Bab 23
"Duduk di kasur, deh. Gue mau ambil tisu basah buat hapus makeup," kata Amelia ke Easton sambil naruh tas makeup gue di meja riasnya.
"Please, hapus semua, ya," jawab dia dengan suara kayak lagi kesakitan, bikin gue ngakak. Gue pun keluar kamar dia, langsung ke kamar Kembaran Stella.
Gue ketuk pintunya, nunggu sampe dia nyuruh masuk.
Begitu masuk kamar, gue lihat dia lagi duduk di meja belajar, baca buku sambil pakai kacamata baca.
"Pinjem tisu basah makeup, boleh?" tanya gue sambil masuk kamar dia. Dia langsung nengok ke gue.
"Loh, kan lo gak pakai makeup," kata dia, mukanya bingung banget.
"Bukan buat gue, buat abang lo. Kalah taruhan," jawab gue.
"Terus kenapa dia butuh tisu basah makeup?" Dia makin bingung, terus tiba-tiba ngeh. "Amelia, lo..." katanya sambil senyum lebar.
"Iya dong, plus dia udah catwalk di Sephora," jawab gue sambil ngakak, keinget kejadian beberapa menit lalu.
"Foto gak?" tanyanya dengan muka penasaran.
"Ya iyalah," jawab gue sambil ambil handphone dan kirim fotonya ke dia.
Pas dia buka handphonenya, dia langsung ngakak kejer.
"Dia gak bakat jadi drag queen," katanya sambil ngusap air mata karena ngakak terlalu keras.
"Iya, dan sekarang gue pengen hapus makeup-nya," kata gue sambil senyum lihat reaksi dia.
"Ada di konter kamar mandi," katanya sambil nunjuk pintu yang ke kamar mandinya dia.
"Thanks," kata gue sambil berdiri dan ambil tisu basah makeup. Pas gue mau keluar kamar, dia nahan.
"Jadi, gak ada pelukan nih?" tanyanya dengan nada ngejek, bikin gue ngakak. Gue balik badan dan jalan ke arah dia.
Dia berdiri, gue peluk lehernya, terus senderin kepala gue di bahunya. Dia meluk gue erat, ngecengkram punggung bawah gue. Kita diem aja, nikmatin kehangatan satu sama lain.
"Kangen momen kayak gini," katanya setelah beberapa detik, bikin gue senyum setuju.
"Gue juga," jawab gue sambil meluk lebih lama lagi.
"Kayaknya gue harus hapus makeup-nya Easton, deh, sebelum dia kena serangan panik," kata gue sambil menjauh, tapi dia malah bingung.
"Kenapa emang?" tanyanya.
"Soalnya gue pakai foundation full coverage," jawab gue, bikin dia ngeh.
"Kita harus nginep besok malam, deh," kata gue, soalnya gue ngerasa kita udah jarang banget ngumpul akhir-akhir ini.
"Setuju! Soalnya gue ngerasa Easton kayak ngambil lo dari gue," katanya sambil cemberut, bikin gue senyum ke dia.
"Gak bakal gue biarin," kata gue sambil senyum. Gue pamit dan balik lagi ke kamar Easton.
Gue buka sepatu, terus naik ke badan Easton, sampai gue nungging di pahanya. Dia langsung nyengir ke gue.
"Ngapain nyengir, si biang kerok?" tanya gue sambil buka bungkus tisu basah makeup.
"Liat, lo lagi duduk di singgasana, nih," katanya, bikin gue melotot. Gue pukul bahunya.
"Jangan ngomong gitu, ah," tegur gue sambil pipi gue mulai merah.
"Gak usah sok polos, kita sama-sama tau kok lo gak polos," katanya. Gue mulai hapus bulu mata palsunya, terus bersihin kelopak mata dan alisnya. Tangannya langsung pegang erat pinggul gue.
"Gue gak ngerti, deh," jawab gue sambil terus nge-bersihin makeup-nya, biar dia gak curiga.
"Masa sih?" tanyanya, terus iseng nepuk bokong gue, bikin gue berdiri di lutut. Dia nepuk bokong gue lagi, bikin gue kaget, dan karena itu bikin gue horny.
"Stop, gue gak bisa fokus," kata gue sambil buang tisu basah makeup bekas dan ambil yang baru, buat bersihin makeup di pipinya.
"Oke, deh," dia menghela napas sambil cemberut. Dia naruh tangannya di pinggul gue lagi, bikin gue senyum. Gue kasih dia tatapan jail, terus lanjut hapus makeup-nya.
