Bab 85.
Dia cuma lolos karena dia lapor ke unit di sana dan bikin dirinya berguna. Silas penasaran pengen tahu apa yang bikin dia balik ke New York. 'Seharusnya jangan, tapi lo tetep lakuin juga.' Silas turun dari kursi. Dia jalan mendekat ke Nathan, membungkuk buat tatap matanya.
Dua mata tajam saling beradu sampai salah satunya merunduk karena hormat, bukan karena kalah. Silas keluar sebagai pemenang. 'Lo bakal lapor balik ke Bos. Gue denger lo udah ke abang lo sebelum ketemu gue.' Silas berdiri, geleng-geleng kepala. 'Lo butuh gue dan itu sebabnya lo di sini, kan?'
Keterkejutan di mata Nathan bikin Silas cekikikan. Harusnya gak perlu jenius buat tahu kenapa Nathan di sini, tapi dia malah kayak kaget beneran. Nathan emang beneran kaget denger itu.
'Sebutin misi lo dan semua yang ada di dalamnya. Gue mau siap-siap buat apa aja.' Silas menyimpulkan, senyum jahat ke arah Nathan yang sekarang nurut. Dia minta sesuatu yang dia tahu Nathan gak bakal suka kasih. Dia minta informasi. Hal-hal yang udah dia lakuin dan kenapa dia lakuin. Dia bahkan pengen tahu kenapa dia mutusin buat nunjukin muka setelah sekian tahun.
Nathan di sisi lain tahu wakil komandan itu orangnya egois. Kalo dia gak nurut dan hati-hati, dia bisa cium selamat tinggal sama kesempatan buat dapat bantuan.
Nathan mutusin buat nurut sama yang diminta Bosnya. Dia gak bisa bohong kalo dia mau, karena siapa tahu apa yang Silas tahu di belakangnya? Matanya bersinar kayak tahu sesuatu yang gak dia tahu dan Nathan hampir gemetaran mikirin gimana rupa dan tingkah laku Bos dari semua Bos. Orang yang lagi dia lihat di depannya ini lagi ngeliatin dia dengan nakal, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar main-main dan malah dia bertingkah kayak badut kadang-kadang, tapi Nathan tahu dia itu serigala kalo udah urusan bisnis keluarga.
Kalo serigala bertingkah kayak gini, singa bakal bikin dia jadi roti bakar sebelum dia bisa bela diri. Nathan diam-diam nelen ludah karena takut.
Dia ceritain semuanya ke Silas, tapi gak ceritain bagian tentang Antonia. Laporan kayak gitu harusnya dikasih pas bos dari semua bos muncul atau pas dia dibawa balik ke rumahnya dan diizinin masuk. Lagian, dia cuma butuh bantuan buat masuk ke dalem rumah.
Tapi,
'Maafin gue atas pertanyaan yang mau gue ajukan, tapi gue denger sesuatu terjadi sekitar tiga minggu yang lalu.' Nathan berusaha sok gak tahu. 'Ini tentang seorang wanita muda…'
'Sebenarnya apa yang mau lo tahu Nathan?' Kadang-kadang, Silas beneran mikir apa orang di depannya ini emang jenius kayak yang dia denger atau mungkin lihat satu atau dua kali.
Nathan menghela napas pasrah. Dia gak pernah bisa bohong sama bosnya, kan? 'Gue mau tahu apa ada cewek namanya Laurel Marco di wilayahnya atau di sekitar wilayahnya.'
Silas menyipitkan matanya. Dia agak curiga karena mereka harus ngusir pengkhianat tiap hari. Siapa tahu apa yang udah orang ini jadi selama bertahun-tahun. Dia gak boleh dipercaya.
'Gue rasa lo harus tanya sendiri sama bosnya.' jawab Silas. Dia gak tahu harus ngomong apa ke anak muda itu. Lucas itu orang yang gak suka sama orang yang banyak omong dan dia, Silas, juga gak banyak omong. Kalo Nathan mau tahu tentang dia, dia harus lihat sendiri skenarionya. Dia harusnya tahu ini dan gak usah nanya-nanya yang bisa bikin dia dapat hukuman.
Nathan ngangguk; seharusnya dia tahu dia gak bakal dapat apa-apa yang jelas dari temen Bosnya. Dia berdiri sambil berharap dapat balasan dari Silas.
Silas mengangkat pandangannya. 'Pulang dan istirahat. Datang ke gudang jam 3:00 pagi. Gue rasa lo gak mau ketinggalan bos.' dia menyuruh dengan kibasan jarinya.
'Siap, bos.' Nathan hormat. Dia gak senang sama perkembangan yang terjadi tapi dia dapat yang terbaik yang dia bisa dari wakil komandannya yang bijak. Walaupun Silas lebih tua dari Lucas, dia gak nunjukin kalau dia yang lebih senior. Rasa hormat itu timbal balik dan gak peduli dendamnya sama orang tua itu, Nathan tetep hormat sama dia.
Begitu pintu tertutup, Silas ngambil ponselnya buat nge-text ke Lucas. Dia harus hormatin keinginan Lucas. Dia tahu gimana Lucas ngehargai ruang pribadinya dan masuk ke rumahnya jam 3:00 pagi bakal bikin dia kena hukuman, entah dia sahabatnya atau bukan.
….
Hari ini hari kelima.
Di sana dia di dapur, kelihatan murung dan sengsara banget.
Lucas bertekad buat keluarin dia dari kamar. Udah dua hari ini, dia masakin buat dia dan naruh di depan pintu. Dia diam-diam ngambilnya ke dalem dan Lucas mastiin dia gak sengaja lihat dia kayak hari-hari sebelumnya. Dia gak mau dipermalukan.
Dia buka kulkas dengan semangat banget. Hari ini adalah hari dia bertekad buat ngeluarin dia dan bahkan Cecil gak bakal bisa nghentiin dia, ngomongin soal penjaga, di mana dia? Lucas berbalik cuma buat nemuin Laurel dateng.
Dia merasa panas dan bersalah karena jelas bukan cuma dia yang ngerasa sengsara. Ada lingkaran hitam di bawah matanya; rambutnya dalam kondisi aslinya; berminyak, berantakan, dan kusut. Seolah-olah dia gak mandi berhari-hari… atau jangan-jangan emang gak mandi?
Lucas merasa bersalah. 'Hei,'
Laurel memutar matanya ke langit. Dia punya satu misi dan cuma satu misi. Minum air dan itulah yang bakal dia lakuin. Dengan pikiran itu, dia jalan melewati Lucas, ngambil sebotol air dari kulkas yang terbuka. Dia jalan ke sisi lain meja, buka tutup botolnya dan meneguk isinya.
Ini udah cukup ngumpet dan sok malu. Gak ada yang perlu ditakutin. Sama sekali gak ada.