Bab 30
Gue nge-teks Asher, bilang gue nggak enak badan dan harus batalin kencan sebelum cabut dari sekolah.
Ibu jemput gue dari sekolah dan meluk gue waktu gue nangis di pelukannya.
Dia biasanya keliling, jadi kenyataan dia ada di sini dan mau nginep beberapa hari karena gue, bikin gue seneng.
Dia langsung bawa gue pulang tanpa banyak omong dan naruh gue di kamar.
"Kenapa, sayang?" Dia nanya sambil nyodorin gue sekotak es krim Ben and Jerry's lagi.
Gue terima kotak itu dan mulai makan sambil ngeliatin tembok kosong dan terus muterin lagi percakapan waktu berantem itu di pikiran gue.
Muka yang dia pasang sebelum gue pergi sekarang ngejar-ngejar gue.
Gue merasa bersalah.
Meskipun dia nyakitin gue, gue ngerasa kayak gue yang salah waktu gue nyalahin dia sepenuhnya.
"Nggak ada yang nggak bisa diperbaiki es krim," kata gue sambil senyum tipis, padahal hati gue masih sakit setiap detaknya.
"Ibu tau Ibu jarang ada di sini, tapi Ibu tau kalau kamu bohong," katanya yang bikin gue nunduk sambil ngaduk es krim yang udah mulai mencair.
"Mantan gue dan gue ribut pas pelajaran ELA," kata gue yang bikin dia mengerutkan dahi.
"Tentang apa?" Dia nanya yang bikin gue menghela napas sedih.
"Awalnya Romeo dan Juliet, tapi akhirnya masalah hubungan kita yang bikin kita putus," kata gue sambil makan es krim yang udah nggak keras lagi.
Dan sekarang masalahnya mikir mereka pacaran.
"Mau nggak besok di rumah aja? Kamu kelihatan capek banget," katanya sambil senyum tipis yang bikin gue bales senyum tipis juga.
"Mau. Kayaknya gue mau tidur siang," kata gue yang bikin dia senyum ke gue sebelum dia ngambil es krim dari tangan gue dan nyium kening gue.
Gue nyaman di bawah selimut waktu dia keluar kamar.
Tapi gue nggak bisa berhenti mikirin pertengkaran itu lagi.
Dia bilang dia sayang gue dan nggak bakal biarin siapapun misahin kita, padahal itulah yang dia lakuin.
Itu aja yang bisa gue pikirin sebelum gue tidur pulas.
-
Gue bangun dari tidur nyenyak dan ngerasa seger.
Gue cek ponsel dan lihat jam empat pagi. Gue turun dari kasur dan jalan ke bawah biar bisa ambil sebotol air karena mulut gue kering banget.
Gue nggak denger ada suara apa-apa, jadi gue tebak Ibu masih tidur.
Gue anehnya pengen jalan-jalan, jadi gue lari ke atas dan pake celana olahraga abu-abu sama kaos band acak. Rambut gue gue kuncir asal-asalan sebelum pake sepatu Converse dan keluar.
Gue jalan ke taman tempat Easton pernah ajak gue waktu umur tiga belas tahun.
Pas nyampe, gue liat seseorang lagi duduk di bangku. Pas gue deket, gue sadar orang itu Easton dan dia masih kelihatan sedih.
Gue samperin dan duduk di sebelahnya sebelum kita natap pemandangan di sekitar kita, tanpa ngomong sepatah kata pun.
"Kamu tau kan aku masih sayang kamu?" Dia nanya yang bikin gue ngalihin perhatian ke mata abu-abunya yang sedih.
"Kamu hancurin hati aku, tapi aku masih cinta mati sama kamu," katanya sambil senyum sedih.
"Aku nggak bermaksud," kata gue pelan.
"Aku tau," katanya dengan nada mengerti.
"Maaf karena nggak langsung ngomong sama kamu," katanya.
"Nggak apa-apa. Mungkin aku juga bakal gitu," kata gue sambil bercanda yang bikin dia ketawa.
Dia ngulurin tangan dan naruh di pipi gue sebelum ngusap ibu jarinya di tulang pipi gue.
"Aku kangen kamu," katanya dengan nada sedih yang bikin gue nunduk ngeliatin tangan gue yang diem di pangkuan gue.
"Aku punya pacar," kata gue karena nggak mau ngasih harapan dan akhirnya lebih berantakan dari sekarang.
"Aku tau. Stella udah cerita," katanya sambil menghela napas dan nurunin tangannya.
"Aku nggak pernah berhenti sayang kamu," kata gue setelah beberapa menit yang bikin dia ngeliat gue dengan mata penuh kelegaan.
"Aku juga," katanya yang bikin gue senyum.
"Aku masih punya kesempatan nggak sih sama kamu?" Dia nanya dengan harapan yang jelas di suaranya.
Gue geleng ke dia.
Tentu aja dia punya, tapi gue nggak mau dia tau karena kita lagi berusaha ngelewatin masa sulit ini.
Gue rasa kita berdua butuh istirahat dari semua kekacauan dalam hidup kita dan gue ragu kalau kita balikan bakal ngebantu.
"Aku nggak bakal berhenti berjuang buat kita," katanya serius yang bikin gue salting dan senyum ke dia.
"Gimana kalau kita temenan lagi aja?" Gue nanya karena gue kangen dia ada dalam hidup gue.
"Tentu aja," katanya sambil senyum yang bikin gue bales senyum waktu kita sama-sama maju buat pelukan.
Kita pelukan beberapa menit sebelum kita mundur dan saling natap mata.
Gue ngerasain ketertarikan yang kuat sama dia.
Kayak dia magnet dan gue koin perak.
Waktu hidung kita bersentuhan dan kita berdua hampir ngehirup udara masing-masing, gue nunduk.
Nggak bisa.
Nggak adil buat Asher.
Dia nggak pantes dapetin ini.
Easton nyium pipi gue sebelum narik gue ke sampingnya.
"Aku sayang kamu," kata gue yang bikin dia ketawa kecil.
"Aku juga sayang kamu," katanya sebelum dia nyium kepala gue.
Kita terus aja ngeliatin matahari terbit dan denger burung berkicau.
Waktu kita akhirnya pisah, jam enam pagi dan gue ngerasa lebih baik dari kemarin waktu gue keluar dari sekolah.
Waktu gue nyampe rumah, Ibu udah bangun dan lagi nelpon.
"Kamu kelihatan lebih bahagia," katanya ke gue yang bikin gue senyum lebih lebar karena gue emang lebih bahagia.
"Iya nih," kata gue.
"Bagus deh, sayang," katanya sebelum dia nerima panggilan bisnis yang lain.
Gue pengen sekolah sekarang.
Gue malah semangat ke sekolah.