Bab 152.
Tangannya gemeteran sambil dia usap rambutnya. Apa yang akan dipikirkan Antonia tentang dia sekarang? Dia gak bermaksud buat Antonia tahu kalau dia itu mafia kayak gini. Dia tahu siapa Antonia, dan dia mungkin gak akan mau lihat dia lagi setelah ini.
Dia bakal kehilangan dia selamanya kalau kayak gini terus.
Nathan lagi mau mandi pas ada telepon masuk lagi ke hapenya. Itu dari Dela Cruz.
"Coba lihat." Dela Cruz nyuruh, terus langsung matiin teleponnya tanpa ngomong apa-apa lagi.
Ini bikin Nathan deg-degan, mikirin ada yang salah apa.
Setelah beberapa saat dandan, dia nyampe di taman tempat Dela Cruz minta buat ketemu. Orang yang duduk di taman itu gak kayak biasanya. Dia keliatan kurang tidur, dan bajunya juga gak rapi kayak biasanya.
Dela Cruz manggil Nathan yang lagi berdiri di samping komidi puting.
"Woi!"
Nathan jalan mendekat ke pemimpin unit itu, dan kaget pas lihat dia bawa pistol. Dia tahu itu pas Dela Cruz ngangkat tangannya. Dia lihat pistol hitam itu nyembul dari balik sabuknya. Apa yang bisa bikin Dela Cruz stres sampai harus bawa pistol?
"Gue lagi diperas." Dela Cruz ngomong tiba-tiba, bikin Nathan noleh dan kaget.
"Siapa yang berani meras mafia?"
"Rocco Marco. Dia ngancam mau ngasih tahu kita ke polisi, dan hubungan gue sama polisi lagi gak bagus. Dia ngebet banget mau ngasih tahu FBI kalau gue berhenti ngasih dia duit."
Nathan menghela napas marah. "Kenapa lo cerita semua ini ke gue?"
"Karena bisnis keluarga bakal hancur kalau gue gak ngasih. Gue tahu lo dikirim ke sini sama bos, jadi gak usah sok-sokan ngomong soal gantiin Ace. Gue gak tahu Ace ngapain aja, tapi sesuatu bilang ke gue kalau dia udah kontak sama Lucas." Dela Cruz nyolot, seolah tahu segalanya.
Nathan berdehem. Dia gak mau terpancing dan lengah. Bisa aja Dela Cruz cuma nebak dan gak tahu keadaan yang sebenarnya. "Denger. Kenapa lo harus sampai jual narkoba ke distrik? Lo kan tahu itu gak sesuai aturan bisnis."
"Gimana menurut lo gue bisa berkembang dan punya semua ini?" Dela Cruz teriak marah. "Gimana menurut lo bisnis di sini bisa maju pesat di Meksiko? Ini Meksiko, buka mata lo!"
Nathan nelen ludah. Sekarang dia kena masalah ini, dan dia juga ada urusan lain kayak Antonia yang harus diurus. Tapi dia tahu kapan harus nyampur bisnis dan kesenangan. "Lo mau gue ngapain?"
Dela Cruz senyum licik. "Gue mau lo pergi dan ngomong sama polisi buat gue. Gak cuma itu, karena gue gak bisa terus-terusan ngasih polisi duit sebanyak yang dia minta setiap hari, lo bisa ngomong sama Bos buat gue."
"Gue gak bisa lakuin itu." Nathan geleng kepala. "Kita udah berusaha jauhin polisi, nurutin aturan dan peraturan di banyak negara, bahkan waktu kita ngelakuin bisnis ilegal kita secara legal. Lo tahu Bos gak akan suka sama hal ini."
"Kalo dia gak setuju, gue bakal kasih tahu Interpol, FBI tentang markas. Semua yang udah dia usahain bakal hancur!" Dela Cruz ngejek.
"Dan lo juga. Apa untungnya buat lo?" Nathan nanya dengan kesal. Dia gak percaya sejauh apa Dela Cruz bakal pergi buat dapetin kekuasaan.
"Gue bakal dapetin kekuasaan Lucas dan bikin dia masuk penjara. Apa lo pikir gue bakal biarin semuanya hancur gitu aja?" Dia cekikikan jahat. "Enggak. Gue bakal pastiin dia gak pernah lagi dipanggil Bosnya Para Bos. Gosh! Nama itu bikin gue kesel!" Dela Cruz mengklik atap lidahnya karena kesal.
Nathan jadi waspada. "Lo gak akan lakuin hal itu, dan gue gak bisa jadi kaki tangan dari perbuatan jahat lo."
Dela Cruz naruh tangannya di pistol. "Saat lo setuju buat datang ke sini, itu berarti lo setuju buat bantu gue. Bos gak akan kasihan sama lo kalau dia tahu lo ada di sini sama gue, dengerin rencana gue, dan nolak buat ngasih tahu dia."
"Kenapa lo pikir gue gak bakal ngasih tahu dia semua ini, hah?" Nathan berdiri, menjulang di atas Dela Cruz. "Gue gak bakal biarin lo lolos dari ini."
Dela Cruz tertawa. Rahangnya jatuh saat tawa keluar dari mulutnya. "Tuh kan? Gue tahu lo datang ke sini karena suatu alasan."
Nathan mengutuk kebodohannya. Seharusnya dia diem aja, dan sekarang, tanpa sadar, dia udah kena jebakan. Dia adalah jebakan yang Dela Cruz pasang buat menjatuhkan Lucas.
"Sekarang, lo harus mati." Dengan kelincahan macan kumbang, Dela Cruz ngeluarin pistolnya. Dia gak buang waktu buat nembak orang di depannya.
Nathan lihat itu datang. Dia udah tahu tentang pistol itu dari awal, jadi dia udah siap buat yang terburuk. Dia lolos dari Dela Cruz sebelum dia bisa naruh tangannya di pelatuk buat kedua kalinya.
Suara tembakan bikin kepanikan, orang-orang lari ke tempat yang aman. Jeritan terdengar saat anak-anak berebut lari buat nemuin orang tua mereka. Dela Cruz gak peduli kalau peluru bisa kena orang gak bersalah. Dia ngebet banget mau nangkep orang yang bakal ngerusak rencananya.
Dia nembak lagi.
Nathan nemuin tempat berlindung di balik ayunan yang udah karatan. Peluru mental dari besi saat dia merem. Keringat ngucur di dahinya saat dia mikir harus ngapain.
Dela Cruz udah bikin kesalahan dengan mencoba ngebunuh anak jenius itu. Nathan gak bisa mulai tembak-tembakan di mana ada orang gak bersalah. Dia gak kayak Dela Cruz yang gak mikir sebelum bertindak. Kalo yang Dela Cruz bilang itu bener, berarti bakal ada perang datang dan seseorang bantu dia dari markas.