Bab 15
Gue masuk sekolah dan langsung dikerubutin tim cheer.
"Stella nungguin lo di aula," kata Emma sambil gandeng tangan gue dan bawa gue ke sana.
Pas kita masuk aula, gue liat Stella berdiri di tengah, jadi gue samperin dia.
"Jadi, gimana caranya lo mau yakinin gue kalo lo gak pake narkoba?" tanya gue sambil nyilangin tangan dan berdiri di depannya.
"Emily, bisa jelasin ke dia kenapa gue minta narkoba sama lo?" Stella nanya sambil nyilangin tangan dan natap gue tajam.
Gue denger Emily keluar dari kerumunan cheerleader di belakang gue dan berhenti di samping gue.
"Dia dateng ke rumah gue minggu lalu dan minta ganja, tapi gue mikirin posisinya di tim, jadi gue bilang nggak. Gue mau nutup pintu, tapi dia nahan pake kakinya dan ngancem gue," katanya, suaranya gemeteran kayak mau nangis.
"Dia bilang kalo gue gak kasih dia ganja, dia bakal bikin gue salah selama latihan buat pep rally. Gue gak mau jadi penyebab kita harus belajar rutinitas baru buat pep rally, jadi gue minta saudara gue buat beliin dia narkoba," katanya sambil ngapus air mata dan ngehirup ingusnya.
"Itu gak pernah terjadi, lo bi-" Stella teriak, tapi langsung dipotong sama Emma.
"Tuh kan, Amelia, gue udah curiga sama dia dari pertama kali dia audisi," kata Emma.
"Kalo lo gak percaya, cek loker gue," kata Stella sambil natap Emma tajam.
"Gue udah lakuin. Lihat apa yang gue temuin," kata Amber sambil nunjukin brownies yang ada ganjanya di dalem tas.
"Gue percaya sama lo, tapi ada banyak bukti yang nunjukkin lo punya masalah," kata gue ke Stella sambil ngehela napas sedih.
"Gue gak bisa temenan sama lo sekarang," kata gue sambil ngerasa air mata jatuh dari muka gue.
"Mereka bohong sama lo," kata Stella dengan mata memohon.
"G-gue gak percaya lo," kata gue dengan nada final di suara gue.
"Oh, dan kalo gak jelas, lo keluar dari tim," kata Emma sebelum meluk gue dari samping dan bawa gue ke kelas sains.
Gue lagi jalan ke kantin pas gue ditarik ke lemari tukang bersih-bersih dan ada tangan nutup mulut gue supaya gue gak bisa ngomong, jadi gue lakuin hal terbaik selanjutnya.
"Ah, sialan," gue denger mereka teriak sebelum mereka nyalain lampu.
"Easton? Apa-apaan sih?" gue bisik-teriak ke dia sambil dia megangin kejantanannya karena kesakitan.
"Harusnya gue yang nanya sama lo, lo nendang gue di burung," katanya sambil nunjukkin penderitaan dan kejengkelannya.
"Oke, nih ide," kata gue sarkas, "jangan narik cewek ke lemari," kata gue seolah itu jelas.
"Terserah," katanya sambil memulihkan diri, "Stella kenapa? Dia marah dan gak mau ngomong sama gue," katanya sambil natap mata gue buat ngecek apa gue bohong.
"Dia ngancem salah satu cheerleader buat narkoba. Ada buktinya," kata gue sambil nyilangin tangan dan ngangkat bahu.
"Emang dia bilang kenapa?" tanyanya, mulai frustasi sama sikap gue, bikin gue muter mata.
"Dia bilang buat dikasih ke Amber, tapi Amber yang punya buktinya," kata gue dengan sikap yang sama kayak sebelumnya.
"Lo tau gak sih, itu parah banget?" katanya dan dia berbalik dari gue dan ngangkat tangannya karena frustasi, "Si Amber ini kemungkinan dapet narkoba itu dari rumahnya sendiri," katanya sambil natap gue dengan nada 'duh'.
"Coba deh, gue tanya," kata gue dengan tenang, "kalo Amber yang make dan punya narkobanya, kenapa dia punya brownies ganja pas Stella bilang kemarin dia dapet brownies dari Emily?" tanya gue ke dia.
"Stella bilang dia dapet brownies dari Emily hari Sabtu, makanya dia pergi pas lo dateng," kata gue sambil mau buka pintu, tapi gue ditarik lagi sama Easton yang megang tangan gue.
"Mending lo minta maaf ke Stella atau-" dia mulai ngomong sebelum gue potong.
"Atau apa?" gue natap dia tajam.
"Gue bakal bikin hidup lo dan para cheerleader itu kayak neraka," katanya dengan nada jahat.
"Ayo aja," kata gue sambil buka pintu dan ngentak-ngentak jalan ke kantin.
"Amelia, lama amat sih?" tanya Emma pas gue duduk di kursi di sebelahnya.
"Maaf, gue dihentiin sama orang yang mau sabotase pep rally kita," kata gue buat ngasih tau dia, karena dia kaptennya.
"Makasih udah ngasih tau," katanya dengan menghargai.
"Oke, lumayan. Kita ulang lagi, tapi kali ini bikin lebih bagus," Emma teriak ke kita sebelum kita ngulang seluruh rutinitas lagi.
Kita udah lakuin rutinitas itu lima kali dan kita semua capek, tapi kita tau apa yang kita tekenin di tryout, jadi kita harus terima aja.
"Bagus," dia senyum pas kita selesaiin rutinitas sesuai yang dia mau, "kalian boleh pulang, latihan di rumah, kita cuma punya dua hari lagi sampe pep rally," kata Emma sebelum dia ngambil tasnya dan pergi.
Pas gue jalan ke mobil, gue dihentiin sama Easton yang nyender di mobil gue.
Apaan sih dia?
"Lo ngapain sih? Pulang sana," kata gue ke dia sambil berusaha gak bikin orang lain tau situasi kita sekarang.
Dia nyengir, "kenapa gue harus gitu, sayang?" tanyanya sambil ngalungin tangannya di pinggang gue, bikin gue natap dia kayak dia gila.
"Lo gila ya? Lepasin gue," kata gue sambil berusaha lepasin tangannya dari gue supaya Emma gak salah paham kalo dia masih di sini.
"Kenapa? Takut ya?" tanyanya, bikin gue menghela napas karena jengkel.
"Oke deh. Lo mau apa?" tanya gue sambil nyilangin tangan.
"Ngomong sama Stella," katanya dengan ekspresi serius.
"Gak sekarang, mungkin abis pep rally," kata gue jengkel.
Bahkan kalo gue maafin dia, cheerleader yang lain gak bakal. Kalo iya, gak bakal cukup waktu buat dia ngehafal rutinitasnya.
"Kenapa?" dia nanya, mulai frustasi sambil megangin rambutnya.
"Karena gak ada cukup waktu," kata gue pelan sambil natap dia tajam.
"Lo kayak jalang," katanya, bikin gue ketawa hambar ke dia.
"Lucu, gue bisa bilang hal yang sama tentang lo tadi," kata gue sambil natap dia tajam lagi.
"Deketin temen lo, tapi deketin musuh lo lebih deket lagi," katanya sambil ngeliatin gue.
"Mereka bukan musuh gue," kata gue sambil ngebela tim cheer dan dia menjauh dari mobil gue.
"Gue gak yakin sama itu," katanya sambil geleng-geleng gak setuju dan jalan ke mobilnya.