Bab 19
Anehnya, aku punya hari yang menyenangkan di sekolah.
Aku dan Kembaran Stella ngobrol seharian dan cerita tentang semua yang terjadi di hidup masing-masing.
Emma gak keliatan batang hidungnya, tapi para pemandu sorak yang datang pada kena ruam.
Aku cuma mikir mereka kena ruam gara-gara ngerjain orang di acara pep rally semalam, soalnya aku gak kena ruam.
Easton nemenin aku ke kelas, padahal aku udah bilang jangan, biar dia gak telat masuk kelas.
Dia nyuruh aku siap-siap jam lima buat kencan kita, sebelum dia pulang dari sekolah.
Begitu nyampe rumah, aku langsung mandi terus ganti pake gaun putih nge-flow yang panjangnya di atas lutut, sama sandal.
Rambutku aku kepang samping, terus ada beberapa helai rambut bayi yang keluar biar wajahku keliatan.
Baru aja aku ambil hape, ada yang ngetuk pintu. Aku buka pintunya, dan ternyata Easton lagi berdiri di depan pintu pake celana pendek khaki, kemeja putih yang gak dikancing, dan sendal jepit
"Udah siap?" tanyanya sambil senyum, yang langsung bikin aku balas senyum, semangatnya sama kayak dia.
"Tentu aja," kataku sambil narik lengannya yang dia tawarin buat aku pegang, sebelum aku cepet-cepet ambil kunci rumahku dan nutup pintu, langsung dikunci.
-
Pas kita lagi jalan ke pantai, yang jaraknya satu jam, kita mutusin buat karaoke dulu. Cuma ada satu masalah. Kita gak bisa nyanyi.
"So I put my hands up, They're playing my song, And the butterflies fly away, Noddin' my head like, yeah, Movin' my hips like, yeah, I got my hands up, They're playin' my song, You know I'm gonna be okay, Yeah, it's a party in the USA, Yeah it's a party in the USA" kita teriak dengan nada yang salah semua, bikin kita berdua ketawa sambil angin dari jendela neriup rambut kita.
-
Waktu kita nyampe pantai, aku gak bisa berhenti ngerasa seneng banget bisa balik lagi ke pantai ini. Di pantai ini lah beberapa hal baik dalam hidupku terjadi.
"Maaf ya, tapi aku mau kamu pake penutup mata ini dulu. Aku pengen tempat yang aku ajak kamu datengin jadi kejutan," katanya sambil parkir dan matiin mesin.
Aku liatin dia dan ngeliat dia megang bandana buat aku pake, yang langsung aku ambil dan iket di kepala, terus aku tarik ke bawah buat nutup mata.
"Aku bantu ya," aku denger dia bilang sebelum aku denger suara sabuk pengaman dibuka, terus pintu mobilnya dibuka dan ditutup.
Rasanya aneh banget pake penutup mata, soalnya aku harus lebih ngandelin indra-indera yang lain.
Aku denger pintu mobil kebuka dan ngerasa ada yang meluk lenganku dan lututku, terus ngangkat aku dari mobil dan naruh aku di tanah parkiran.
"Pegangan lenganku, aku tuntun jalannya," aku denger dia bilang setelah dia nutup pintu mobil dan ngunci mobilnya. Aku meraba-raba ke depan tanpa bisa ngelihat, dan gak nemu apa-apa. Aku noleh ke kanan dan meraba lagi, tapi kali ini aku ngerasain otot bisep yang keras.
Wah, dia ototnya gede banget. Aku baru nyadar nih.
"Sayang, nanti aja kamu raba lenganku. Sekarang aku mau ajak kamu ke tempatnya," aku denger dia bilang sambil ketawa kecil, yang bikin aku salah tingkah dan buang muka, padahal aku gak bisa ngelihat dia.
Aku ngerasa dia cium pipiku sebelum dia mulai jalan pelan-pelan di atas pasir.
Kita jalan beberapa detik sebelum dia nuntun aku ke tempat di mana aku bisa denger suara ombak dan burung camar.
"Oke, kamu bisa buka sekarang," katanya yang bikin aku makin semangat, sekarang aku bisa nebak apa yang dia sembunyiin.
Aku tarik penutup matanya dari kepala dan harus ngedip beberapa kali biar mataku bisa menyesuaikan diri sama cahaya, tapi aku gak siap sama apa yang aku liat.
Ada tenda putih. Di bawahnya ada selimut yang ditutupin kotak pizza dan sebotol soda.
Pemandangan yang sederhana tapi indah. Kencan impianku.
Aku kagum sama semua yang ada di sana dengan mata berbinar. Aku noleh ke Easton dan ngeliat dia cuma merhatiin reaksi aku. Aku maju selangkah ke arahnya, bener-bener nempelin badan kita, dan ngegelungin tanganku di lehernya sementara tangannya ada di pinggulku.
Aku senyum ke dia dan nyium bibirnya "Makasih banyak buat semuanya," kataku sambil ngeliat matanya.
"Sama-sama," katanya sambil ngeliat aku dengan kagum dan nyium pipiku sebelum nuntun aku masuk ke dalam tenda.
Kita duduk dan langsung mulai makan pizza dengan tenang.
-
Aku lagi nikmatin rasa pizza yang enak banget waktu Easton tiba-tiba ngomong
"Ibu mau ketemu kamu," katanya bikin aku bingung.
"Dia udah ketemu aku kok. Dia udah kenal aku sejak aku ketemu Kembaran Stella," kataku sambil naro potongan pizza di piring di pangkuanku.
"Iya, tapi dia mau ketemu kamu sebagai pacarku," katanya yang bikin napasku sesak karena kaget.
"Oke," kataku yang bikin dia senyum dan buang muka karena ujung telinganya jadi merah.
Apa dia salah tingkah?
"Aduh, ada yang salah tingkah nih?" godaku dengan seringai di wajahku.
"Cuma buat kamu," bisiknya bikin aku senyum ke dia.
Demi apapun, jantungku gak kuat.
"Ayo," kataku sambil berdiri dan ngulurin tangan buat dia pegang "kita dansa yuk," kataku.
Dia ngeliat aku dengan ekspresi bingung sambil megang tanganku dan berdiri "Kamu sadar kan gak ada musiknya?" katanya sambil aku ngelingkarin tangannya di pinggangku dan ngelingkarin tanganku di lehernya sambil dia ngeliat aku.
"Gak perlu musik buat dansa, cuma lebih enak aja," kataku sebelum aku nyenderin kepalaku di dadanya dan ngajak dia goyang ke kiri dan kanan.
Dia ketawa pelan sebelum nyenderin dagunya di kepalaku dan kita cuma goyang dalam diam sambil dengerin deburan ombak beberapa meter dari kita.
"Kamu tau kan aku peduli sama kamu?" tanyanya tiba-tiba bikin aku berhenti goyang dan ngeliat ke arahnya.
"Iya, harusnya sih gitu," kataku terus ketawa sarkas.
Dia ketawa kecil sebelum megang wajahku dengan lembut dan ngeliat mataku, terus nanya pertanyaan sejuta dolar yang bikin aku kaget dan syok.
"Mau gak kamu jadi pacar aku?"