Bab 35
Akhirnya.
Hari Wisuda tiba.
Aku pakai gaun putih yang kelihatan mewah tapi santai.
Stella pakai gaun merah sutra yang panjangnya sampai lutut.
Begitu kita berdua sampai di sekolah, kita langsung ke belakang panggung buat ambil topi dan jubah.
"Kamu kelihatan suci," kata seseorang dari belakangku, bikin aku noleh. Ternyata, aku langsung berhadapan sama Easton. Aku senyum ke dia sebelum masuk ke pelukannya dan melingkarkan tangan di lehernya.
"Gak akan lama," kataku sambil nyengir sebelum nyium bibirnya dan ngeliatin dia.
Dia pakai tuksedo hitam putih biasa aja, bikin aku pengen bawa dia ke ruangan kosong.
"Sayang, kamu ngiler," katanya sambil ketawa kecil sebelum ngusap sudut mulutku pakai jempolnya.
"Sial, aku rasa kamu gak boleh pakai tuksedo di depan aku. Bikin aku pengen ngerobeknya dan bawa kamu sekarang juga," bisikku sambil nempelkan dahi kita, bikin dia ketawa.
"Kamu tahu, kamu ngebuang jauh-jauh komentar suci aku," katanya, bikin aku nyengir karena mau nyium dia.
"Amelia Montgomery," suara Guru manggil namaku.
Huuh.
Gak lihat apa ya aku lagi sibuk.
Aku mengeluh, bikin Easton ketawa sebelum dia menjauh dan mendorongku pelan ke arah Guru karena aku pakai hak tinggi. Guru bantu aku pakai topi dan jubah sebelum dia nyuruh aku ke barisan yang semua orang berbaris sesuai urutan abjad nama depan.
"Kita akan mulai upacara dalam beberapa menit lagi," kata Kepala Sekolah lewat mikrofon di sisi panggung.
Tiba-tiba aku mulai gugup, bikin telapak tanganku berkeringat.
Gimana kalau aku gak dapat beasiswa?
Gimana kalau Easton atau aku harus sekolah di negara bagian lain dan terpisah?
Gimana kalau dia mutusin aku karena gak kuat LDR?
"Tenang," kata Easton, bikin aku ngelihat ke atas, ke matanya yang abu-abu tenang.
"Semuanya bakal baik-baik aja," katanya sambil meraih dan memegang pipiku biar aku gak bisa ngalihin pandangan.
"Gimana kalau kita gak kuat LDR dan akhirnya putus?" kataku, air mata mulai menggenang di mataku, bikin rasa sakit dan sedih di matanya.
"Itu gak akan terjadi kecuali ada alasan yang sangat kuat," katanya sambil ngusap air mataku pelan biar gak luntur make upku.
Aku dalam hati berterima kasih sama dia.
"Janji?" tanyaku sambil sesenggukan dan cemberut, bikin dia ketawa sebelum dia mendekat dan nyium bibirku.
"Janji," katanya sebelum Kepala Sekolah mulai perkenalan yang berarti kita harus keluar dalam beberapa menit.
Aku, lebih awal dari yang lain karena nama depanku dimulai dengan 'A'.
-
"Amelia Montgomery," Kepala Sekolah mengumumkan.
Oke, tarik napas dalam-dalam.
Aku senyum terus jalan keluar dari balik tirai sebelum menuju ke Wakil Kepala Sekolah, yang megang ijazahku.
Aku ambil ijazahnya sebelum nunjukkin dan senyum biar fotografer bisa ambil foto buat buku tahunan musim panas.
"Amelia dapat beasiswa dari UCLA dan Yale," katanya, bikin aku senyum dan menghela napas lega.
UCLA adalah sekolah impianku.
Jadi, aku pasti bakal milih ke sana pas musim panas selesai.
Semua orang tepuk tangan saat aku turun tangga, di sisi panggung, dan menuju ke tempat duduk yang sudah ditentuin di depan panggung bareng teman-teman sekelasku.
Asher dapat beasiswa ke Duke University dan University of Pennsylvania.
Easton dapat beasiswa ke UCLA, Stanford, dan Harvard.
Aku kaget dia masuk Harvard karena gak ada orang lain di sekolah kita yang bisa.
Aku mungkin orang paling berisik pas semua orang tepuk tangan buat dia, bikin dia ketawa ke aku sebelum dia jalan ke tempat duduknya.
