Bab 16
Hari Rabu dan meskipun aku benci bilang ini... aku salah. Aku tahu Kembaran Stella gak pernah make narkoba, tapi itu bikin aku kaget banget sampai-sampai aku percaya aja kalau dia beneran make. Harusnya aku dengerin dia. Dia gak pernah ngasih aku alasan buat gak percaya sama dia.
Jadi, inilah aku sekarang. Dua jam sebelum acara semangat, nyetir ke rumah Kembaran Stella buat minta maaf atas kesalahan-kesalahanku.
Aku berhenti di depan rumahnya dan ngelihat mobilnya di halaman. Aku keluar dari mobil dan benerin seragam cheerleader-ku, biar kelihatan rapi.
"Semoga berhasil," kataku sambil jalan ke beranda rumahnya dan ngetuk pintu depan.
"Ngapain kamu di sini?" Aku denger Easton bilang sambil buka pintu. Aku tarik napas dalam-dalam dan ngeluarinnya.
"Aku datang buat minta maaf sama kamu dan Kembaran Stella. Aku udah kayak cewek brengsek akhir-akhir ini," kataku sambil ketawa hambar. "Jujur, aku gak nyalahin kamu atas reaksi kamu waktu aku cerita tentang narkoba," kataku sambil ngasih dia senyum tipis.
Dia natap aku beberapa detik sebelum sudut bibirnya naik dan dia meluk aku. Aku bales pelukannya dan rileks sebelum aku menjauh.
"Kamu gak seharusnya ada di sekolah buat pemanasan sama pemain bola yang lain?" tanyaku bingung.
"Aku mau ke sana sebelum kamu ngetuk pintu," katanya cuek.
"Oh, maaf. Aku langsung naik aja deh buat ngomong sama Kembaran Stella," kataku sambil jalan melewati dia dan naik tangga sampai aku sampai di kamar Kembaran Stella.
Aku tarik napas dalam-dalam dan ngetuk pintu, tapi gak ada yang jawab. Jadi aku masuk ke kamarnya dan ngelihat dia di tengah ruangan lagi goyang-goyang badan sambil meluk lututnya.
Aku langsung lari ke arahnya dan jatuh berlutut supaya bisa meluk dia erat-erat.
Napasnya gak teratur dan ada coretan maskara di wajahnya. Ada kantung mata yang kelihatan kayak dia gak tidur berhari-hari. Dia pake celana training dan sweater. Baunya juga kayak dia gak mandi beberapa hari. Aku khawatir.
Aku gak bisa gak nanya. Apa aku yang bikin dia kayak gini?
"Sst - gak apa-apa kok," kataku sambil ngusap punggungnya dengan lembut.
"Aku minta maaf banget. Aku gak maksud semua ini terjadi," kataku sambil mulai berkaca-kaca.
Jangan bilang aku yang menyebabkan ini terjadi.
"Tenang, Amelia," kata Kembaran Stella dengan tegas.
"Cuma serangan panik, aku bakal baik-baik aja," katanya sambil narik napas dan buang napas dengan gemetar.
"Aku gak bakal pergi sebelum kamu tenang," kataku dengan tenang saat dia menjauh dari aku dan natap mata aku.
"Kenapa? Kamu kayaknya gak peduli waktu kamu praktis manggil aku pecandu narkoba," katanya dengan ekspresi keras, tapi aku ngerti kenapa.
"Aku tahu. Aku salah atas apa yang udah aku lakuin. Aku cuma kaget banget sama apa yang mereka kasih tahu, sampai aku gak mau denger lagi," kataku sambil natap matanya yang merah.
"Aku percaya sama kamu. Tapi gimana kalau kamu beneran make narkoba, aku gak akan tahu harus gimana," kataku sambil setetes air mata jatuh dari mata aku, tapi aku langsung ngusapnya.
Tiba-tiba dia meluk aku erat-erat saat lebih banyak air mata mulai jatuh di wajahku.
"Aku sayang banget sama kamu, Kembaran Stella," kataku saat air mata mulai mengalir deras. "Aku gak mau lihat kamu nyakitin diri sendiri atau masa depan kamu," kataku sambil dia ngusap punggungku dan nyium pucuk kepalaku.
"Aku ngerti," katanya, bikin aku meremas pinggangnya dalam pelukan penghargaan.
"Aku maafin kamu, aku gak pernah bisa marah sama kamu," katanya sambil menjauh dan ngusap air mata aku.
