Bab 34
Dua minggu kemudian.
Minggu setelah Pesta Prom, Guru-guru memutuskan untuk benar-benar mengajarkan sesuatu yang berguna, yang cukup mengejutkan.
Selama ujian, kita semua punya pakaian yang nyaman dan kopi karena kita harus duduk di kursi logam yang gak nyaman selama empat jam.
Ketika minggu ujian selesai, Easton dan aku menghabiskan setiap hari sepulang sekolah untuk tidur dan berpelukan. Cuma bangun buat ke kamar mandi, mandi, atau ambil makanan.
Saat ini minggu terakhir sekolah dan aku gak bisa lebih bahagia lagi buat keluar dari sini.
Kita cuma punya tiga hari sekolah minggu ini dan dua di antaranya dihabiskan untuk persiapan wisuda.
"Hei, Sayang" kata Easton saat aku merasakan tangannya melingkar di sekitarku dari belakang dan kecupan di pipiku. Aku berbalik dari lokerku, yang sedang aku bereskan, dan melingkarkan tanganku di lehernya sebelum aku mendekat dan menciumnya.
Hubungan kami terasa semakin kuat sejak aku tahu kebenarannya.
"Woah, kalian berdua. Mungkin coba jangan berciuman di lorong di mana ada Guru gak sampai lima kaki dari kalian" Aku mendengar Emma berkata sambil tertawa saat dia menghampiri kami. Aku menarik diri dengan tawa terengah-engah saat aku mencoba mendapatkan kembali oksigen ke dalam paru-paruku.
Emma dan aku jadi teman sejak Prom.
Aku menyadari bahwa dia hanya sedikit tidak stabil secara emosional. Jadi aku menyarankannya untuk mencoba pergi ke Dokter dan dia jauh lebih baik.
Dia memang terlihat sedih ketika dia melihat aku dan Easton praktis duduk di atas satu sama lain di kelas terkadang, tapi dia dengan cepat memalingkan muka dan memusatkan perhatiannya pada hal lain.
Aku merasa kasihan karena dia gak bisa melupakan rasa suka yang dia miliki padaku, jadi aku berusaha mencari seseorang untuk menjodohkannya.
Maksudku, aku melakukannya dengan Stella dan Asher.
Tapi mereka sudah punya pengalaman.
"Hei, apa kabarmu?" Aku bertanya padanya saat aku membungkuk agar aku bisa memeluknya yang langsung dia balas
"Aku lebih baik, tapi aku baik-baik saja" katanya dengan mengangkat bahu ketika kami menjauh yang membuatku cemberut pada jawabannya
"Apa kamu mau bicara tentang itu?" Aku bertanya padanya yang membuatnya tersenyum padaku dengan penghargaan tapi dia menggelengkan kepalanya
"Ibuku menungguku. Sampai jumpa lagi" katanya sambil melihat ke belakangku sebelum tersenyum padaku dan melambai, aku membalas senyuman dan lambaiannya sebelum dia pergi.
"Aku masih gak percaya kamu dan Emma berteman. Emma, dari semua orang" kata Easton dengan tidak percaya saat dia menatap mataku
"Aku sudah memberitahumu alasannya untuk semuanya" kataku sambil melingkarkan tanganku di lehernya dan memainkan rambutnya
"Aku tahu, tapi itu gak menghilangkan minggu-minggu ketidaknyamanan yang harus aku alami" katanya yang membuatku tertawa sebelum aku berbalik dan terus membersihkan lokerku.
"Halo, Sahabat terbaikku tersayang yang aku cintai," kata Stella saat dia menghampiri kami dan melingkarkan tangannya di sekelilingku yang membuatku tertawa saat aku berbalik agar bisa memeluknya balik. Saat kami menjauh, dia berbalik ke adiknya dan senyumannya memudar.
"Dan si tolol ini, yang sayangnya aku ada hubungan keluarga," kata Stella dengan memutar mata yang membuatku tertawa terbahak-bahak dan Easton memutar matanya dan melingkarkan tangannya di sekelilingku
"Terserah. Asher di mana?" Dia bertanya dengan bingung.
Sejak Prom, Asher dan Stella gak terpisahkan, kayak Easton dan aku.
"Lagi beres-beres lokernya" katanya sebelum dia berbalik dan menunjuknya di mana dia memang sedang membersihkan banyak kertas dari lokernya
"Apa yang akan kalian berdua lakukan setelah kalian turun dari panggung dalam dua hari dengan ijazah kalian?" Stella bertanya sambil berbalik ke arah kami.
Kalau kalian gak tahu, sekolah kita punya kebiasaan aneh yang mereka lakukan selama wisuda kita. Ketika kita berjalan melintasi panggung, saat menerima ijazah kita mereka menyebutkan beasiswa yang telah kita dapatkan.
Masalahnya?
Kita gak tahu sekolahnya sampai kita menerima ijazah.
Sekolah mengirim email daftar siswa yang ingin mereka beri beasiswa kepada Kepala Sekolah dan kita tahu saat wisuda.
Itu aneh, aku tahu, tapi gak banyak yang bisa kita lakukan.
"Aku akan mengajak kita semua ke restoran yang sangat populer dan mewah yang harus aku pesan" kataku sambil tersenyum yang membuat mata Easton dan Stella membelalak
"Kenapa?" Easton akhirnya bertanya dengan kaget dan Stella hanya membiarkan mulutnya menganga
"Karena kita selamat dari SMA" kataku dengan nada 'duh'
Easton dan Stella tertawa sebelum mereka memelukku yang membuatku tertawa saat aku membalas pelukan mereka.
Saat kami menjauh satu sama lain, Stella mengatakan bahwa dia akan memberi tahu Asher kabar baiknya dan bahwa dia akan menemui kami nanti sementara Easton berjalan ke arahku dan memegangi pinggangku dari belakang saat dia meletakkan dagunya di bahuku saat aku selesai membersihkan lokerku.
Setelah aku selesai membersihkan lokerku, Easton dan aku pergi ke rumahnya karena aku gak mau meninggalkannya dulu.
"Aku akan membuatkan kita keju panggang" kataku setelah sepuluh menit menonton film acak yang membuatnya tertawa
"Kupikir kamu makan siang sebelum kita meninggalkan sekolah" katanya tapi dia gak menolak tawaranku
"Iya, tapi itu empat jam yang lalu" kataku yang membuatnya tersenyum dengan ekspresi geli sebelum dia mencium pipiku dan membiarkanku pergi agar aku bisa pergi ke dapur.
Saat aku mengoleskan mentega pada roti, Ibu-nya datang berjalan ke dalam rumah dengan ekspresi gembira di wajahnya.
"Easton aku dapatkan-" katanya sambil memegang tas hitam kecil di tangannya sebelum dia melihatku dan matanya membelalak
"Nanti saja aku berikan" katanya jauh lebih tenang sebelum dia berjalan ke atas
Itu aneh.
Itu adalah tas perhiasan.
Satu-satunya cara aku tahu itu karena tas itu bertuliskan 'Kay Jewelers'.
Kenapa Ibu-nya membelikannya perhiasan?
Ditambah lagi ketika dia berjalan melewati pintu dia membuatnya tampak seperti barang langka.
Aku mengusir pikiran itu dari benakku dan meletakkan keju di atas sandwich sebelum aku meletakkannya di wajan yang sudah diolesi mentega.
Aku bersumpah keluarga Hayes membingungkan aku terkadang.