Bab 104.
Bosnya cuma tau manfaatin orang, dan meskipun dia hormat sama bosnya, dia tau dia udah kelewatan.
Dia melototin mentornya yang cuma ngangkat bahu. Mereka berdua sama-sama pengecut. Luis ngangkat tangan, terus dengan anggukan kepala, Lucas kasih izin.
'Dia setuju gabung ke persaudaraan? Karena siapapun yang ada di sini, itu karena mereka milih atau mau. Mereka bersedia. Dia dipaksa atau dia nerima buat ada di sini?'
Rung itu hening sampe seseorang batuk di belakang, ngerusak kesunyian.
Lucas gigit bibir dalemnya, nyesel udah ngebolehin si bocah ngomong. Ini bukan waktu buat sok pinter. Lucas hampir bisa ngerasain rotan bokapnya ngejepret dia biar berdiri tegak. Dia bosnya di sini.
Dia ngehindarin tatapan Laurel. Dia masih natap dia dengan mata yang menyipit, dan Lucas ngerasa bersalah buat yang kesekian kalinya. Kenapa dia yang harus ngerasa bersalah? Nyebelin banget.
Dia ngarahin tatapannya ke Luis, nghela napas puas waktu cowok itu nggak nyaman karena tatapannya yang intens. Ya, dia harusnya ngerasa gitu, dan jangan ngomong waktu nggak seharusnya.
'Dia ke sini karena pilihan dia sendiri.' Itu jawaban Lucas. Waktu dia nanya, dia jawab jujur, dia minta penjelasan dan dia kasih yang dia tau. Dia beliin dia gaun dan dia pake tanpa ragu. Dia minta dia percaya sama dia, dan dia bisa liat kalo dia berusaha keras buat ngelakuinnya.
Semua bermuara ke satu hal di pikiran Lucas. Itu pilihan dia buat ke sini. Dia nggak maksa, dan nggak bakal pernah maksa dia buat ngelakuin hal yang dia nggak suka. Dia ngumpulin keberanian buat hadapin dia. Lo bisa bilang sebaliknya kalo lo mau, mata dia bilang gitu.
Lucu banget buat Laurel gimana cowok itu berubah dari nggak punya emosi jadi penuh emosi. Apaan tuh tatapan aneh di matanya, sayang? Sejak dia kenal Lucas, dia punya ekspresi penuh perasaan yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya, tapi dari waktu ke waktu, Laurel mulai liat perubahan. Cengirannya yang sering muncul waktu kesabarannya abis dan dia meledak, naiknya alisnya karena geli setiap kali dia ngomong sesuatu yang lucu, bikin salting, dan ngepalin tangan setiap kali dia masang muka memelas atau ngelakuin sesuatu yang nggak bisa dia tebak.
Dia udah nyadar semua emosi baru ini, dan dia yakin itu baru buat dia. Dia lagi berusaha menyesuaikan diri.
Laurel nghela napas. Dia nggak tau harus ngomong apa. Nggak waktu dia natap dia dengan tatapan kayak gitu. Air matanya kering dan rasa bersalah menggantikannya.
Kenapa dia yang harus ngerasain ini? Laurel nanya dengan jengkel. 'Gue milih ada di sini. Gue mau ada di sini dan gue mau jadi saudara lo.'
Sorakan itu memekakkan telinga, Laurel kaget. Apa mereka beneran mau dia masuk keluarga? Semuanya jadi masuk akal buat Laurel. Mereka saudara yang terikat oleh bisnis, bukan saudara sedarah.
Dia nggak tau kapan Lucas narik dia ke kantornya atau yang dia kira itu kantornya.
Di sana, dia meledak.
'Apaan tuh tadi? Gue ngelakuin itu buat nyelametin muka lo jadi mendingan lo mulai jelasin ke gue apa yang terjadi.' Kata Laurel dengan nada yang membara.
Lucas duduk di kursi kulit. Dia ngasih isyarat ke kursi di belakangnya dan Laurel duduk, berusaha ngilangin rasa panas.
'Ini kerjaan yang gue lakuin, Laurel. Gue mafia.' Lucas selesai ngomong.
Laurel ngangguk, nyuruh dia lanjut, dan waktu dia nggak ngomong apa-apa, 'Gue udah tau banget soal itu. Ada hal lain yang perlu lo kasih tau gue karena kalo nggak ada, gue pengen banget nanya lo pertanyaan.'
'Oke. Mari kita main dua puluh pertanyaan. Gue mulai duluan dan gitu terus sampe dua puluh. Deal?'
Laurel ngangguk setuju. Pertanyaan dia udah berbaris di kepalanya. Dia lumayan seneng dia nggak milih buat ngacangin dia. Dia nyadar kalo soal kerjaannya, dia bisu atau malah bersikap kalo dia nggak ada.
Laurel bikin catatan mental buat main dua puluh pertanyaan setiap kali dia perlu nanya dia sesuatu tentang mafia atau pekerjaannya.
Lucas nyender di meja dengan sikunya sebagai penyangga. 'Lo suka gaunnya?'
Laurel ngejilat bibir bawahnya, mikir gimana dia bakal jawab pertanyaan itu. 'Gue nggak suka.' Dia milih buat ngomong gitu, dan itu sebagian bener. Laurel punya pikiran-pikiran nakal yang tersembunyi di suatu tempat, tapi cowok yang cemberut di depannya nggak perlu tau itu.
'Gue minta maaf.' Lucas ngerasa perlu buat ngomong. Dia juga nggak nyangka dia bakal suka, dan dia bersyukur dia narik dia pergi sebelum matanya dicongkel salah satu cowok yang terang-terangan natap ceweknya dengan nafsu. Seharusnya dia dengerin Cecil atau ngontrol hawa nafsunya.
'Sekarang giliran gue.' Laurel nyender lebih deket. 'Kenapa lo bunuh cowok itu?' Dia harus nanya. Ini waktunya.
'Pertanyaan itu sama sekali nggak nyambung sama apa yang seharusnya lo tanyain.'
Laurel bingung. 'Dan apa yang seharusnya gue tanyain?'
'Gue nggak tau, mungkin sesuatu kayak, siapa yang permanen?' Itu keluar dari mulut Lucas sebelum dia bisa nahan. Apa ini yang orang maksud dengan keceplosan? Nggak ada jalan balik sekarang dengan tatapan gila yang Laurel kasih ke dia. Dia lagi nunggu jawaban. 'Gue tau gue seharusnya ngedukasi...' Lucas ngegosok rambutnya.
'Mendidik gue? Gue kira kita lagi main dua puluh pertanyaan.' Sekarang giliran Laurel yang songong. Dia santai di kursi, nge-lipet tangannya. Nunggu apa yang bakal dia omongin.
Dia nggak sabar.