Bab 25.
Butuh waktu sebentar sebelum darahnya mengalir lancar ke seluruh tubuhnya.
'Gue kira lo jamin dia baru, deh.' Laurel ngejek. Bukan waktu yang tepat buat ngejek dia, tapi itu yang terbaik yang bisa dia lakuin buat bikin suasana hati jadi lebih baik.
Matteo ngangkat kepalanya sedikit buat ngeliatin dia. 'Gue harus ngomong apa biar lo percaya sama gue?'
'Cuma kasih tau gue bisa dibenerin.' Dia celingak-celinguk karena kegelapan mulai menguasainya. 'Bisa dibenerin, kan?' dia ngejilat bibir keringnya.
Anginnya meraung dan Laurel meluk dirinya lebih erat. Dia gemetar dan giginya gemeletuk karena nggak nyaman. Dia nggak nemuin mobil karena mereka dikelilingi pepohonan.
'Kita di mana?' Laurel nanya dengan bingung. Harusnya mereka lagi dalam perjalanan ke Brooklyn.
Matteo ngencengin sekrupnya. Dia berharap apa yang dia lakuin berhasil. Harus berhasil. 'Di tempat yang namanya persimpangan terakhir. Dengerin, kita bakal langsung cabut, oke? Jangan panik, soalnya kalo lo panik, gue juga.' Matteo selesai ngomong tanpa ngangkat kepalanya.
Laurel ngehela napas. 'Oke.'
Matteo nyoba nyalain truk untuk ketiga kalinya dan ngedesah lega pas mesinnya meraung lagi. Laurel menjerit kesenengan. Tapi kebahagiaannya nggak bertahan lama karena lima orang asing keluar dari hutan.
Kelihatannya kayak penyergapan dan Laurel ketakutan setengah mati. Matteo bahkan udah nyoba kabur tapi dihentikan sama pistol yang ditempelin ke kepalanya. Satu gerakan salah dan peluru bakal tertanam dalam-dalam di tengkoraknya.
'Nggak mungkin, kan? Lo nyalain hape lo? Gimana mereka nemuin kita?' Laurel berbisik pas salah satu dari mereka buka pintu mobil. Dia siap buat berjuang demi hidupnya, tapi sama kayak Matteo, dia membeku.
Pistol ditempelin ke kepalanya dan dia bisa liat tekad di mata merahnya. Dia muter bola matanya. Jangan-jangan Boss Lucas yang nyuruh? Dia yakin karena mereka pake baju yang sama kayak yang dia liat tiga malam lalu.
Dia meringis pas mereka mendorongnya ke dalam van yang udah nunggu. Dia celingak-celinguk nyari Matteo, panik pas dia nggak liat dia. Dadanya berdebar kencang pas dia liat cara Matteo ditanganin. Dia didorong masuk ke bagasi jeep-nya. Dia merem khawatir. Matteo mungkin lebih bermasalah dari dia karena dia udah diperingatin buat nggak deket-deket.
Dia mikir Boss Lucas mau ngapain sama mereka berdua pas pintu jeep-nya dibanting.
Perjalanan balik ke rumah Boss Lucas itu bikin sesak. Mungkin gue bisa nyari jalan keluar. Dia mikir sambil natap penjaga di sampingnya. Cara mereka nangani dia, kayaknya Boss Lucas udah ngasih perintah buat bawa dia balik dalam keadaan utuh.
Dia nyoba memulai percakapan tentang kemungkinan buat kabur. 'Guys, jangan kira gue nggak liat muka kalian. Kalo kalian biarin gue pergi sekarang, gue janji gue nggak bakal kasih tau polisi kalo gue kenal kalian sama sekali.'
Mereka semua noleh dan natap dia. Sebentar, Laurel merinding karena mata mereka yang nggak berekspresi. Mereka nggak keliatan kayak tipe orang yang dia liat di film-film. Wajah mereka mengerikan, tapi anehnya, mereka nangani dia dengan lembut. Tapi nggak terlalu lembut juga, sih. Dia tau dia bakal nyoba kabur kalo genggaman mereka nggak cukup kuat buat nahan dia.
'Jangan natap gue kayak gitu.' Laurel berdehem pas mereka ngacangin dia lagi. Dia pake kakinya buat nyenggol orang di seberangnya cuma buat narik perhatiannya. Tatapan tajam yang dia kasih itu sempurna.
'Dengerin, kenapa kalian nggak biarin gue pergi dan kalian nggak bakal jadi salah satu orang yang gue kenal dengan mudah.' Dia ngomong sambil natap tajam orang yang megangin tangannya erat-erat. Pesannya tersampaikan dengan baik.
'Tanpa nama, lo nggak bisa ngapa-ngapain kita.' Orang itu ngomong dengan agak sombong. Dia membungkuk, ngencengin genggamannya buat nyamain tatapan tajam Laurel. 'Kita ini pengusaha. Lo nggak bisa ngapa-ngapain kita. Lo nggak punya bukti dan…' Dia sengaja ngomong kalimat terakhirnya biar ngejek. 'Lo nggak bakal ke mana-mana.'
Laurel nelan ludah ketakutan pas apa yang dia bilang merasuk ke pikirannya. Mereka nggak ada niatan buat ngelepas dia dari awal. Apa pun yang dia lakuin cuma bikin mereka nyengir dan piyamanya ditambah bau mulutnya bikin mereka buang muka dari dia.
'Berenti nakut-nakutin wanita malang itu, Jug. Boss mungkin nggak suka.' Orang lain nyela. Orang-orang itu cekikikan sementara beberapa dari mereka ngangguk setuju. Kelihatannya mereka tau sesuatu yang nggak dia tau.
Begitu dia denger Boss, Laurel konfirmasi kecurigaannya. Itu pembunuh dan mereka bawa dia balik ke dia.
Suara peringatan Lucas masuk ke pikirannya. Jangan coba kabur, katanya. Laurel bersandar santai di kursi. Dia ngangkat kakinya buat disandarin di pangkuan salah satu pria itu, nantangin dia dengan matanya buat nurunin kakinya.
Dia bisa aja nurunin kakinya kalo dia mau, tapi dia nggak mau dan Laurel bersyukur. Dia mutusin buat santai dan nikmatin sedikit kebebasan terakhir sebelum dia dibawa balik ke rumah abu-abu itu atau lebih buruk lagi, dibunuh.
Beberapa saat kemudian, busnya dipenuhi dengan obrolan pas para pria itu diskusiin tentang pacar dan wanita mereka. Sesekali, mereka ngeliat dia dan lanjut diskusi.
Dengan kaki pegalnya direntangkan, hal terakhir yang Laurel inget adalah tawa para pria itu. Mereka ngejek dia, dia tau. Dia mikir gimana perasaan Matteo yang dikurung dalam kegelapan. Kalo ada satu hal yang Laurel benci, itu adalah dikurung dalam kegelapan.
Itu adalah memori yang mulai muncul lagi. Kayak perang melawan masa lalu dan masa sekarang dan Laurel mikir seberapa lama dia bakal menang.