Bab 9
Begitu masuk kamar Kembaran Stella, aku tutup pintunya, balik lagi ke tempatku di kasur, dan naruh pizza di antara kita.
"Kenapa sih cowok harus jadi brengsek semua?" Aku menghela napas bingung.
Kembaran Stella menoleh ke arahku. Kalau Kembaran Stella udah noleh pas filmnya masih main, berarti dia serius. Terus dia natap aku dengan tatapan bingung.
"Ada apa?" Dia nanya, beneran khawatir.
Aku mikir-mikir mau cerita soal kejadian di bawah, tapi akhirnya enggak jadi.
"Enggak, tadi pas di bawah, aku cuma mikirin kenapa cowok brengsek semua," kataku, berusaha biar suaraku gak bergetar supaya dia pikir aku beneran ngomong jujur. Dia menghela napas lega, bikin aku bingung sendiri.
"Kukira kakakku nge-gebet kamu lagi. Aku udah khawatir banget, mau turun ke bawah, eh, malah denger kamu naik tangga," jelasnya, bikin aku tiba-tiba merasa pucat pas mikirin kejadian setelah sekolah sama Easton.
"Aku harus mabok," kataku.
Nah, kata-kata itu nih yang bakal bikin banyak masalah. Tapi, sekarang aku gak peduli.
"Aku kelihatan oke gak?" tanyaku ke Kembaran Stella pas keluar dari lemarinya, pakai crop top renda hitam, skinny jeans hitam, sama sepatu bot tempur hitam.
"Ya ampun! Iya, kamu kelihatan kayak cewek badas!" Katanya, langsung lompat dari kasur dan meluk aku, bikin aku ketawa gak bisa berhenti.
Begitu dia lepas pelukannya, pintu kamarnya kebuka lebar, bikin kita noleh ke arah korban di ambang pintu.
"Kembaran Stella, kamu ambil-" Easton mulai nanya, tapi langsung berhenti pas matanya tertuju ke aku. Dia natap aku dari atas ke bawah pelan-pelan, bikin aku salah tingkah di bawah tatapannya.
Dia menatap mataku lagi, bikin aku tersentak kaget pas matanya jadi abu-abu yang lebih gelap dan dia menjilat bibirnya.
"Kamu gak boleh keluar kayak gitu," katanya, sambil nyandar di kusen pintu Kembaran Stella dan menyilangkan tangan.
"Emangnya kenapa dia gak boleh?" potong Kembaran Stella sebelum aku sempat ngomong apa-apa.
"Kamu lihat sendiri kan dia dandan kayak gimana? Kelihatan kayak model. Kalau dia keluar kayak gitu, pasti semua cowok di sekitarnya bakal nge-gebet dia," katanya sambil nunjuk-nunjuk aku dari atas ke bawah.
"Kamu mau muji dia atau mau nyindir sih?" tanyanya kesal. Aku mutusin buat ikut campur sebelum mereka berantem.
"Emangnya kamu tahu apa yang terbaik buat aku?" Aku bertanya, sambil natap matanya, dia juga begitu.
"Aku rasa kita semua tahu kamu udah berubah, secara fisik, sejak kelas dua SMP," katanya sambil menghela napas, bikin aku melotot ke dia dan menyilangkan tangan.
"Maksudnya apa? Aku gendut dan jelek gitu?" Aku protes, agak tersinggung sama kata-katanya. Matanya membesar dan dia mulai jalan ke arahku, lalu naruh tangannya di pipiku supaya aku natap matanya.
"Bukan itu maksudku," katanya, rasa frustasi dari tadi tiba-tiba hilang dan diganti sama panik dan hati-hati.
"Terus maksudnya apa?" Aku nanya, sambil ngangkat tangan dan ngejauhin tangannya dari wajahku, terus mundur selangkah dari dia.
"Maksudku, cowok-cowok itu bisa aja macem-macem sama kamu, dan aku gak mau lihat kamu sakit," katanya, tatapannya gak lepas dari mataku.
"Itu kan keputusanku," kataku sambil jalan melewati dia, turun tangga, dan keluar ke arah mobil Kembaran Stella, soalnya dia minjemin aku kunci mobilnya.