Bab 31
Gue sama Asher lagi ngobrol di deket loker gue.
Gue merasa harus ngasih tau dia kalo gue gak mau lanjutin hubungan kita, soalnya perasaan gue ke dia gak sekuat dulu.
"Jangan mikir gue benci sama lo," kata gue pas dia nunduk.
"Gue emang suka sama lo, tapi lebih ke tipe persahabatan daripada hubungan," kata gue yang bikin dia senyum sebelum dia genggam tangan gue.
"Gue ngerti," katanya sebelum dia cium tangan gue yang bikin gue salting. "Kita masih bisa makan siang bareng, kan?" Dia nanya yang bikin gue senyum sambil ngangguk.
"Mantap, sekarang gue anter temen gue ke kelas dulu," katanya dengan nada bercanda.
"Gak, lo bakal telat masuk kelas," kata gue.
"Gue gak peduli. Mereka bakal baik-baik aja tanpa gue beberapa detik," katanya yang bikin gue ngakak sebelum gue biarin dia nganter gue ke kelas.
Kita diliatin banyak orang pas jalan di koridor. Semoga aja bukan gara-gara kejadian di ELA kemarin.
"Ketemu lagi beberapa jam lagi ya," katanya sambil senyum sebelum dia cium pipi gue dan jalan ke kelasnya.
Gue senyumin punggung dia yang makin menjauh sebelum gue masuk ke kelas sains gue.
Reaksi dia jauh lebih bagus dari yang gue kira.
Begitu gue duduk di samping Stella, di belakang kelas, dia langsung nanya bertubi-tubi.
"Lo ngomong apa sama Easton pagi ini?" Katanya yang bikin gue senyum sambil noleh ke dia.
"Emangnya kenapa lo mikir gue ada hubungannya sama itu?" Gue nanya balik yang bikin dia muter bola mata.
"Soalnya dia gak pernah sebahagia ini sejak sebelum kalian putus," katanya sebelum matanya membelalak dan dia natap gue kaget.
"Tunggu... kalian balikan?" Dia nanya yang bikin mata gue ikut membelalak.
"Gak, kita cuma temenan," kata gue.
"Hai, Amelia," gue denger Easton nyapa dari samping gue.
"Hai," kata gue sambil noleh ke dia dan senyum begitu ngeliat ekspresi dia yang sumringah.
Aduh, dia kayak anak kecil di toko permen.
Matanya yang abu-abu muda itu kayak bersinar bahagia.
Kantung mata di bawah matanya sekarang udah mulai pudar.
Rambutnya yang berantakan tapi rapi itu pas banget di atas kepalanya.
Senyumnya bikin lesung pipinya keliatan banget.
"Halo?" gue denger Stella nyapa keras-keras yang bikin gue kaget dan bingung natap dia.
"Kalian berdua udah saling pandang dengan tatapan kasmaran selama lima menit. Kalian harusnya nyatet," katanya sebelum dia nunjuk ke papan tulis tempat Guru udah nulis banyak banget paragraf.
Gue salting sebelum gue ngeluarin pensil dan mulai nyatet paragraf-paragraf itu.
Kayaknya ini bakal jadi hari yang panjang.
-
Makan siang lumayan seru.
Asher sama Easton malah akrab, kayak udah temenan bertahun-tahun.
Ternyata Stella pernah pacaran sama Asher, tapi dia mutusin Stella pas dia pindah dan Stella gak bisa nerima itu.
Asher duduk di samping Stella dan gak peduli sama tatapan sinisnya, sementara Easton duduk di samping gue dan tetep megangin tangan gue di lutut.
Anehnya, itu bikin nyaman.
Gue lagi ngerjain PR matematika bareng Stella, yang mana ide yang buruk karena kita terus-terusan bercanda.
"Gue mau bikin sandwich nih. Mau nitip gak?" Gue nanya ke dia sambil nahan ketawa biar bisa ngomong dengan jelas.
"Gak, gue gak apa-apa," katanya sambil berusaha nahan ketawa.
Gue keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Gue berhenti di pintu masuk dapur pas ngeliat Easton berdiri di sana tanpa baju, cuma pake celana training abu-abu yang melorot di pinggang, sambil bikin sandwich.
Sial.
Gue pengen banget punya anak dari dia.
Dia ngangkat muka dan senyum ke gue.
Aduh, rahim gue.
