Bab 163.
Itu adalah suara yang nggak dikenal dan pengalaman bertahun-tahun udah ngajarin detektif buat nggak usah repot-repot lacak panggilan itu. Kalo dia bisa nunjukin mereka arah ke orang yang ngebunuh saudaranya, itu bakal sempurna.
Detektif Adler cepet-cepet nulis apa yang dia pikir suara itu bilang dan panggilan itu berakhir sebelum dia sempat nanya pertanyaan lain. Dia lari keluar dari kantornya ke departemen narkotika dan akhirnya diarahkan ke kepala polisi.
"Adler, gue bilang nggak." Kepala Polisi Cole bilang dengan nada final. "Gimana caranya lo tiba-tiba dapet telepon dari entah mana yang ngaku tahu siapa yang ngebunuh saudara lo. Kita nggak bisa buang-buang tenaga dan sumber daya di sini."
"Jadi, lo mau biarin aja saudara gue mati sia-sia? Tim dia bilang mereka nggak inget siapa yang terakhir ngomong sama dia! Gue nggak bisa biarin kematian saudara gue sia-sia."
Kepala Polisi Cole terkekeh. "Mafia? Kalo ini bener, gue nggak mau kita ikut campur urusan mereka."
Rahang Detektif Adler jatuh. "Pak! Kita FBI, gimana bisa kita bilang nggak mau ikut campur? Hari saudara laki-laki gue meninggal adalah hari gue ikut campur."
Kepala Polisi Cole berdiri. "Denger, gue nggak bilang lo nggak boleh balas dendam buat saudara lo atau kita nggak boleh ikut campur, intinya adalah, gimana kalo ini jebakan dan mereka mau menjatuhkan lo kayak mereka menjatuhkan saudara lo? Lo nggak mau cari tahu hubungan saudara lo sama Mafia?"
Detektif Adler merasa masuk akal dengan apa yang atasan dia bilang. Bahunya merosot khawatir. "Bahkan kalo ini jebakan, gue tetep mau ke sana. Itu sebabnya gue ada di sini. Kasih persetujuan dan tim narkotika bisa ikut gue. Gue bakal aman."
Kepala Polisi menghela napas. Dia udah berusaha keras buat nyegah dia dari misi bunuh diri itu. "Lo boleh jalan." Dia ngambil surat izin dari tangannya, menandatanganinya. "Gue udah berusaha keras nyegah lo Adler, tapi kalo lo milih buat jalan di misi ini, pastiin anak buah gue balik hidup. Lo bisa bawa tim SWAT dan narkotika bareng lo karena kita berurusan sama narkoba di sini. Yang paling penting, balik hidup dan utuh."
Detektif Adler memberi hormat. "Siap, Pak."
....
Detektif Adler membalik halaman buku harian saudaranya dengan pencarian yang panik. Dia belum lihat apa pun yang nyata karena misi akan dilaksanakan seminggu lagi. Dia perlu punya pengetahuan yang cukup tentang perbuatan saudaranya sebelum dia dibunuh.
Dia nggak bisa nemuin apa pun di buku hariannya.
"Apa yang lo sembunyiin, Eric?" Adler nanya sambil membalik halaman. Dia cuma bisa lihat angka dan kode kotak. Kelihatannya dia harus berkunjung ke distrik.
Biar rekan kerjanya bilang langsung ke mukanya kalo mereka nggak bisa inget muka orang yang masuk ke kantor Sheriff!
Malu banget nggak sih? Kalo mereka nggak hati-hati, dia bakal nutup distrik itu dan mastiin mereka nggak pernah kerja pas hari kerja.
Bajingan, Adler ngumpat sambil ngeremas buku harian yang nggak berguna itu dengan marah.
....
Masuk ke kantor Sheriff adalah hal tersulit yang pernah Detektif Adler lakuin. Dia bisa lihat bekas putih tempat saudaranya terbaring sebelum mereka nemuin dia udah mati. Asistennya awalnya ngira dia tidur sampai dia mendekat buat nepuk dia.
Detektif menutup matanya saat air mata mau keluar tapi dia nggak bakal biarin itu jatuh. Di bisnis mereka, nggak selalu ideal buat nyampur emosi bahkan kalo orang itu punya hubungan dekat.
Dia keluar dari kantor, ninggalin kenangan tentang saudaranya di belakang. Semua orang yang ada di sekitar hari itu diatur dalam satu barisan, menghadap detektif. Mereka menjauh supaya nggak ngerusak kerjaan yang udah dilakukan forensik.
"Siapa di antara kalian yang lagi jaga hari itu?" Dia nanya hati-hati dengan catatan dan penanya di tangan siap nulis apa pun yang mereka bilang.
"Saya, Pak." Salah satunya jawab.
"Minggir, silakan." Adler memberi isyarat ke samping. Kemungkinan dia nggak sadar pembunuhan itu karena dia lagi jaga meja hari itu. Siapa pun yang kerja jaga meja dibawa ke bawah. Anak muda itu mungkin udah ngelakuin sesuatu yang bikin itu terjadi. Dia berbalik ke orang itu. "Kenapa lo jaga?"
"Karena saya ngelepas seseorang dari sel tanpa izin."
Adler menyipitkan matanya. "Siapa orang itu?"
"Umurnya sekitar 17 tahun, Pak. Pamannya dateng buat jamin dia. Sheriff bilang dia pembohong dan pencuri jadi kita harus tahan dia selama berminggu-minggu, nunggu seseorang ngejamin dia."
Adler mengangguk. "Ada lagi yang mau lo kasih tahu gue? Kecurigaan apa pun?"
Orang itu menggelengkan kepalanya. "Nggak ada, Pak."
"Lo boleh pergi." Adler melambai ke samping, berbalik ke orang berikutnya saat langkah kaki orang itu bergema. "Giliran lo.."
"Meja depan, Pak." Wanita itu menjawab dengan suara gemetar. Jelas dia ketakutan.
Adler memutar matanya. Dia bertanya-tanya buat apa orang-orang ini kerja. "Ya, lanjut."" Dia mendesak nggak sabar. Sekarang mereka harusnya udah biasa sama cara dia suka jawab pertanyaan.
"Saya lagi ngurusin seseorang pas orang ini masuk dan bilang mau ketemu Sheriff. Saya bilang dia buat nunggu sebentar karena saya nelpon ke jalur Sheriff. Sheriff ngangkat, nyuruh saya buat masukin dia. Dari jauh saya denger nada gembira Sheriff, 'Hai!'" Wanita itu selesai.
Adler mengangguk. "Maksud lo Sheriff senang ketemu dia?" Dan saat wanita itu mengangguk dia menyelidiki lebih lanjut. "Setidaknya lo bisa deskripsiin bajunya?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya.