Bab 17
"Kita mau mandi terus langsung ke pesta si Jake nanti malam," kata Emma sambil noleh ke aku, pasang muka nuduh.
"Kalau kita kena prank lagi, lo keluar dari geng," katanya.
"Kenapa? Dia hal terbaik yang terjadi di geng ini selama tiga tahun," aku denger Easton ngomong dari belakang, bikin Emma langsung tegak dan muter-muter rambutnya yang kuning bau itu di jari.
"Ya iyalah, kan cuma bercanda. Duh," katanya sambil cekikikan dan perhatiannya cuma ke dia.
Dia noleh ke aku dan senyum, tapi langsung cemberut pas liat ekspresi ketakutan di wajahku.
"Lo gak papa?" tanyanya sambil mau naruh tangan di bahuku, tapi aku menghindar, bikin Kembaran Stella maju.
"Udah, gak usah khawatir, Easton, aku yang urus dia," kata Kembaran Stella sambil narik tanganku dan ngejauh dari mereka, terus ke mobilku.
"Lo gak papa?" tanyanya, bikin aku nangis lagi.
"Gak," jawabku sambil ngusap air mata dan ngasih kunci mobil ke dia biar dia yang nyetir.
"Kenapa sih?" tanyanya sambil meluk aku.
"Aku bikin patah hati cowok lo, aku bikin lo keluar dari geng, dan sekarang semua anak geng benci aku karena mereka pikir aku yang bikin prank itu," kataku sambil melepaskan pelukannya dan dia ngusap air mata di pipiku.
"Easton cinta sama lo, aku cuma gabung geng karena lo, dan para cheerleaders itu emang pantes dapat itu," katanya, bikin aku ketawa pas kita masuk mobil, tapi tiba-tiba aku berhenti mikir sesuatu.
"Tunggu, Easton cinta sama aku?" tanyaku kaget.
"Iya, emang gak keliatan ya," katanya sambil ketawa.
"Awalnya aku gak setuju, tapi lama-lama jadi suka," katanya, bikin aku senyum.
"Makasih, Kembaran Stella, tapi aku rasa kita gak bakal berhasil. Dia gak mau ada hubungan sama aku dan aku ngerti itu," kataku sambil dia parkir di depan rumahnya sebelum dia noleh ke aku.
"Coba deh mikir," katanya sambil buka sabuk pengamannya. "Kalau dia gak mau ada hubungan sama lo, kenapa dia nyelametin lo dari prank anak cheerleaders yang lain?" Katanya sambil senyum terus keluar dari mobil, ninggalin aku yang bingung di kursi penumpang.
Dia bilang dia cuma mau balas budi, tapi aku gak yakin seberapa aku percaya itu.
Akhirnya aku keluar dari mobil dan masuk ke rumah, terus ke kamar Kembaran Stella.
Aku masuk kamarnya dan liat dia udah nyiapin gaun di kasurnya. "Tolong bilang gaun itu buat lo," kataku, soalnya aku bahkan gak mood buat pesta, apalagi pakai gaun.
"Iya," katanya sambil keluar dari lemarinya dan cemberut pas liat ekspresi sedih di wajahku.
"Kenapa sih? Perasaan bukan cuma gara-gara omongan Emma lagi," katanya sambil natap mata aku, tapi aku buang muka.
"Kalau aku cerita, lo bakal benci aku," kataku sambil duduk di pinggir kasurnya.
"Aku gak bakal benci lo kalau lo gak cerita," candanya, bikin aku ketawa.
"Kalau aku cinta sama cowok lo, lo bakal marah gak sih?" tanyaku, agak takut sama reaksinya.
Pasa aku belum denger dia ngomong apa-apa, aku ngangkat muka dan liat dia senyum ke aku.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Kalian itu udah saling cinta banget, tapi gak sadar," katanya sambil senyum sebelum dia masuk ke lemarinya dan ambil celana pendek robek sama atasan renda.
"Pake ini, bikin mata lo makin bersinar," katanya sambil senyum tulus, bikin aku senyum balik. "Makasih," kataku sambil ambil baju dari dia.
