Bab 39
2 tahun kemudian
Dua tahun terakhir ini gila banget.
Aku sama Easton akhirnya masuk kampus yang sama karena dia paranoid kalau-kalau ada Anak laki-laki acak yang coba-coba deketin aku.
Kita berdua pindah ke apartemen yang gak jauh dari kampus biar bisa jalan kaki aja ke sekolah.
Stella sama Asher nikah setelah tahun pertama kuliah karena mereka "udah gak sabar lagi".
Aku jadi pengiring pengantin, sementara Easton jadi pendamping pengantin pria.
Pernikahan mereka di pantai, jadi keringetan banget, meskipun kita udah pake penutup baju renang.
Waktu mau pulang, aku nemuin Easton lagi main petak umpet sama sepupu kecilku yang bikin hatiku meleleh.
Aku gak pernah tahu kalau dia jago banget sama anak-anak.
Sebulan kemudian, Easton ngelamar aku waktu kita lagi di Disneyland sama orang tuaku.
Dia bilang sih gak direncanain, tapi aku kayaknya sih iya.
Terakhir, buat minggu terakhir liburan musim panas, aku dan Easton milih buat *road trip* dari Pennsylvania sampai ke Los Angeles.
Aku hampir tidur sepanjang perjalanan karena aku begadang dua hari.
Waktu bangun, dia lagi nyanyi-nyanyi lagu-lagu acak di radio yang bikin aku ngakak.
Oke, sekarang kalian udah tahu ceritanya, aku bisa balik lagi ke situasi kita sekarang.
Aku lagi di perpustakaan sekolah baca buku buat proyekku, sementara Easton duduk di belakangku dan mijitin kepalaku.
"Enak gak?" tanyanya sambil memindahin jarinya ke sisi kepalaku dan mijitnya pake ujung-ujung jarinya yang bikin bahuku rileks karena aku lagi stres banget akhir-akhir ini.
"Enak banget," kataku sambil naruh buku di pangkuanku dan merem yang bikin dia ngakak sambil terus pake tangan pintarnya.
Tiba-tiba kita diinterupsi sama teleponku yang bunyi, keras banget, yang bikin aku kaget karena suaranya menggema di perpustakaan.
"Halo," jawabku cepet biar gak diusir.
"Kamu di mana?" Aku denger Stella nanya sambil denger suara daun kering keriting di bawah kakinya.
"Di sekolah. Kenapa?" tanyaku bingung.
"Di mana di sekolah?" dia nanya.
"Di perpustakaan," kataku.
"Oke, *bye*," katanya cepet sebelum dia nutup telepon.
Oke, itu random banget.
"Siapa tuh?" tanya Easton sambil aku masukin telepon ke saku.
"Stella," kataku sambil dia memindahin tangannya ke bawah dan mulai mijit bahuku yang bikin aku menghela napas.
Dia emang jago banget mijit.
"Dia mau apa?" tanyanya, tapi aku belum sempat jawab karena tiba-tiba aku ngeliat sahabatku di seluruh dunia keluar dari balik rak buku dengan senyum di wajahnya.
Aku langsung loncat dan lari ke arahnya, kita berdua saling berpelukan erat.
Seharusnya aku gak ketemu dia sampai dua minggu lagi, pas liburan Natal.
"Aku kangen kamu, tapi kenapa kamu di sini?" tanyaku sambil ketawa tertahan karena aku berusaha nahan air mata.
"Aku dapet libur lebih awal jadi aku mikir mau kasih kejutan buat kamu," katanya sambil kita saling menjauh dan saling pandang.
Aku belum ketemu dia sejak musim panas lalu, waktu dia nikah.
Rambutnya lebih panjang dan dia pake *makeup* lebih sedikit sekarang daripada waktu kita SMA.
"Aku gak keliatan ya di mata kamu?" Aku denger Easton ngomong begitu aku buka mulut.
Stella ngeliat ke bahuku dan tersenyum.
"Aku harus bilang kalau kamu keliatan kayak anak anjing yang sedih," katanya yang bikin aku noleh dan cuma bisa ngeliat dia cemberut ke arahnya.
Dia jalan ke arahnya dan meluk dia seerat dia meluk aku.
"Iya deh, terserah," katanya sambil memutar bola mata yang bikin aku ngakak.
"Gimana Asher memperlakukan kamu?" tanyanya sambil dia menjauh biar bisa ngeliat wajahnya.
Stella dan Asher kuliah di kampus yang beda, tapi mereka selalu jalan-jalan buat ketemu pas *weekend*.
Mereka bahkan ngabisin setiap detik liburan musim semi bareng.
"Kayak raja," katanya sambil tersenyum yang bikin dia menghela napas lega.
Aku tersenyum ke mereka.
Aku inget waktu mereka gak bisa ada di ruangan yang sama tanpa berantem soal sesuatu.
"Kita harus ngobrol sambil makan siang," kataku sambil mereka saling melepas pelukan yang bikin Stella menjerit kegirangan sementara Easton ngangguk.
