Bab 18
Gue udah duduk di ayunan beberapa menit terakhir sementara **Easton Hayes** mondar-mandir di depan gue.
"Maaf banget, gue gak pernah maksud semua ini terjadi," kata gue sambil nunduk ke tangan gue dengan ekspresi malu. "Gue didorong ke lo dan itu terjadi. Gue gak akan pernah manfaatin lo," kata gue, tapi dia narik gue berdiri dan meluk gue.
"Gue gak pernah bermaksud buat ngehancurin hati lo," kata gue sambil meluk balik dia sebelum mundur.
"Lo gak pernah ngehancurin hati gue, **Amelia**," katanya, bikin gue bingung.
"Terus kenapa lo bilang gitu?" tanya gue.
"Gue cuma mau lihat apa lo beneran peduli sama gue," katanya.
"Dengan bilang gue ngehancurin hati lo?" tanya gue bingung, gak percaya, dan mungkin agak marah.
"Iya, gue gak mikir panjang," katanya sambil garuk-garuk leher dengan ekspresi bersalah.
Gue pukul bisepnya dan nyilangin tangan.
Gue khawatir gara-gara gak ada apa-apa berkat cowok brengsek ini.
Gue menjauh dari dia dan jalan di trotoar, dia langsung nyusul gue.
"**Amelia**, lo gak bisa ngacangin gue," katanya, bikin gue marah besar.
"Emang kenapa sih?" bentak gue sambil balik badan dan natap dia.
"Karena gue terlalu cinta sama lo buat ngebiarin lo pergi lagi," katanya sambil natap mata gue.
"Cara lo nunjukkinnya aneh," kata gue sambil mikirin kejadian di ruang ganti.
"Gimana kalau gue ajak lo kencan besok malem?" tanyanya sambil genggam tangan gue dan ngusap pelan punggung tangan gue.
Gue senyum sambil mikirin betapa anehnya kita. Kita bisa dari berantem jadi baik dalam beberapa menit aja. Selalu gitu. Bahkan waktu kita masih kecil.
Gue ngangguk. "Oke," kata gue sambil ngaitin jari kita dan kita jalan balik ke mobil.
–
Gue masuk ke pintu depan rumah mereka dan langsung naik ke kamar **Stella**.
Pas gue masuk kamarnya, gue lihat dia lagi nonton film. Dia nengok ke gue pas denger pintu kebuka dan senyum.
"Akhirnya dia berani juga nembak lo?" gue denger dia bilang sebelum dia balik fokus ke film dan nepuk-nepuk tempat di sampingnya di kasur, bikin gue salting.
Gue jalan mendekat dan duduk di tempat yang dia tawarin di kasurnya sebelum gue berdeham biar pikiran gue fokus ke topik lain.
"Lo masuk sekolah besok?" gue tanya dia karena gue pengen banget ganti obrolan biar gak jadi orang bego yang salting terus.
"Iya kan?" katanya sambil nyengir sambil merhatiin muka gue yang salting, bikin gue ngangguk.
"Bagus, tapi dia kan abang gue, jadi kalau lo nyakitin hatinya, gue gak bakal ragu buat ngehajar lo." katanya, bikin gue natap dia dengan mata terbelalak karena takut dan kaget.
"Ngerti," kata gue sebelum pintu kamarnya kebuka dan kepala **Kembaran Stella** nongol.
"Boleh gue ngomong sama **Amelia** sebentar?" tanyanya ke **Stella** dengan ekspresi semangat di wajahnya.
"Di sinilah kita berpisah, temanku," kata **Stella** sambil berlagak, bikin gue muter mata ke arahnya dan senyum.
Gue berdiri dari tempat gue di kasurnya dan jalan ke arah pintu, gue buka pintunya dan dia ngikutin di belakang sambil naruh tangan di punggung gue sementara tangan lainnya nutup pintu.
Kita jalan menyusuri lorong dan masuk ke kamarnya biar kita punya sedikit privasi buat topik apapun yang pengen dia bahas.
Gue duduk di kasurnya, tapi gak lama kemudian dia duduk di sandaran kepala, dia ngangkat gue dari pinggul, bikin gue berteriak kecil sebelum dia naruh gue di pangkuannya, bikin gue salting lagi.