"Kembaran Stella, aku hargai kamu dan semua yang kamu lakuin buat aku," kataku sambil megang tangannya.
"Tapi bisakah kamu mandi dulu?" kataku, bikin kami ketawa lepas.
"Oke, aku bakal siap-siap cepet sebelum kita pergi," katanya, bikin aku bingung.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku seolah aku ketinggalan sesuatu yang penting.
Dia senyum ke reaksi aku. "Aku mau ke acara semangat buat lihat kamu cheer. Kamu cheer buat kita berdua sekarang," katanya, bikin aku niruin senyumnya.
"Aduh, kamu punya waktu tiga puluh menit loh," kataku sambil berdiri dan ketawa ke ekspresi kagetnya.
"Ayo," kata Kembaran Stella sambil lari melewati aku menuruni tangga dan keluar menuju mobilku, bikin aku ketawa karena sikapnya yang bersemangat dan ngikutin dia.
Sial, aku kangen dia.
"Amelia, kok lama banget sih?" Emma nyemprot aku waktu aku jalan di sampingnya dengan pom-pom di tangan.
"Aku lagi ngobrol sama sahabatku, maaf," kataku tanpa minta maaf saat pengatur waktu mati sebelum pemain bola lari keluar.
"Aku gak milih kamu jadi co-kapten cheerleader biar kamu ngecewain aku," katanya sebelum sisanya cheerleader, termasuk dia, mulai cheer buat pemain bola.
"Semuanya, kasih tepuk tangan buat tim sepak bola Rosewood High kita," teriak Kepala Sekolah saat para pemain melakukan pemanasan sebelum mereka membagi diri menjadi dua kelompok, sama rata, dan mulai bermain.
"Mereka butuh semangat," aku denger Emma bilang saat dia mempelajari kedua tim dengan seksama seolah-olah itu pertandingan sepak bola sungguhan.
"Amelia, pimpin cheer pertama kita malam ini," kata Emma tanpa bantahan.
Aku keluar dari kerumunan dan melihat ke depan sehingga aku menghadap tribun tempat semua orang melihat ke permainan di belakang kami atau mereka melihat ke aku.
"Siap. Oke," teriakku saat aku menepuk tangan pom-pom-ku dan bersiap untuk cheer.
"Bersikap agresif, B-E agresif!" Semua cheerleader berteriak serentak.
"B-E A-G-G-R-E-S-S-I-V-E" Kami berteriak saat kami menghadap pemain bola lagi.
"Bersikap agresif!" Kami berteriak sekali lagi sebelum seseorang mencetak gol, membuat kami semua heboh.
Aku melihat nomor punggung pria itu dan melihat nomor tiga, aku memastikan untuk mengukirnya di pikiranku kalau-kalau informasinya dibutuhkan.
"Kami akan memberi pemain kami istirahat sebentar dan memanggil jeda," kata Kepala Sekolah saat dia menjelaskan di mana stan makanan dan minuman berada.
"Hei, aku mau ambil minuman," kataku sambil nepuk bahu Emma.
"Oke, cepetan balik. Kamu pimpin lagi dalam sepuluh menit," katanya sebelum dia kembali ngobrol sama Amber tentang entah apa.
Aku berjalan ke stan konsesi dan minta air mineral, begitu aku dapat botolku, ada masalah.
"Amelia, tolong. Easton terluka," Anak laki-laki acak dengan nomor punggung enam belas berkata, membuatku bingung.
Kenapa dia ngomong sama aku?
"Di mana dia?" tanyaku saat suaraku makin keras. Aku gak bisa bedain apakah orang itu takut sama nada bicaraku atau tidak karena dia masih pake helmnya.
"Aku tunjukin," katanya saat dia lari ke arah ruang ganti.
Aku lari ngejar dia saat dia berhenti di depan ruang ganti cewek, tapi dia dengan cepat mendorongku masuk dan mengunci pintu sebelum aku bisa melakukan apa pun.
Sialan.
"Halo," teriakku sambil terus-terusan ngebanting pintu.
"Buka pintunya, bodoh," teriakku sambil nyoba nendang pintu, tapi gak ngaruh apa-apa.
Aku mau ngebanting pintu lagi, tapi aku dihentikan oleh sebuah suara.
"Gak bakal bisa, aku udah nyoba," katanya.
"Easton?" tanyaku saat aku berbalik dan ngelihat dia santai duduk di salah satu bangku.
