Bab 25
Begitu aku sampai di latihan sepak bola, aku berusaha mencari keberadaan Amelia di seberang lapangan karena kami berdua latihan di lapangan yang sama.
Saat aku melihatnya, aku lihat Emma dan dia sedang ngobrolin sesuatu. Dia kelihatan tenang dan santai, sementara Emma kelihatan kesel dan stres.
Aku penasaran, mereka ngomongin apa, sih?
Baru aja mau jalan ke sana dan ngejawab pertanyaan sendiri, temen-temen nyuruh aku balik gabung karena latihan mau mulai.
Aku ngangguk dan jalan ke arah mereka. Kayaknya masalah itu bisa ditunda dulu deh.
-
Di tengah latihan, aku curi-curi pandang ke Amelia dan lihat dia lagi semangat nyemangatin tim cheer, sementara Gadis di pinggir lapangan muter-muter rambutnya sambil ngasih lambaian ke aku.
Nggak deh, aku udah punya pacar yang luar biasa di mataku.
Aku buang muka dari dia dengan ekspresi datar dan lanjut latihan sama cowok-cowok.
-
Setelah latihan, Gadis yang tadi merhatiin aku, bahkan nggak merhatiin temen-temen, nyamperin aku dengan ekspresi menggoda.
Jujur aja, kayaknya dia mau kentut, tapi aku nggak bakal ngomong gitu keras-keras.
"Hai Easton," katanya sambil berhenti di depan aku.
"Um, hai," kataku dengan nada datar sambil ngambil kaos yang aku lepas di tengah latihan dan masukin ke tas olahraga.
"Jadi, aku penasaran, apa kamu mau jalan bareng setelah pertandingan sepak bola minggu depan?" tanyanya dengan ekspresi yang mungkin dia pikir menggoda, tapi aslinya kedengeran bindeng dan putus asa.
"Nggak deh, aku nggak apa-apa," kataku sambil ngambil botol minum dan minum, berharap dia sadar aku nggak tertarik dan pergi.
"Ayo dong," katanya. "Emang kamu bisa ngapain lagi yang lebih seru dari aku?" katanya sambil nunjuk-nunjuk badannya.
"Aku mau jalan sama pacar aku, yang aku sayang dan cintai," kataku sambil menjauhkan botol minum.
Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah dari 'seksi' jadi marah dalam hitungan detik.
"Oh ya? Siapa pacarmu?" tanyanya dengan nada sedikit sinis yang bikin aku kesel.
"Aku nggak ngerti kenapa itu jadi urusan kamu," kataku dengan nada tegas sambil nyimpen botol minum dan ngelempar tas olahraga ke bahu.
"Aku harap kamu nggak ngomongin Amelia, karena dia nggak beneran cinta sama kamu," katanya dengan nada simpati.
Denger nama dia, aku langsung noleh dan hadapin Gadis yang berdiri di depan aku dengan wajah bingung.
"Kamu ngomongin apa, sih?" tanyaku bingung.
Beberapa orang mungkin mikir aku nggak percaya sama pacar aku.
Aku percaya kok, tapi bukan berarti aku nggak mikir dia bakal ninggalin aku demi orang lain kalau ada kesempatan.
"Dia nggak cerita ke kamu?" tanyanya dengan ekspresi sedih yang bikin aku geleng-geleng kepala.
"Suatu hari setelah latihan, aku nantangin dia buat pacaran sama kamu sampai sehari sebelum prom, terus putus sama kamu malam itu," katanya dengan ekspresi sedih sambil nunduk.
Aku nggak percaya.
Selama ini aku pikir dia beneran suka sama aku.
Kayaknya aku salah.
Tiba-tiba aku ngerasa marah dan sedih.
Aku cepet-cepet jalan melewati Gadis itu dan ke arah Amelia, yang lagi jalan ke tas olahraganya.
Aku pegang pergelangan tangannya dengan lembut tapi tegas dan muter dia ke arahku.
Waktu matanya yang biru gelap ketemu sama mataku, dia kelihatan senang dan kaget sebelum dia merhatiin wajahku dan cemberut.
"Ada apa?" tanyanya dan mau megang wajahku, tapi aku tepis tangannya karena kesel.
Aku ngerasa sakit di dada waktu aku lakuin itu, tapi aku terlalu buta sama amarah sampai nggak peduli.
"Kenapa kamu nggak cerita ke aku?" tanyaku dengan nada datar yang bikin dia natap aku bingung.
"Apaan, sih?" tanyanya.
"Jangan pura-pura bego deh, Amelia," kataku dengan nada ketus.
"Kenapa kamu bohongin aku selama ini. Aku cinta sama kamu, dan kamu malah bohong di depan mukaku," kataku yang bikin dia makin bingung.
"Bohong soal apa, sih?" tanyanya yang bikin aku muter mata karena tingkahnya.
Wah, dia beneran mau memperpanjang masalah ini.
"Selama ini aku pikir kamu suka sama aku, tapi aslinya cuma tantangan doang," kataku berharap dia ngerti apa yang aku omongin.
"Siapa yang bilang ke kamu?" tanyanya sambil mau nyentuh pipiku lagi, tapi aku menjauh dari dia yang bikin matanya berkaca-kaca dan ekspresi kaget muncul di wajahnya.
"Jangan sentuh aku, karena kalau kamu sentuh aku, aku bakal kena mantra kamu lagi," kataku frustasi.
Dia obatku.
Dia hidupku, atau dulu hidupku.
Sekarang, aku cuma ngerasa patah hati dan bingung.
"Kamu mau kita obrolin nggak?" tanyanya.
"Nggak, cuma," kataku sebelum aku narik napas dalam-dalam dan natap matanya dengan begitu banyak kesedihan sampai aku lihat air mata keluar dari matanya. "Jangan ngomong atau nyapa aku lagi," kataku sebelum aku balik badan dan pergi.
Waktu aku balik badan, aku bisa lihat air mata menetes di pipinya yang bikin separuh terakhir hatiku hancur berkeping-keping.
Aku akan selalu cinta sama dia.
Nggak peduli dia cinta sama aku atau nggak.
Waktu aku keluar, aku lihat Emma berdiri di dekat pintu dengan seringai di wajahnya sambil nyamperin aku.
"Jadi, soal rencana itu?" tanyanya.
Aku noleh ke dia dengan tatapan yang begitu tajam sampai senyum sinisnya memudar dan dia mundur beberapa langkah.
Aku nggak bakal pernah mukul cewek, tapi cewek yang satu ini bikin aku susah banget buat nggak mukul dia.
"Aku bilang nggak waktu itu dan aku bilang nggak sekarang," kataku sambil mau pergi, tapi dia nahan aku.
Apa sih masalahnya? Apa dia nggak bisa biarin aku sendiri.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kalau kamu nggak sadar, aku baru aja kehilangan cewek terbaik yang pernah aku temuin seumur hidupku. Aku jatuh cinta sama dia cuma buat tahu kalau dia bohongin aku. Jadi, nggak, aku nggak bakal jalan sama cewek yang putus asa pengen sama aku karena Amelia adalah hal terbaik yang pernah aku punya dan nggak ada yang bakal bisa bandingin sama dia," gerutuku marah ke cewek itu sebelum aku jalan ke mobilku dan ngebut ke satu-satunya tempat yang aku tahu nggak ada yang bisa nemuin aku.