-
Empat tisu basah makeup kemudian.
"Akhirnya," kata gue sambil lihat wajahnya yang udah gak ada makeup.
"Udah selesai?" tanyanya, bikin gue senyum.
Dia sabar juga, ya.
"Udah," jawab gue sambil meluk lehernya.
"Mantap, sekarang gue bisa kayak gini," katanya. Sebelum gue sempat ngedip, gue udah tiduran telentang, lututnya di antara kaki gue, wajahnya tinggal beberapa senti dari wajah gue, tangannya ngejepit pergelangan tangan gue di atas kepala di kasur.
Dia natap mata gue yang abu-abu, warnanya makin gelap, bikin gue kaget.
"Mau gue bikin lo enak?" bisiknya dengan nada serak, napas mint-nya kena wajah gue.
"Y-Ya," jawab gue pelan. Cukup itu aja, dia langsung mulai cium dan gigit leher gue, lama-lama jadi ngisep dan gigit.
"Mmm," gue mulai desah, terus gigit bibir bawah biar gak kedengeran, apalagi karena Ibu di bawah dan Stella di lorong.
Gue rasain salah satu tangannya lepasin pergelangan tangan gue, terus dia usap lembut dari paha sampe tulang rusuk gue. Gue langsung ngangkat punggung, soalnya kayak kesetrum di mana-mana.
Gue rasain bibirnya lepas dari leher gue, terus dia lihat mata gue. Dia usap lembut jari-jarinya di paha bagian dalam, bikin punggung gue makin naik. Gue mulai megap-megap.
Ketegangan seksualnya, uh, tebel banget. Bisa buat duduk.
Begitu jari-jarinya nyentuh klitoris gue, bikin gue desah, dia langsung narik tangannya dan nyengir ke gue.
"Mau nonton film, sayang?" tanyanya sebelum dia turun dari gue dan jalan ke rak filmnya, ada tonjolan kelihatan dari celana khakinya. Gue mendesah dan guling ke samping.
"F*ck, anjir," teriak gue frustasi secara seksual, bikin Easton ngakak ke gue.
"Gue bilang bakal bales dendam atas ulah lo," katanya sambil mengangkat bahu.
"Lo baru aja ngajak perang, Easton Hayes," kata gue sebelum berdiri dan masuk kamar mandinya buat mandi air dingin.
"Klamidia dan kalau gak diobati, lo bakal mati," kata Guru Pendidikan Seks gue.
Ngapain sih kita ada kelas kayak gini. Kita semua udah tau tentang hal ini.
"Denger gak, Amelia?" bisik Stella di samping gue dengan nada ngejek, bikin gue ngakak.
"Apa yang lucu, Nona Montgomery?" guru itu bertanya dengan nada kesal.
Shit, gue keras banget, ya?
"Gue cuma mikir lucu aja, kalau Chlam di Klamidia kayak Clam," gue bohong dengan senyum.
Ya ampun, pasti kedengeran bodoh banget.
"Gue gak dibayar buat ngurusin ini," katanya sebelum melanjutkan pelajarannya.
Gue dapat pesan pas di tengah pelajaran. Gue lihat ke guru, punggungnya lagi menghadap, jadi gue buka handphone dan lihat, itu dari Easton.
Easton- Ketemu gue di perpustakaan
Dia beneran gila, ya?
Dia kenapa sih?
Amelia- Gak bisa keluar kelas nih. Guru udah benci gue, lol
Gue matiin handphone dan lanjut nulis catatan, sampai handphone gue bunyi lagi.
Easton- Gue punya rencana
Ya Tuhan.
Guru terus ngajar, sampai kita dengar pengumuman di interkom, yang langsung bikin mereka diem.
"Amelia Montgomery, harap datang ke kantor," gue dengar pengumuman, bikin gue malu. Semua orang tiba-tiba ngeliatin gue.
Guru cuma ngasih isyarat, terus gue beresin barang-barang dan bawa, soalnya kelas ini hampir selesai.
Sesampainya di kantor, gue lihat gak ada orang dewasa atau murid. Gue ketuk pintu Kepala Sekolah, terus dapat jawaban pelan, "Masuk."
"Ngapain lo di sini? Lo bakal kena masalah," kata gue sambil lihat Easton duduk di kursi Kepala Sekolah, kakinya di atas meja, kayak dia yang punya tempat ini.
