Bab 21
Aku elus lembut kulitnya yang halus dan senyum.
Wih. Gak nyangka bidadari yang lagi rebahan di sini itu pacarku.
Dia berarti lebih dari yang dia kira buat aku. Sejak hari di pantai waktu kita baru lima belas tahun. Aku tahu dia cewek yang pengen aku habiskan sisa hidupku sama dia.
Aku kecup pipinya pelan sebelum menjauh dan ngumpulin keberanian buat bilang gimana perasaan aku yang sebenarnya.
Kalo yang terburuk terjadi, setidaknya dia lagi tidur.
"Aku-" Aku mulai ngaku sebelum bel pintu bunyi yang bikin aku ngegerutu dalam hati.
Serius, gak bisa nunggu sampe aku selesai ngomong?
Aku jalan ke pintu dan buka, langsung disambut sama tetangga sebelah yang biasanya cuma dateng buat ngeluh atau ngomel.
Aku angkat tangan dan usap pelipis karena frustasi dan bingung kenapa dia ada di sini.
"Ada yang bisa aku bantu, Karen?" Aku tanya ke wanita paruh baya itu sambil dia melototin aku lewat kacamata hitamnya.
"Aku datang buat ngadu tentang berisik yang aku denger tadi," katanya dengan suara yang bikin suara kuku di papan tulis jadi terdengar merdu.
Ya ampun, pasti dia.
"Berisik apa yang ganggu kamu kali ini?" Aku tanya dia dengan nada kesel.
Lo juga pasti kesel kalo tetangga paruh baya lo dateng ke rumah lo, berkali-kali seminggu, cuma buat ngadu tentang suara-suara yang dia denger dari rumah lo.
"Aku denger erangan dan bukan sembarang erangan, erangan cewek," katanya dengan tatapan curiga yang bikin aku memutar mata.
Dia serius, nih?
Amelia bahkan gak ngedesah sekencang itu atau setidaknya itu yang aku pikir.
Bahkan kalo pun iya, itu bukan urusan Karen.
"Oke? Pacar aku ngedesah agak kencang, gak ada salahnya bikin dia seneng," aku bilang sambil nyender di pintu dan nyilangin tangan.
"Aku bakal laporin ini ke polisi," katanya dengan nada yang kedengarannya dia punya kendali dalam percakapan ini.
"Silakan," kataku sambil mengangkat bahu.
"Aku bakal kasih tau mereka tentang tuduhan palsu kamu dan gimana kamu sebenernya udah ngerobos masuk ke properti aku karena kamu gak diinginkan di sini," kataku dengan nada bosan.
Dia melototin aku sebelum mundur menuruni tangga dan balik ke rumahnya di sebelah.
Cewek itu emang gila.
Aku tutup pintu dan balik badan, lihat ada bidadari di sofa, lagi istirahat dengan nyaman. Aku senyum sendiri sebelum jalan ke dapur buat siapin spageti biar pas Ibu dan Kembaran Stella balik, kita semua bisa makan malam keluarga.
-
"Easton!" Aku denger Kembaran Stella teriak yang bikin aku memutar mata ke kembaranku yang mulutnya gak ada rem.
"Berisik, Amelia lagi tidur," Aku bisikin ke dia sambil Ibu masuk setelah dia bawa tas belanjaan makanan.
Kembaran Stella memutar mata ke aku sebelum lari ke atas, ninggalin aku sama Ibu buat ngambil sisa tas makanan dari mobil.
-
Setelah kita beresin makanan dan tata spageti yang aku buat, aku putusin buat bangunin Amelia.
Aku keluar dari dapur ke ruang tamu cuma buat ketemu sama pemandangan Amelia lagi rebahan nyaman telentang sambil tidur nyenyak yang bikin aku senyum ke dia.
Aku berhenti pas aku berdiri di deket dia, aku tepuk pelan lengannya buat jaga-jaga kalo dia tidurnya gampang kebangun.
Pas aku sadar dia gak gampang kebangun, aku tepuk dia agak keras, tapi dia tetep gak gerak.
Aku nunduk sampe wajahku deket banget sama wajahnya, terus aku ciumin seluruh wajahnya yang bikin dia bangun sambil ketawa.
"Oke oke, aku bangun," katanya pas aku menjauh dan lihat sepasang mata biru gelap yang paling cantik ditemani senyum cerah yang langsung luluhin hati aku.
"Bagus, sekarang bangun," kataku sambil ngulurin tangan buat dia pegang, yang dia lakuin.
Pas dia berdiri dengan dua kakinya, ditemani lenganku yang melingkar erat di pinggangnya, dia masang muka bingung.
"Kamu bangunin aku cuma buat liatin aku?" Dia nanya yang bikin aku salah tingkah dan buang muka sambil memarahi diri sendiri dalam hati karena ketahuan.
"G-gak," Aku gagap tapi cepet-cepet ganti topik biar dia gak banyak nanya, "Aku bikin spageti, jadi, ayo makan," kataku yang bikin matanya berbinar.
"Gak usah bilang dua kali," Aku denger dia bergumam sebelum dia keluar dari pelukanku dan jalan ke dapur yang bikin aku memutar mata ke dia.
Sumpah, kadang cewek ini lebih cinta makanan daripada aku.
Aku masuk ke dapur dan lihat dia lagi duduk di kursi bar sambil makan sepiring besar spageti. Aku natap dia kayak dia gila.
Piring spageti itu lebih gede dari kepalanya.
"Kamu gila? Kamu gak bakal bisa habisin itu," kataku ke dia yang bikin dia liatin aku dan nyengir.
"Mau taruhan?" Dia nanya, aku langsung ngangguk, tau dia gak bakal habisin.
"Kalo aku habisin ini, berarti kamu harus nurut apa kata aku selama sisa hari ini," katanya dengan nakal di matanya.
"Deal. Kalo kamu gak habisin, berarti kamu harus nurut apa kata aku selama sisa hari ini," kataku yang bikin sesuatu berubah di matanya, jadi agak gelap.
"Deal," katanya sebelum dia lanjut makan sepiring pasta itu.
-
"Gue gak percaya lo beneran abisin sepiring spageti itu," Aku ngomong kaget pas dia makan suapan terakhir spageti dan naruh garpunya dengan seringai di wajahnya.
"Harusnya kamu gak ngeremehin aku," katanya sambil mengangkat bahu.
Aku gak akan pernah ngeremehin dia lagi.
"Jadi, gue harus nyuruh lo ngapain duluan, ya?" Dia nanya sambil nepuk-nepuk dagunya berpikir.
Mampus, apa yang baru aja gue masukin, sih?