"Kamu tahu siapa yang ngelakuin ini?" tanyaku saat aku berjalan ke arahnya dengan ekspresi panik di wajahku.
"Mereka mau ngerjain cheerleader," katanya simpel saat dia natap aku tanpa ekspresi di matanya.
Ada apa sih sama dia? Apa dia baik-baik aja?
"Siapa mereka?" tanyaku.
"Tim sepak bola," katanya.
Aku nyoba mikir keras buat cari alasan kenapa atau siapa yang bakal ngelakuin ini.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena gak ada yang suka sama mereka. Para jalang itu bakal ngerasain akibatnya," katanya simpel saat dia bersandar tanpa ekspresi.
"Aku salah satunya. Kenapa aku gak di sana?" tanyaku bingung saat aku ngebanting pintu lagi dan berharap bisa menarik perhatian seseorang.
"Kamu pikir aku gak tahu tentang kamu?" Katanya saat dia berdiri dan pelan-pelan berjalan ke arahku dengan cara yang mengintimidasi.
"Kamu pikir aku gak tahu perasaan kamu ke aku?" Katanya dulu saat mataku terbelalak kaget.
"Kamu pikir aku gak tahu tentang Emma yang hampir memujamu sampai kamu jadi co-kapten cheerleader," katanya saat dia berhenti di depanku.
"Kamu pikir aku cuma mau yang terbaik buat kamu, kamu salah," katanya saat dia kembali ke kursinya dan natap aku.
"Aku akui, mungkin dulu iya. Sampai kamu nyakitin hati aku," katanya saat dia cemberut ke aku. "Hari kamu nyakitin hati aku adalah hari aku berhenti peduli sama kamu," katanya simpel dan tanpa ekspresi.
"Terus kenapa aku gak di sana? Kena hukuman apa pun yang di terima cheerleader lain," tanyaku hati-hati.
"Aku berhutang budi sama kamu. Aku gak nyangka kamu bakal minta maaf sama aku, jadi aku bayar budi dengan bantuin kamu," katanya.
"Aku minta maaf sama kamu karena aku peduli sama kamu," kataku saat aku pelan-pelan mendekatinya.
"Mulutmu bilang satu hal, tapi tindakanmu bilang hal lain," katanya saat dia menjauh dari aku.
"Tindakan aku bilang hal lain?" tanyaku saat aku mulai sedikit frustrasi.
"Iya," katanya saat dia menjauh dari aku.
Aku pegang tangannya dan merangkai jari-jari kami.
"Aku minta maaf atas apa yang udah aku lakuin beberapa hari ini, tapi itu udah lewat. Aku gak bisa apa-apa lagi sekarang," kataku saat dia menatap mataku lagi, tapi kali ini emosi melewati mata mereka.
Cinta.
Jantungku langsung berdebar kencang dan aku tersentak.
Dia bangkit dan keluar pintu yang tiba-tiba terbuka.
Kapan pintu kebuka? Lupakan itu, siapa sih orang itu? Itu bukan Easton. Dan apa maksudnya aku ninggalin dia patah hati? Apa dia suka sama aku?
Aku keluar dari ruang ganti dan menuju ke belakang sekolah tempat acara semangat diadakan.
"Hei, ada apa? Kamu tiba-tiba menghilang," aku denger Kembaran Stella bilang saat dia meraih lenganku saat aku melewati tribun. Aku berbalik untuk melihatnya dan dia kelihatan sedih dan bingung di wajahnya.
"Um, aku baik-baik aja," kataku sambil tersenyum buat bikin kelihatan realistis.
"Kamu ke mana sih?" aku denger Emma berteriak dari belakangku.
Aku berbalik untuk ngelihat bukan cuma dia, tapi seluruh tim cheerleader penuh sama cairan kuning yang bau amis.
Apa ini yang dimaksud Easton saat dia bilang dia nyelamatin aku?
"Aku ke kamar mandi," aku bohong biar gak perlu jelasin seluruh percakapan sama Easton.
"Gara-gara kandung kemih kecilmu, kami kena semua ini. Sekarang kami jadi bahan tertawaan di seluruh sekolah," katanya sambil menyilangkan tangannya.
"Jalang dapat apa yang pantas mereka terima," aku denger suara tanpa ekspresi itu berkata. Aku berbalik untuk melihatnya di bawah tribun, tapi aku berbalik ke kiri dan aku ngelihat Kembaran Stella natap aku dengan ekspresi khawatir.
Ada apa ini?