"Jadi, um, lo mau ngomongin apa?" gue tanya dia sambil dia naruh tangannya di paha gue biar gue gak jatuh.
"Lo inget pantai yang kita datengin pas umur lima belas tahun?" tanyanya sambil natap mata gue dalem-dalem.
"Iya, gimana bisa gue lupa. Gue suka banget pantai itu, masih suka," kata gue sambil senyum mengingat semua kenangan dari hari itu.
Dia senyum ke jawaban gue. "Gimana kalau kita kesana buat kencan pertama kita?" dia nanya gue dengan tatapan penuh harapan di matanya.
"Gue suka banget," kata gue sambil senyum saat dia mulai mendekat, bikin gue susah napas pas kita cuma beberapa inci lagi.
"Ini oke?" bisiknya, bikin gue ngerasain hembusan nafas hangatnya di bibir gue.
"Iya," kata gue saat dia ngeliat dari mata gue ke bibir gue, bikin gue ngerasain sensasi geli di perut bagian bawah gue.
"Boleh gue cium lo?" tanyanya sambil maju sedikit lagi, bikin bibir kita bersentuhan, bikin gue ngerasain sensasi listrik di bibir gue saat mereka mulai geli.
"Iya," kata gue sebelum kita sama-sama maju, bikin bibir kita bertemu dalam ciuman yang penuh gairah.
Gue meluk lehernya dan narik kita lebih deket lagi, kalau itu memungkinkan, saat dia ngeratin pelukannya di paha gue, bikin gue mengerang pelan saat dia ngejilat bibir bawah gue minta izin, tapi gue tetep nutup mulut gue dan nyengir saat dia mengerang frustrasi.
Dia menggerakkan tangannya lagi buat ngeremas bokong gue, bikin gue tersentak kaget saat dia mengambil kesempatan itu buat masukin lidahnya ke mulut gue sambil mendorong gue lebih deket ke arahnya dengan tangannya bersandar di bokong gue.
Kita terlalu asik sama momen itu sampai gak denger pintunya kebuka. Kita cuma berhenti pas orang itu teriak, ngasih tau kehadirannya.
"Gue pergi dinas dua minggu dan pulang cuma buat liat lo sama cewek lagi ciuman di kamar lo," suara yang sangat familiar itu berseru, bikin gue loncat dari pangkuan **Easton** dan natap wanita itu dengan ekspresi kaget dan pipi merah.
"M-maaf N-**Nyonya Hayes**," kata gue ke wanita itu saat dia noleh ke gue dan ekspresinya tiba-tiba berubah jadi ekspresi sadar dan bahagia.
"Hai **Amelia**. Gue seneng ketemu lo lagi, tapi gak dengan cara ini," katanya dengan sedikit tawa, bikin rona merah gue makin dalam.
"Ibu, dia cuma bantuin gue ngilangin sesuatu dari bibir gue," katanya mencoba membela tingkah laku gue yang cuma bikin ibunya ketawa makin kenceng.
"Itu kenapa lo tegang dan kenapa putingnya dia agak terlalu bersemangat?" katanya, bikin **Easton** dan gue sama-sama nunduk ke area yang dia maksud di tubuh kita dan ambil bantal buat nutupinya.
Sial. Harusnya gue pake bra hari ini.
"Gue gak marah sama kalian, cuma kaget," katanya, bikin kita berdua rileks.
"Tapi jangan lakuin sesuatu yang kalian sesalin ya," katanya sebelum keluar dari kamar, nutup pintu di belakangnya.
"Gue rasa gue mau ke kamar **Stella** sementara lo um-" kata gue sambil salting dan garuk-garuk leher sebelum gue nunjuk bantal yang nutupin tenda di celananya.
"Iya oke- um- nanti ketemu lagi?" tanyanya sambil garuk-garuk lehernya dengan gugup juga.
"Iya, nanti," gue ngeyakinin sebelum gue lompat dan buru-buru keluar dari kamar karena malu dan masuk ke kamar **Stella**, cuma buat liat dia udah tidur.
Gue lepas sepatu gue dan ngiket rambut gue jadi sanggul sebelum gue rebahan di tempat kosong di kasurnya dan langsung ketiduran karena kehangatan yang kasurnya kasih.