Bab 24
Begitu gue sampai di latihan pemandu sorak, gue lihat semua orang mandangin Emma yang lagi ngegas ke sekelompok cewek di depannya.
Waktu gue jalan ke arahnya, karena gue wakil kapten, beberapa cewek ngeliatin gue dengan lega.
"Amelia, gue perlu ngomong sama lo," kata Emma sambil narik pergelangan tangan gue dan ngejauh dari yang lain.
Pas dia berhenti di depan gue, gue lihat keadaannya sekarang.
Dia kelihatan capek dan pucat.
"Mereka belum siap. Kita ada pertandingan bola minggu depan. Gue harus gimana, sih?" tanyanya sambil ngusap pelipisnya dan mondar-mandir di depan gue.
Gue belum pernah lihat dia sesetres ini sebelumnya.
"Mereka butuh bantuan di bagian mana?" tanya gue.
"Flip mereka, pendaratan, postur," katanya sambil ngetuk-ngetuk jarinya buat nyebutin masalahnya.
"Boleh gue lihat mereka latihan dan koreksi dari situ?" tanya gue karena gue nggak bisa setuju atau nggak setuju sama dia karena gue belum lihat rutinitasnya.
"Terserah," katanya sambil nuntun gue balik ke arah kelompok pemandu sorak yang tegang.
"Kalian harus santai. Tegang bikin ragu-ragu dan kalian nggak boleh ragu-ragu selama rutinitas ini atau kelihatannya nggak profesional," kata gue sambil berhenti di depan para cewek.
"Tunjukin gerakan sorak yang baru kalian pelajari dalam hitungan 5 6 7 8," kata gue sambil ngitung sebelum mulai musik yang bikin mereka mulai bergerak.
Emma bener.
Mereka nggak kompak, mereka ceroboh, beberapa dari mereka terus kesandung setelah flip, sementara para pangkalan kelihatan bingung.
Tim ini berantakan.
Pas mereka berhenti, nggak kompak pula, gue cuma mandangin mereka dengan kaget.
"Gue mau jujur," kata gue sambil narik napas dalam-dalam, "itu parah," kata gue yang bikin banyak wajah mereka murung.
"Dulu kalian kompak banget, gilak. Apa yang terjadi?" tanya gue kecewa.
Beberapa cuma buang muka, sementara yang lain ngeliatin gue dengan tatapan nggak sabar.
"Para flyer harus masukin perut dan fokus buat nyelesaiin flip, sementara para pangkalan setidaknya harus kelihatan tahu apa yang mereka lakuin," kata gue yang dibalas anggukan.
"Para penari harus condong sedikit ke depan saat kalian mendarat di tumit kalian biar nggak jatuh ke belakang," kata gue yang dibalas anggukan lagi.
"Dan semua orang harus latihan keseimbangan dan sinkronisasi," kata gue.
"Ada pertanyaan?" tanya gue tapi nggak ada jawaban, jadi gue ngangguk.
"Oke, kalau gitu, mari kita ulang sekali lagi," kata gue sebelum ngitung dan mulai musik lagi.
-
Satu jam kemudian.
Mereka udah lumayan kompak dan postur mereka jauh lebih baik.
"Ganti baju. Kita ketemu besok setelah sekolah buat latihan lagi," kata gue sambil senyum yang bikin mereka bersorak lega sebelum mereka jalan ke ruang ganti.
Saat gue jalan buat ngambil tas gue, gue dihentikan oleh tangan besar di pergelangan tangan gue. Gue berbalik dan lihat Easton mandangin gue dengan ekspresi marah.
"Apa yang terjadi?" tanya gue sambil mau megang wajahnya tapi dia ngejauhin tangan gue.
Oke, gue ngerti dia marah tapi itu nggak sopan banget.
"Kenapa lo nggak bilang sama gue?" tanyanya dengan nada tanpa emosi yang bikin gue mandangin dia bingung.
"Apa?" tanya gue.
"Jangan main bodoh sama gue, Amelia," katanya dengan nada ketus.
"Kenapa lo bohongin gue selama ini. Gue sayang sama lo dan lo cuma bohongin gue di depan muka gue," katanya yang bikin gue makin bingung tapi seneng dia pake waktu sekarang.
"Bohong soal apa?" tanya gue yang bikin dia muter matanya.
"Selama ini gue kira lo suka sama gue, tapi ternyata cuma taruhan," katanya.
"Siapa yang bilang sama lo?" tanya gue sambil mau nyentuh pipinya lagi tapi dia cuma ngejauh dari gue.
Aduh, sakit.
"Jangan sentuh gue karena kalau lo sentuh gue, gue cuma bakal kena mantra lo lagi," katanya dengan frustrasi.
"Lo mau kita omongin baik-baik?" tanya gue sambil berusaha jadi orang yang rasional di sini.
"Nggak, cuma," Katanya sebelum dia narik napas dalam-dalam dan mandangin mata gue dengan kesedihan yang begitu besar sampai gue ngerasa air mata mulai keluar, "jangan ngomong sama gue atau ngakuin gue lagi," katanya sebelum dia berbalik dan pergi.
Dada gue sakit.
Rasanya kayak ada orang yang nyekek jantung gue.
Rasanya kayak gue kehabisan oksigen.
Gue coba garuk tenggorokan gue biar bisa dapet oksigen tapi nggak mempan.
Air mata mulai jatuh dari mata gue saat gue jatuh ke tanah.
"Itu akibatnya karena lo ngambil calon suami gue, dasar jalang," samar-samar gue denger Emma bilang sebelum dia keluar dari pintu gym.
Air mata mulai jatuh lebih deras sekarang.
Ini dia.
Penglihatan gue mulai kabur.
Gue mulai ngerasa pusing.
"Amelia" gue denger Stella teriak yang bikin gue pelan-pelan nengok ke arah tubuhnya yang lari ke arah gue.
"Tolong...gue..." bisik gue dari tenggorokan gue yang mau ketutup saat gue meraih ke arah sosoknya yang jauh sebelum gue pingsan dan semuanya jadi gelap.
Gue ngerasa sakit dan mati rasa di waktu yang sama.
Anak laki-laki acak yang gue taksir mikir kalau semua yang gue kasih tahu dia itu cuma taruhan....lelucon murahan.
Dia benci gue dan nggak mau ada urusan sama gue.
Cuma ada satu orang yang bisa disalahin karena hal ini.
Dia satu-satunya orang yang cukup benci sama gue buat ngeliat gue hancur ke tanah saat dia berusaha naik di atas gue.
Emma D Lance.