"Maaf, gue baru balik dari gym dan kelaperan. Mau satu gak?" Dia nanya, tapi gue terlalu terpesona sama badan ala anak selancar dia sampe gak bisa ngomong apa-apa.
"Tenang aja, gue udah cuci tangan," katanya sambil ngangkat tangannya tanda nyerah yang bikin gue sadar dari lamunan.
"Apaan?" Gue nanya bingung yang bikin dia senyum ngeliat reaksi gue.
"Mau gue bikinin gak?" Dia nanya sambil nunjuk sandwichnya yang bikin gue salting.
Kok gue gak denger ya?
Pendengaran gue emang seburuk itu hari ini?
"Gak, gak apa-apa," kata gue sambil jalan ke arah dia dan ngambil roti sub buat bikin sandwich gue.
Dia senyum ke gue sebelum dia merhatiin cara gue bergerak buat nyiapin sandwich.
Pas gue lagi naro selada di sandwich gue, gue ngerasa ada tangan meluk pinggang gue dan kepala nyandar di bahu gue yang bikin gue ngakak.
"Nyaman?" Gue nanya yang bikin jempolnya mijit pinggul gue sambil dia bergumam.
"Mhm," Katanya "Lo wangi jeruk," katanya yang bikin gue ketawa ngakakin dia.
"Lo wangi alam," kata gue, soalnya dia gak keringetan dan gak ada bau keringat yang kuat dari dia.
Dia ketawa yang bikin gue senyum sebelum gue lanjut bikin sandwich gue.
Begitu gue selesai makan setengah sandwich gue, gue denger suara orang jalan turun tangga sebelum Stella muncul di hadapan gue.
Pas dia ngeliat kita, dia senyum.
"Kirain kalian cuma 'temenan' doang," katanya pake tanda kutip di kata cuma temenan.
"Emang iya. Dia cuma nemenin gue," kata gue sambil ngusap salah satu lengan Easton yang meluk pinggang gue dengan cara yang menenangkan.
"Yakin," katanya dengan nada menggoda yang bikin gue salting sambil terus makan sandwich gue.
"Jadi, kalian bakal pergi prom sama siapa nih?" Stella nanya yang bikin mata gue membelalak.
Gue lupa kalo prom seminggu lagi.
"Bisa gak lo nemenin gue belanja abis pulang sekolah besok?" Gue nanya Stella yang bikin dia senyum sambil ngangguk.
"Gue juga harus belanja sih," katanya sambil mengangkat bahu sebelum dia keluar dari dapur dan balik ke atas.
Gue liat ke kepala Easton yang nyandar di bahu gue dan berusaha nebak apa dia tidur, soalnya dia diem aja dari tadi.
"Udah bangun?" Gue nanya dia yang bikin dia ngangguk pelan.
"Naik ke atas. Mandi dulu baru boleh tidur," kata gue yang bikin dia mengerang sebelum dia genggam tangan gue dan bawa gue ke kamarnya.
Dia mendudukkan gue di kasurnya sebelum dia naro tangannya di lutut gue dan natap gue dengan wajah cemberut dan mata sedih.
"Tolong temenin. Lo bikin gue tidur lebih nyenyak," katanya yang bikin gue senyum.
Gue bakal ngelakuin apa aja buat bikin dia merasa lebih baik.
Gue kadang-kadang emang nyebelin, tapi gue gak bakal biarin dia kurang tidur lagi. Apalagi pas dia keliatan capek kayak sekarang.
Gue meraih dan dengan lembut mengelus pipinya yang langsung bikin dia rileks dan meleleh dalam sentuhan gue.
"Tentu aja," kata gue yang bikin dia senyum sebelum dia cium kening gue dan masuk ke kamar mandi.
Ya Tuhan, cowok itu bakal jadi akhir hidup gue.
Gue merangkak ke sisi kanan kasurnya dan bikin diri gue nyaman di bawah selimut.
Gue lupa betapa nyamannya kasurnya dia dan ketiduran cuma dalam beberapa menit. Gue bangun sebentar pas ngerasa diri gue dipindahin ke tubuh yang baunya kayak spearmint.
Gue ngangkat muka dengan mata setengah merem dan ngeliat Easton senyum ke gue dengan tatapan sayang.
"Cuma gue. Tidur lagi aja," katanya sambil meluk pinggang gue dan pake jempolnya buat ngusap kulit pinggul gue yang keliatan karena baju gue naik.
Gue ngangguk sebelum gue nyaman di dadanya dan ketiduran cuma dalam beberapa detik.