Bab 27
Begitu gue masuk sekolah, langsung kayak pasar malem.
Gue langsung dikerubutin cowok-cowok dari berbagai macam stereotype, mulai dari anak klub catur sampe Quarterback.
Mereka semua nanyain pertanyaan yang sama, isinya…
"Amelia, sekarang lo jomblo, mau pergi prom bareng gue gak?"
"Mau gak sih lo kencan sama gue?"
"Mau pergi prom sama siapa? Harusnya sih sama gue."
Sementara yang lain cuma ngasih gue bunga sama kotak cokelat.
Easton mutusin gue kemarin pas pulang sekolah, cuma tim cheerleading sama tim football yang ada di sana, tapi kemungkinan besar di ruang ganti.
Pas gue akhirnya berhasil nerobos kerumunan cowok-cowok itu, gue lari ke loker gue, eh malah gak sengaja nabrak orang.
Semua hadiah yang gue pegang jatuh, gue udah siap-siap mau jatuh ke lantai, tapi gak jadi.
Gue pelan-pelan buka mata, eh malah ngelihat sepasang mata cokelat yang lagi ngelihat gue sambil senyum-senyum.
"Lo gak papa?" tanyanya pas gue udah berdiri lagi.
"Iya, maaf, gue buru-buru, kayaknya gue gak lihat-lihat jalan," kata gue minta maaf, terus gue jongkok dan mulai ngumpulin semua hadiah itu.
"Kayaknya lo populer banget ya sama cowok-cowok," katanya sambil ketawa, terus dia bantuin gue ngumpulin barang-barang yang berantakan.
"Kok bisa bilang gitu?" tanya gue sambil terus ngumpulin kotak-kotak dan surat-surat.
"Semua pengakuan cinta ini," katanya sambil ngasih gue tumpukan hadiah yang dia kumpulin, bikin gue salting pas nerimanya. "Lagian di belakang lo juga ada banyak cowok," katanya sambil nunjuk ke belakang gue, bikin gue kesel.
Gak ada satu pun yang berani nembak gue selama ini.
"Tolongin gue, dong. Gue harus masuk kelas lima menit lagi, tapi mereka pada ngehalangin jalan gue," kata gue sambil memelas.
"Oke, ikutin gue," katanya sebelum dia megang tangan gue pelan-pelan dan bantuin gue berdiri.
Dia ngerangkul gue, bikin gue tegang. Gue berusaha kelihatan kayak gue sama dia lagi pacaran.
Begitu gerombolan cowok itu lihat dia ngerangkul gue, mereka langsung cemberut terus pergi, akhirnya gue bisa jalan ke kelas.
"Wah, lihat nih," kata Emma dari belakang gue. "Kayaknya Perawan Maria udah move on aja," katanya, bikin gue noleh dan ngelihat dia dengan tatapan tajam.
"Gue gak ngerti kenapa itu urusan lo, tapi enggak, gue belum," kata gue dengan nada tenang karena gue gak mau bikin masalah.
"Oh ya? Terus kenapa dia ngerangkul lo?" tanyanya, bikin gue muter mata.
Siapa dia? Nancy Drew?
"Dia cuma nemenin gue ke kelas," kata gue.
"Itu yang mereka semua bilang, terus lo tau-tau dia nemenin lo ke kasur," katanya sambil nyengir.
"Emang lo gitu?" tanya gue pura-pura bingung karena gue udah gak tahan sama omongannya.
"Gue gak kayak lo, gue gak bakal biarin cowok manfaatin gue," kata gue, bikin dia merah dan senyumnya berubah jadi cemberut.
Dia ngelihat gue tajam sebelum dia pergi dengan angkuh.
Kenapa semua orang kayak gitu hari ini?
Gue salah sekolah gak sih, atau gue lagi di dunia lain?
"Gue tau ini mungkin bukan waktu yang tepat buat nanya," kata cowok itu, bikin gue noleh ke arahnya.