-
"Kamu ngapain?!" Aku teriak ke Stella yang bikin dia nyuruh aku diem karena kita narik perhatian beberapa pasang mata.
"Seru banget kok. Awalnya serem, tapi lama-lama biasa," katanya sambil mengangkat bahu sebelum dia minum soda.
"Kenapa kamu ngelakuin itu?" tanyaku dengan ekspresi gak percaya yang bikin dia ngakak.
"Santai aja, itu cuma sesuatu yang selalu pengen aku lakuin," katanya sambil tersenyum.
"Kamu selalu pengen terjun payung cuma pake bikini doang?" tanya Easton bingung.
"Yep," katanya sambil ngangguk yang bikin aku ngejedotin kepala ke telapak tangan karena kesel dan gak percaya.
Siapa sih yang gitu?
Stella, itu dia.
"Kamu bisa aja cedera parah, Stells," kataku sambil pake nama panggilan yang aku kasih waktu kita SD.
"Aku tahu, lia, tapi aku gak kenapa-kenapa kok," katanya sambil tersenyum meyakinkan.
-
Setelah makan siang, kita mutusin buat video call sama Nyonya Hayes karena udah lama gak ketemu.
"Ibu?" tanya Easton waktu kita ngeliat fotonya muncul di layar. Kayaknya dia lagi di dapur.
"Sekarang kalian semua baru mau nelpon aku. Gimana dengan 'kita akan tetap berhubungan'" katanya dengan nada dramatis yang bikin aku ngakak.
Aku kangen dia.
"Ya ampun, Amelia. Gimana kabarnya?" tanyanya waktu dia ngeliat aku.
"Aku baik-baik aja dan kita sebenernya mau balik lagi ke Pennsylvania buat liburan Natal dua minggu lagi," kataku yang bikin dia senyum.
"Bagus, udah sepi banget gak ada kalian di sini," katanya sambil tersenyum, tapi aku nangkap sedikit kesedihan di suaranya yang bikin hatiku sakit.
Aku belum pernah ngeliat dari sudut pandangnya sebelumnya.
Kedua anaknya pindah ke seberang negara karena beasiswa mereka, ditambah aku, yang secara teknis jadi anak angkatnya karena Easton dan aku mau nikah.
Selain itu, Ibu juga jarang ada karena dia terus-terusan dinas.
"Jangan khawatir, kita bakal bawa banyak kegaduhan waktu kita berkunjung," kataku sambil tersenyum yang bikin dia ngakak.
"Stella, gimana pernikahanmu?" Ibu nanya tiba-tiba, seolah baru inget.
"Kita masih di fase bulan madu," jawab Stella dengan desahan yang penuh mimpi sambil seringai konyol muncul di wajahnya.
"Bagus," kata Ibunya sambil tersenyum, "ingat ya, aku pengen punya cucu sebelum kamu umur empat puluh," katanya yang bikin ekspresi Stella yang penuh mimpi berubah jadi kaget dan ngeri.
Aku dan Easton ngakak keras ngeliat ekspresi Stella karena kita belum pernah ngeliat dia kayak gitu sebelumnya.
"Itu juga berlaku buat kamu, Amelia," kata Nyonya Hayes yang bikin aku salting dan nunduk waktu Easton terus ngakak.
Aku gak tahu kenapa dia ngakak, kan yang joged dua orang.
"Ibu, kamu pasti bakal manjain mereka," katanya sambil dia tenang dan megang tanganku sebelum aku merangkai jari-jari kita dan ngegesek jempolku di punggung tangannya.
"Emang gitu kerjaannya Nenek," katanya seolah itu hal paling jelas di dunia yang bikin kita semua ngakak setuju.
"Aku harus kerja sekarang, tapi aku gak sabar mau ketemu kalian semua," kata Nyonya Hayes dengan senyum semangat.
"Kita juga, *bye* Ibu," kata si kembar bersamaan.
"*Bye* Nyonya Hayes," kataku sambil tersenyum selebar senyumnya.
"Sayang, kamu tahu kan kalau kamu bisa panggil aku Ibu," katanya sambil tersenyum lebar sebelum dia melambai dan menutup telepon.
"Ahhh, aku gak sabar kamu jadi bagian keluarga Hayes," kata Stella sambil melukku yang bikin aku ngakak sambil membalas pelukannya.
"Dan aku gak sabar jadi tante," kataku sebelum aku nyolek perutnya biar dia ngeh.
"Aku pengen lulus kuliah dulu, ih," katanya sambil ngakak waktu kita saling menjauh dan berdiri.
"Itu adil," kataku sebelum kita semua keluar dari restoran cepat saji.
"Kamu mau ke mana?" tanya Stella sambil aku ngecek waktu di telepon.
"Kamu sama Easton bisa jalan-jalan, tapi aku telat dua menit buat kelas jadi aku ketemu kalian sejam lagi ya," kataku sebelum aku lari di trotoar dan menuju kampus.