Emma dapat beasiswa ke Stanford dan Princeton.
Bilang dia kaget itu understatement banget.
Dia bahkan mulai nangis pas jalan dari panggung.
Stella dapat beasiswa ke Yale, Princeton, dan Harvard.
Pas Kepala Sekolah selesai nyebutin beasiswanya, Ibu teriak sesuatu yang bikin Stella malu dan ngasih tatapan tajam ke Ibunya sebelum dia jalan dari panggung.
-
Begitu wisuda selesai, aku bilang ke Easton buat ketemu aku di luar dekat air mancur biar kita bisa punya waktu berdua.
Ya, sepi kayak gimana sih kalau ada lebih dari dua ratus siswa yang dikelilingi keluarga mereka.
Aku ngerasa ada tangan melingkar di pinggangku dan ngangkat aku sebelum muterin aku, bikin aku ketawa sambil pegangan pergelangan tangannya.
"Turunin aku. Aku pakai hak tinggi," kataku pas ngerasa salah satu wedgesku copot karena aku gak pasang tali dengan kencang.
Dia naruh aku, terus ngerubah posisi kita biar badan kita nempel sambil kita saling pandang.
"Gak nyangka kamu masuk Harvard," ceplosku sambil mukul bahunya, bikin dia ketawa.
"Aku juga," katanya sebelum kita terganggu sama Stella dan Asher.
"Buat semua jalang yang bilang aku gak pinter, lihat aku sekarang," Stella ngomong keras-keras sambil jalan ke arah kita, bikin Easton dan aku ketawa ngakak.
"Reservasinya satu jam lagi. Kalian mau ngapain?" tanyaku ke mereka semua tapi kita terganggu sama orang tua kita.
"Amelia, Ibu bangga banget sama kamu," kata Nyonya Hayes sambil nyamperin aku dan melukku, bikin Easton dan Stella kaget dan mendengus.
"Ibu?" tanya mereka serentak, bikin dia noleh ke mereka dengan ekspresi bingung.
"Kenapa?" tanya Nyonya Hayes polos.
"Dia gak bikin aku pengen nyabutin rambut kayak kalian berdua," katanya, bikin mereka memutar mata.
"Gak nyangka Stella masuk Yale padahal dia gak pernah belajar dan gak nyangka Easton masuk Harvard padahal dia hampir gak merhatiin di kelas," kata Nyonya Hayes, bikin rahang mereka jatuh sementara Asher dan aku ketawa terbahak-bahak.
"Amelia, Ibu bangga banget sama kamu," kudengar Ibu berkata, bikin aku berhenti ketawa dan noleh ke dia dengan kaget.
Dia gak ada di sini pagi ini.
Aku jalan ke dia dan meluk dia erat banget, takut aku bisa meledakkannya.
Dia bilang dia mungkin gak bisa datang wisuda karena pesawatnya delay.
"Aku kira pesawat Ibu delay," kataku dengan suara pelan sambil nyembunyiin kepala di bahunya.
"Ibu memutuskan untuk boros dan naik jet pribadi," katanya sambil mengangkat bahu, bikin aku ketawa saat aku menjauh dan air mata jatuh di pipiku.
Dia ngusap air mataku sebelum aku tiba-tiba sadar kalau dia belum pernah ketemu Easton sebagai pacarku.
Aku jalan ke Easton dan pegang tangannya sebelum aku narik dia ke Ibu.
"Ini pacar aku," kataku, bikin dia senyum.
"Jadi, Ibu tebak dia yang mutusin kamu pas seseorang ngelempar bola ke kalian berdua?" tanyanya, bikin aku senyum saat Easton nunduk malu.
"Yup, itu aku," katanya sambil tersipu malu.
"Ibu selalu tahu kalian berdua bakal berakhir bersama," katanya, bikin aku ngelihat ke dia dengan bingung.
Kenapa kedengarannya familiar banget?
Oh, iya, Nyonya Hayes ngomong hal yang sama.
"Pandangan yang kalian berdua kasih ke satu sama lain pas kalian pikir gak ada yang merhatiin," katanya.
Easton dan aku nunduk sambil tersipu, bikin Ibu tertawa.
Aku suka banget gimana kuatnya hubungan kita.
Aku suka gimana bahkan saat kita marah satu sama lain, kita tetap merasa terhubung entah bagaimana.
Aku suka gimana bahagianya Easton bikin aku rasain sejak kencan pertama kita.
Aku cinta dia.