"Lo mau gak nonton film sama gue?" tanyanya sambil pipinya merah.
Aduh, dia salting.
"Iya, tentu aja, itu gak seberapa dibanding semua bantuan yang udah lo kasih ke gue," kata gue sambil senyum manis, bikin dia senyum balik.
"Ketemu di bioskop sisi barat jam tujuh ya," katanya, bikin gue senyum dan ngangguk.
Begitu gue masuk kelas dan duduk di kursi gue, gue langsung dipeluk erat sama Stella.
"Gue lihat lo ngobrol sama cowok di luar. Cepet banget move on," katanya gak nyaman dan bingung pas kita udah gak pelukan lagi.
"Gue gak ada perasaan apa-apa sama dia, tapi dia udah nolong gue tadi, jadi gue setuju buat nonton film sama dia," kata gue.
"Amelia," kata Stella dengan nada memperingatkan.
"Kita cuma dua orang asing yang mau nonton film bareng. Lo sama gue sama-sama tau gue belum bisa move on dari Easton, apalagi secepet ini," kata gue.
"Oke," katanya dengan ragu-ragu sebelum Guru masuk dan mulai ngajar.
-
Sekolah itu nyiksa banget.
Emma ngerasa harus komentar soal semua yang gue lakuin.
Anak laki-laki acak terus ngasih gue hadiah terus berusaha deket-deket gue, bikin Stella harus ngusir mereka.
Cowok misterius yang gue tabrak tadi pagi, menurut Stella, juga anak kelas tiga, plus dia anak tim football.
Gue heran kenapa gue baru ngeh sekarang.
Gue gak lihat Easton sama sekali hari ini, tapi pas gue dateng ke rumahnya setelah pulang sekolah, karena Stella mau bantuin gue siap-siap buat kencan nonton, dia gak ada di sana.
"Kalian mau nonton film apa?" tanya Stella sambil nyari-nyari di lemarinya dan ngebuang baju-baju yang menghalangi jalannya.
"Gak tau. Dia gak bilang," kata gue sambil ngangkat bahu, bikin dia nyinyir.
"Cuma percakapan dua detik," kata gue, berusaha membela diri.
Dia gak dengerin gue dan malah ngasih gue dress biru tua yang panjangnya di bawah lutut dikit, jaket kulit hitam, sama sepatu boots hitam.
"Makasih," kata gue sambil berterima kasih sebelum gue mulai ganti baju di situ karena males jalan ke kamar mandinya.
Pas gue selesai ganti baju, gue noleh ke Stella dan lihat dia lagi ngelihat tembok sambil salting.
"Oh, maaf, gue gak bermaksud bikin lo gak nyaman," kata gue, bikin dia nengok ke arah gue.
"Gak papa, sih, tapi bakal lebih enak kalau ada peringatan dulu," katanya sebelum dia ngasih gue sisir.
"Ingat, deh, buat lain kali," kata gue bercanda sebelum gue terima sisirnya dan nyisir rambut gue biar bergelombang bukan keriting.
"Jam berapa sih?" tanya gue karena dia lama banget milih baju.
Gue udah nawarin buat bantuin dia milih baju, tapi dia nolak, jadi gue cuma ngangguk dan biarin dia ngurus.
"Jam enam lima puluh lima," katanya sambil ngangkat bahu, bikin gue langsung kaget.
"Bioskopnya dua puluh menit lagi, dan waktu ketemu kita lima menit lagi," kata gue sambil ngambil tas selempang hitam kecil dan ngisi isinya dengan barang-barang penting sebelum gue keluar dari kamarnya.
"Ceritain gimana nanti ya," gue denger Stella teriak pas gue lari turun tangga.
"Siap," teriak gue balik sebelum gue lari keluar pintu dan masuk ke mobil gue, terus gue ngebut dikit ke lokasi.
Semoga gue gak salah jalan.