Bab 87.
Mereka ngerjain dia. Laurel nyimpulin. Cuma mereka yang lihat dia keluar dari kamar mandi. Laurel bener-bener lupa sama cowok cakep yang dia tabrak, sampe layar hapenya pecah segala.
Sementara itu,
Natap hapenya yang udah dibenerin, Dela Cruz senyum jail. Dia bisa lihat kalo dia udah baca pesannya, tapi dia nggak bales. Dela nggak bakal marah. Dela tahu gimana cewek kayak dia. Entah dia udah baca pesan itu tapi nggak ada waktu buat bales, atau dia hapus karena mikir itu cuma pesan spam. Dela akui dia emang sengaja ngirim pesan yang agak creepy ke dia.
Itu cara dia dapet cewek, dan sekarang dia tahu siapa dia, Dela nggak bakal biarin dia pergi gitu aja.
...
Tiga jam kemudian,
Laurel turun tangga, seger dan pipinya merah karena tatapan yang nggak berhenti ngeliatin dia. Udah jelas siapa yang punya mata kayak gitu. Lucas. Laurel hampir aja kesandung, tapi sebelum dia jatuh, tangan Lucas udah ada buat nahan dia. Laurel nggak percaya secepet itu Lucas.
"Kamu harusnya berhenti merhatiin orang yang lagi turun tangga," Laurel memperingatkan, berusaha nyesuain diri sama tangan Lucas di pinggangnya. Kuat banget dan dia megang dengan posesif.
Lucas senyum ke cewek yang salah tingkah itu. "Gimana bisa aku nggak merhatiin, kalo kamu secantik ini?"
Laurel nyinyir. "Itu gombalan murahan. Kayaknya aku pernah denger deh…"
"Harus banget ya kamu rusak suasana?" Lucas nanya kesel, bikin Laurel senyum geli. Mana cowok mafia yang biasa dia lihat? Laurel sumpah kadang Lucas kayak anak kecil.
Pas mereka mau keluar rumah, pintu bunyi. Silas dan seseorang yang Laurel nggak kenal masuk. Wajahnya mengingatkan Laurel sama seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya. Mereka semua ngasih dia perasaan itu. Mungkin karena Laurel sering nonton film mafia.
"Mereka semua mirip, sumpah!" Laurel ngebela diri dalam hati. Laurel ngalihin pandangan ke sepatu Silas yang kelihatan aneh dan dia juga bau aneh. Apaan sih pikiran Laurel? Laurel mutusin buat fokus ke satu-satunya orang yang nggak aneh atau kelihatan kayak orang yang pernah Laurel lihat di film.
"Silas!" Lucas ngebentak, bikin Silas kaget. "Adik dan teman aku." Mereka berdua pelukan kayak udah lama nggak ketemu. Beneran, soalnya setelah pertemuan gila sama mereka, Laurel nggak pernah lihat Lucas lagi sampai hari ini.
Silas dapat tepukan di bahu dari temannya. Dia nggak peduli sama tatapan aneh yang semua orang selain Lucas kasih ke dia. Nggak tiap hari Lucas kelihatan seceria dan sebahagia ini.
"Gimana persiapan pernikahannya?" Lucas nanya.
Silas ngangguk. "Stres banget sih. Anya siap banget mau ngebunuh aku."
Laurel cekikikan. Jadi dia bakal nikah sama cewek impiannya lebih cepet dari yang Laurel kira. Kemana janji mau santai dulu? Jangan-jangan udah hamil? "Aku tahu dia bakal kayak gitu," ngisep duit dari cowok miskin itu. Laurel nggak sadar dia ngomong keras dan ketiga cowok itu natap dia, terutama cowok terakhir yang dari tadi diem banget. Emang dia bukan bagian dari geng mereka apa gimana?
Silas melotot ke Laurel. "Senang juga ketemu kamu.", kata Silas pedas, meskipun dia nggak ambil hati omongan Laurel.
"Kalo bukan orang yang penuh warna," Laurel bergumam. Bukan salah Laurel kalo pikirannya keluar gitu aja. "Selamat ya. Kamu bisa kirim ucapan selamat aku ke tunangan kamu; bilang ke dia kalo aku nggak sabar nunggu hari pernikahannya yang penuh warna."
Lucas ngangkat alis sementara cowok yang nggak dikenal itu mendengus. Jelas banget Laurel dia lagi berusaha keras nahan ketawa. Laurel lagi nggak mood banget. Mereka mau pergi ke bioskop demi Tuhan, kenapa sih cowok-cowok ini dateng dan ngerusak suasana. Laurel nggak seneng dan meskipun Laurel suka banget sama reuni kakak-adik yang bahagia ini, Laurel nggak mau ngabisin hari lain yang membosankan di rumah.
"Aku udah nge-text kamu kali ini dan pas aku nggak dapet balesan, aku masuk sendiri. Kamu masih belum ganti kodenya."
Lucas nyinyir. "Terus resikonya adik aku jual lagi ke kamu? Nggak."
Silas nggak nyesel. Dia cuma nggak yakin temennya tahu semua tentang tingkah laku jail adiknya. Oh, tapi Lucas tahu kok. "Jadi kamu tahu semua itu?"
"Aku ini apa? Remaja? Aku tahu segalanya Silas." Lucas noleh buat natap cowok yang berpakaian rapi itu. Dia kelihatan kayak dokter atau semacamnya. "Siapa sih bajingan ini?"
Laurel kaget nggak diperhatiin. Lucas yang senyum lima menit lalu bukan Lucas yang lagi dia lihat sekarang. Mereka semua punya kemampuan buat ganti sikap.
Lucas juga nggak beda dan posturnya nunjukin dia bos. Entah kenapa, Laurel ngerasa bangga.
Nathan nelen ludah kelihatan banget pas dia nunduk sedikit. Terakhir kali dia lihat bosnya bos adalah pas dia lagi ngasih perintah ke unit di Afrika. Dia kesel sama cara pemimpin mereka ngurus sesuatu di sana. Nathan udah pernah ngelirik sekali dan nggak lagi sampai hari ini.
"Saya bukan orang asing, bos. Nama saya Nathan Smith. Saya pemimpin unit…"
Lucas nyipitkan matanya ke cowok aneh itu. "Nathaniel smith? Si jenius? Aku tahu siapa kamu."
Nathan langsung nutup mulutnya. Dia udah merhatiin cewek yang berdiri di samping bos dan dia kayaknya nggak dalam bahaya. Mereka berdua kelihatan kayak mau ada acara. Dia adalah Laurel Marco yang lagi dia cari. Dia nggak mirip banget sama adiknya. Dia beda dari foto. Laurel ini dewasa dan cantik. Riasan tipis yang dia pakai di wajahnya bener-bener pas sama pakaian yang dia pakai. Nathan kaget betapa tajam mulutnya di depan para mafia.