"Udah siap?" Kembaran Stella nanya pas kita parkir di pinggir jalan depan rumah Jake.
"Udah," kataku setelah narik napas panjang buat nenangin diri.
Kita keluar dari mobil dan jalan ke pintu, banyak yang nyapa "hai" dan "halo" dari segala arah.
Begitu kita masuk rumah, musik EDM keras banget dari ruang tengah dan beberapa orang udah pada sempoyongan, bikin aku harus ngindar-ngindar.
"Mau minum apa?" Kembaran Stella nanya pas kita akhirnya masuk dapur.
"Gak usah, aku minum air putih aja," kataku sambil celingak-celinguk liat orang pada mesra-mesraan dan ada yang lagi ciuman.
"Ini gelasnya," katanya sambil ambil dua gelas dari bungkusnya dan ngasih satu ke aku. Aku ke wastafel buat isi gelas aku sama air, sedangkan dia ke meja buat isi gelasnya sama bir.
"Eh, dateng juga lo," kata Jake pas liat aku, bikin aku ketawa liat dia yang udah mabok.
"Eh, lo gak papa?" tanyaku sambil liat dia goyang-goyang kayak lagi nyatu sama laut.
"Iya, aku baik-baik aja," katanya sambil nyender ke meja.
"Aku mau cari Kembaran Stella dulu, aku gak mau dia bikin keputusan yang aneh-aneh," kataku sambil senyum pas aku pergi dari dia dan jalan ke ruang tengah, di mana aku liat dia lagi dansa.
Aku jalan ke arah dia, tapi terus-terusan harus ngindar orang.
Aku hampir nyampe Kembaran Stella, tiba-tiba aku kesenggol, lumayan keras, dan akhirnya minumanku tumpah semua ke lantai, terus aku jatoh ke pangkuan Easton, bikin dia noleh ke aku dan senyum sambil ketawa kecil, sedangkan aku melotot ke dia.
"Maaf- Aku eh- dadah," kataku sambil buru-buru bangun, cuma buat didorong sama orang mabok lainnya, tapi kali ini aku ciuman sama Easton.
Aku buru-buru ngejauh dan lari keluar biar dia gak liat reaksimu.
Aku blushing parah.
Kenapa banyak banget orang yang udah sempoyongan, pestanya baru mulai.
Bibirnya lembut banget. Rasanya kayak vanilla sama mint. Bibirku masih geli. Aku mungkin udah malu-maluin diri sendiri.
"Amelia, kenapa sih?" Kembaran Stella nanya sambil keluar dari rumah, keliatan paling gak mabok di antara banyak orang di sana.
"Aku harus pulang. Aku telpon lo besok ya," kataku sambil mau pergi, tapi dia narik tanganku dan nahan aku.
"Kenapa gak nginep aja di rumahku, muka lo pucet banget," katanya sambil merhatiin aku.
"Aku rasa itu bukan ide bagus," kataku sambil geleng-geleng kepala.
"Gak usah khawatir, aku minta Easton buat nganter kita," katanya sambil narik aku balik ke rumah, bikin aku nunduk malu.
"Easton, bisa gak anter kita ke rumah?" Kembaran Stella nanya ke dia.
"Iya, tentu aja," katanya sambil cepet-cepet bangun dari sofa dan nuntun kita lewat rumah dan keluar ke arah mobilku.
Dia gak nyetir sendiri kesini?
Aku ngasih kunci mobilku ke dia dan duduk di kursi belakang, tapi Kembaran Stella ngunci pintu dan nunjuk ke kursi penumpang, bikin aku menghela napas dalam hati pas aku jalan muterin mobil dan duduk di kursi penumpang.
Selama kita semua nyetir, aku ngeliat keluar jendela biar aku gak makin malu.
Pas kita masuk ke pekarangan rumah mereka, Kembaran Stella langsung keluar mobil dan lari masuk rumah, sedangkan Easton mundur dari pekarangan, bikin aku bingung.
"Kita mau kemana?" tanyaku panik, detak jantungku makin cepet.
"Kita harus ngobrol," cuma itu yang dia bilang sambil terus nyetir.