tau, beneran, kalau dia bakal jadi bahagia selamanya gue.