"Lo kebanyakan khawatir, sayang," katanya dengan nada ngejek, terus dia turunkan kakinya, berdiri, dan jalan ke gue. Dia ambil buku gue dan taruh di meja, terus dia dudukin gue di kursi dan taruh tangannya di bahu gue.
"Lo tegang," katanya sambil cemberut, terus tiba-tiba nyengir. "Biar gue benerin."
Dia mulai tekan bahu gue pelan-pelan, terus digeser ke luar dan diulang.
Gue langsung rileks dan bersandar ke sentuhannya.
"Enak gak?" tanyanya dari belakang gue.
"Mhm," jawab gue dengan mata tertutup.
Kok dia jago banget sih?
Tiba-tiba, gue dapat ide, biar kita seimbang. Soalnya dia pikir ngejek gue seru banget semalam.
Gue berdiri dan menghadap dia, bikin dia bingung. Gue cuma nyengir ke dia.
"Lo duduk, gue bantu lo rileks," kata gue sambil pegang bisepnya dan coba arahkan dia ke depan kursi.
Begitu dia duduk di kursi, gue jalan ke belakang dia dan coba pijat dia.
Dia mengerang pas gue tekan dan usap bahunya, gue kira gue udah bener.
Gue putusin buat mulai rencana gue, pas gue rasain dia rileks dan lihat dia menutup mata.
Gue mendekat dan mulai cium rahangnya, terus terus ke bawah, sampe gue dapat titik tekan, bikin dia tersentak.
"Ngapain?" tanyanya dengan bisikan menggoda, bikin gue senyum. Gue dapat efeknya, nih.
"Lagi mijit lo, sayang," bisik gue ke titik tekan, terus gue mulai ngisep, bikin dia mengerang dan melempar kepalanya ke belakang, tangannya mengepal, kayak lagi nahan buat gak nyentuh gue.
Gue gigit kulitnya pelan, bikin dia gigit bibir.
"Jangan 'sayang' gitu," katanya dengan desahan menggoda, pas gue berhenti ngisep dan menjauh.
"Oh, ya?" tanya gue dengan alis terangkat, terus gue jalan keliling kursi dan nungging di pangkuannya.
"Iya," katanya sambil mengerang. Gue duduk di pangkuannya, tapi gue 'gak sengaja' usap tangan gue di penisnya yang udah mulai ereksi, terus gue meluk lehernya.
"Dan lo gak akan lolos," katanya sambil natap mata gue yang abu-abu gelap dan pegang pinggul gue, sampai dada kita nempel.
"Masa sih?" kata gue sambil nyengir, soalnya dia horny, dan gue harus bikin dia frustasi secara seksual biar rencana gue berhasil.
Dia tiba-tiba geser tangannya ke bawah, terus taruh di paha gue, terus naruh kepalanya di bahu gue.
"Gue tau semua titik lemah lo," bisiknya sebelum dia cium titik tekan gue, bikin gue otomatis desah keras.
"Sst," katanya sebelum dia ngisep tulang selangka gue, bikin gue gigit bibir bawah biar gak desah lagi.
Pas dia selesai ngisep, kita saling pandang selama beberapa detik, terus kita ciuman panas, kayak kita bakal kehabisan oksigen kalau bibir kita gak nempel.
Kita mungkin kelihatan kayak monyet yang lagi birahi.
Kalau lo gak ngeh, gue hampir lupa sama rencana begitu bibirnya nyentuh gue. Bukan salah gue. Ciuman itu kayak narkoba, dan gue relanya.
"Gue ada kelas," bisik gue kehabisan napas di sela ciuman, coba mikir jernih, tapi gue makin jauh dari kenyataan, makin lama bibir kita nempel.
"Mereka udah lihat lo cukup, sekarang giliran gue," katanya sebelum mulai ngisep leher gue lagi, bikin gue pelan-pelan mendesah.
Pas dia selesai ngisep, dia angkat jarinya, taruh di bawah bra gue, terus mata abu-abunya yang tadinya terang, natap mata biru gelap gue dengan nafsu dan haus.
Sebelum dia ngomong, bel bunyi, tanda kita ganti kelas. Gue senyum ke Easton, terus turun dari pangkuannya dan ambil buku.
"Ketemu lagi pas latihan bola, ya," kata gue sambil lihat wajahnya yang menggoda dan ekspresi wajah yang terangsang, terus buka pintu dan keluar ruangan sambil senyum.
Kayaknya, rencana gue berhasil, deh.