Bab 26
Aku bangun di kamar Kembaran Stella, terus denger suara ribut-ribut dari kamar sebelah.
"Masalah lo apa sih?!" Aku denger Kembaran Stella marah-marah.
"Lo maunya apa sih?" Aku denger Easton Hayes balesnya kesel.
"Gue mau lo jauhin sahabat gue, soalnya lo kayaknya gak bisa mikir logis kalau lagi deket dia!"
"Bukan salah gue kalau gue bucin sama dia!"
"Lo bilang itu cinta?! Lo malah percaya musuhnya dia, bukan dengerin dia, musuh bebuyutnya, bego! Dari semua orang, lo malah milih Emma D Lance!" Kembaran Stella teriak kenceng banget sampe aku kaget.
Aku udah sering denger mereka berantem, tapi gak pernah separah ini.
"Gimana gue bisa tau kalau mereka musuhan?"
"Dih, jelas banget, bego!"
"Berhenti manggil gue bego." Kata dia sebelum Kembaran Stella diem beberapa menit.
"Jauhin dia. Lo jelas gak tau gimana cara perlakuin dia, jadi mending jauhin aja." Aku denger Kembaran Stella teriak lebih pelan.
"Gimana gue mau minta maaf kalau gue harus ngejauhin dia?" Kata dia dengan nada kesel.
"Pikirin sendiri. Kalau lo beneran sayang dia, lo pasti nemu caranya." Aku denger dia ngomong keras sebelum langkah kaki mulai deket ke pintu kamarnya.
Waktu matanya mendarat ke aku, matanya langsung membelalak ketakutan dan kaget.
"Lo gak denger kan?" Dia nanya dengan nada hati-hati.
"Agak susah sih kalau kalian teriak-teriakan kayak gitu." Kataku sambil ngangkat bahu dan senyum tipis yang bikin dia ketawa karena lawakanku yang garing.
"Mau cuddle sambil nonton film kayak dulu gak?" Dia nanya, tapi aku bisa denger kesedihan di balik suaranya yang datar.
"Gue beneran minta maaf ya." Kataku sambil cemberut terus buka tangan biar dia meluk aku.
"Tapi gue serius waktu bilang mau lebih banyak waktu sama lo." Kataku sambil senyum waktu dia tiduran di sampingku dan meluk pinggangku, yang bikin aku meluk lehernya.
Dia ngangguk sambil nyenderin kepalanya di ceruk leherku. Dia keliatan capek dan stres, jadi aku gak keberatan kalau dia tidur.
Aku meraih remotnya terus nyalain Netflix dan nonton film acak soalnya lagi gak pengen nonton genre tertentu.
-
Tengah-tengah film, aku denger ada yang ngetok pintu sebelum Nyonya Hayes masuk dan nutup pintu di belakangnya.
"Udah mendingan belum?" Dia nanya sambil senyum sedih terus jalan ke arahku dan duduk di ujung ranjang Kembaran Stella.
"Udah kok, cuma stres aja, tapi kan itu udah biasa buat anak SMA." Kataku sambil ketawa kecil soalnya gak mau bawa dia ke drama hidupku yang rumit. Apalagi kalau udah nyangkut sama anaknya.
"Lo gak harus sok-sokan gitu juga." Kata dia dengan suara yang pengertian, yang bikin aku berdehem dan ngeliatin Kembaran Stella yang lagi tidur sambil mikir.
"Gak ngerti nih maksudnya apa." Kataku dengan nada datar.
"Gak perlu pinter juga buat tau kalau Easton Hayes sama lo lagi gak baik-baik aja." Kata dia dengan nada pengertian.
Aku terus ngeliatin wajah santai Kembaran Stella sambil ngebiarin air mata netes pelan-pelan.
Aku gak tau kenapa aku nangis. Kayaknya sih karena aku gak mau nunjukkin emosi, jadi tubuhku malah ngasih tau emosinya.
"Sebenernya, kita udah gak bareng lagi." Kataku sambil terus ngeliatin wajah Kembaran Stella.
Semakin lama aku ngeliatin wajahnya, semakin aku sadar kalau Easton Hayes dan dia mirip banget, di beberapa sisi.
Mereka sama-sama punya selera humor yang kocak soal seks.
Mereka sama-sama punya bibir manyun yang imut kalau lagi mimpi buruk.
Mereka sama-sama punya mata paling indah yang pernah aku liat.
Aku udah kenal mereka sejak kecil, tapi gak pernah nyadar semua kesamaan mereka sampai sekarang.
Air mata makin banyak yang netes di wajahku sambil noleh ke Nyonya Hayes dan ngasih senyum sedih.
Anehnya, aku ngerasa gak lengkap.
"Emangnya bakal membaik ya dari sini?" Tanyaku ke dia.
"Jujur? Iya." Kata dia.
"Semua hubungan pasti ada salah pahamnya. Bahkan ada yang putus terus coba-coba pacaran sama orang lain, tapi kalau emang jodoh, kalian pasti balik lagi." Kata dia.
"Gimana kalau kita gak balik lagi?" Tanyaku sambil air mata terus netes.
"Berarti emang bukan jodoh, tapi lo pasti nemu soulmate lo kok." Kata dia yang bikin aku ngangguk.
"Gue selalu ada kalau lo butuh cerita." Kata dia sambil senyum "Lagian kan gue yang ngelahirin anak lebay itu." Kata dia dengan nada bercanda yang bikin aku ketawa sambil ngapus air mata.
"Makasih." Kataku dengan nada menghargai yang bikin dia senyum waktu dia berdiri dari ranjang.
"Sama-sama." Kata dia sebelum keluar dari kamar, tapi aku gak bisa berenti mikirin satu kalimat yang dia bilang.
"Bahkan ada yang putus terus coba-coba pacaran sama orang lain, tapi kalau emang jodoh, kalian pasti balik lagi."
Haruskah aku coba pacaran sama orang lain buat liat ini cuma fase atau harus nunggu?
Kembaran Stella nyuruh dia buat jauhin aku dan aku gak tau dia bakal dengerin apa gak.
Tapi kenyataan kalau dia gampang percaya sama Emma daripada aku, bukti banget sih gimana dia percaya sama aku.
Aku bakal pergi kencan dan liat apa semua perasaan yang aku rasain buat Easton Hayes itu beneran atau cuma hormon remaja doang.
Aku kan jomblo, jadi dia gak bisa larang aku dong.