Bab 6
Aku dapat pesan lagi pas aku ngerasain ponselku bergetar.
Kembaran Stella - cepetan, kita harus sampai sana sebelum abang sialan gue ngabisin semua makanan.
Aku ketawa baca pesannya, pas banget Emma balik ke ruangan dengan bingung.
"Apa yang lucu?" Dia nanya bikin aku ngangkat muka.
"Nggak ada apa-apa, cuma meme yang aku lihat," kataku sambil nyimpen ponsel, terus dia ngasih seragam pemandu sorakku, aku senyum dan nerima dari dia sambil bilang makasih sebelum keluar dari gym dan pergi ke belakang sekolah buat nemuin Easton.
"Hei, aku udah mulai mikir kamu bakal nge-ghosting aku," katanya sambil bercanda waktu dia ngelihat aku jalan dari tikungan dan mendekatinya, aku ketawa.
"Emangnya kenapa aku harus gitu?" Aku nanya sambil berhenti di depannya dengan senyum di wajahku.
"Nggak tahu, coba kamu kasih tahu aku, Nona jadwal padat," dia ngejek aku sambil meluk pinggangku santai dan narik aku agak deket ke dia.
"Ngomong-ngomong soal itu, sekarang aku ada tempat lain yang harus aku tuju," kataku sambil meluk lehernya santai.
"Kalau gitu, kita nggak mau buang-buang waktu berhargamu lagi, kan?" Katanya sambil nyenderin dahinya ke dahiku.
"Oke, kamu menang," kataku ketawa karena dia, karena wangi parfumnya yang bikin aku pengen ngelakuin hal-hal nggak senonoh sama dia.
"Menang dalam hal apa?" Dia nanya tiba-tiba serius dan natap mata biruku dalam-dalam.
"Pertarungan nge-gombal kita?" Kataku, tapi kedengarannya lebih kayak pertanyaan waktu dia maju selangkah dan nempelin dahi kita lagi, tapi kali ini aku nggak menjauh.
"Siapa bilang aku nggak serius?" Dia nanya, bibirnya tinggal beberapa sentimeter dari bibirku.
"A-aku um-uh-," aku gagap, berusaha ngomong apa aja yang jelas, mataku pelan-pelan merem karena euforia dan nafsu.
Kita belum pernah ada di situasi kayak gini sebelumnya.
Biasanya cuma godaan dan gombalan yang nggak bahaya, tapi... aku beneran nggak tahu apa yang kita pikirin.
Aku ngelihat ke belakang kepalanya biar nggak tenggelam di mata abu-abunya yang memukau, tapi aku kaget waktu ngelihat Emma.
Oh tidak, dia nggak boleh ngelihat aku sama dia. Dia bakal salah paham.
"Sial," kataku, terus buru-buru narik dia ke sudut yang nggak kelihatan sebelum Emma bisa ngelirik ke arah kita.
"Kamu ngapain sih?" Easton nanya bingung waktu aku ngintip dari sudut biar tahu kapan dia pergi.
"Ada cewek pemandu sorak namanya Emma yang naksir kamu, dan dia bakal nge-kastrasi aku kalau dia ngelihat kita berdua," kataku sambil menghadap dia setelah ngelihat dia masuk ke mobil G putih.
"Tentu saja ada," kudengar dia berbisik dengan nada kesal, aku mutusin buat ganti topik sebelum dia bisa cerita detail soal masalahnya.
"Gimana tryout sepak bolanya?" Aku nanya dia sambil maju berdiri di depannya.
"Kamu lagi ngelihat quarterback baru sekolah," katanya dengan wajah bener-bener senang yang bikin hatiku hangat.
"Aku tahu kamu bisa," kataku sambil senyum ke dia.
"Gimana kamu? Gimana tryout pemandu soraknya?" Dia nanya.
"Kamu lagi ngelihat wakil kapten pemandu sorak sekolah," kataku sambil senyum ke dia.
"Jadi, apa ini berarti aku bisa ngarepin kamu buat nyemangatin aku di pertandingan?" Katanya sambil nyengir dan naruh tangannya pelan di pinggulku.
"Woah, santai, Bro, adikmu juga masuk tim, jadi aku cuma nyemangatin seluruh tim sepak bola," kataku sambil senyum pas dia manyun.
Ponselku bergetar dan aku ngelihat ada 2 pesan baru.
Satu dari Kembaran Stella dan satu dari Emma.
Aku buka pesan Kembaran Stella dulu.
Kembaran Stella - Demi Tuhan YME, kalau kamu nggak keluar sekarang juga dalam 7 detik, gue cabut.
Terus aku buka pesan Emma.
Emma - Mau jalan bareng nggak besok setelah sekolah?
Aku mutusin buat bales Emma.
Amelia - Iya, aku mau banget.
Aku noleh ke Easton buat ngelihat dia lagi merhatiin aku dengan hati-hati dan serius.
"Aku punya waktu tujuh detik buat ke mobil adiknya kamu sebelum ditinggal," kataku sambil senyum ke seluruh situasi.
"Kalau dia ninggalin kamu, aku anterin aja, nggak masalah," katanya.
Aku senyum ke Easton sebagai tanda makasih, terus jalan ke mobil Kembaran Stella. Aku taruh seragam pemandu sorakku, pom-pom, dan ransel di jok belakang, terus jalan ke kursi penumpang buat ngelihat Kembaran Stella yang lagi kesel banget.