Bab 124.
Lucas keluar, masih ada kalungan bunga di pundaknya. Laurel gak protes sama sekali. Dia mental-mentul pelan pas Lucas ngejatohin dia ke jok belakang.
"Sakit gak?" Lucas nanya, berdiri di antara kedua kaki Laurel yang terbuka, tangannya pelan di pinggangnya, ngusap-ngusap muter.
Laurel gak bisa marah, sekeras apapun dia coba. Gak bisa sama sekali. Dia cuma natap wajah Lucas yang keliatan khawatir. Dia gak tau harus nunjukkin emosi apa, antara marah dan nafsu yang nyampur jadi satu.
Lucas agak bingung pas gak denger jawaban dari Laurel. Dia cuma natap Lucas dengan bingung? Marah? Nafsu? Semua bercampur di wajahnya. Lucas mikir, apa yang dia harapkan? Mungkin harusnya dia ngehukum Laurel di tempat umum. Sial, dia terlalu baik. Lucas pengen banget ngeklaim Laurel di depan semua orang, buat nunjukkin ke Dela Cruz dan siapa aja yang suka sama Laurel, kalau Laurel itu cuma punya dia, dan dia cuma punya Laurel.
Laurel buka mulut mau ngomong sesuatu, tapi gak ada yang keluar. Pelan-pelan, dia maju mendekat, bikin Lucas kaget dengan ciuman.
Ciuman adalah hal terakhir yang Lucas duga dari Laurel. Dia udah siap kalau Laurel bakal nampar, debat, apa aja, tapi bukan ciuman. Tapi Lucas gak komplain juga sih, pas denger Laurel merintih. Suara-suara kayak gitu yang bikin dia hilang akal. Lucas nerapin kekuatan yang cukup biar Laurel berhenti. Dia mundur, natap mata Laurel. Laurel keliatan mabuk kepayang karena nafsu.
"Laurel, sayang… kita harus berhenti atau kita berdua bakal nyesel nanti," Lucas ngomong, suka banget sama cara rambut Laurel bergoyang.
"Maaf," Laurel minta maaf. "Aku gak seharusnya gitu."
Lucas gak tau Laurel minta maaf buat apa. Buat ciuman tadi atau buat pergi kencan sama cowok lain? Walaupun karena dia bosen, apa dia gak tau kalau Dela Cruz itu orang berbahaya?
"Gak apa-apa," Lucas jawab. Mereka berdua gak mau ngomongin apa yang terjadi di restoran.
Ada ketukan di mobil dan Lucas menghela napas pas liat itu adalah pengawalnya.
"Jangan percaya sama orang itu," Lucas bergumam. Bukan hak dia buat ngasih tau siapa yang boleh Laurel temuin atau gak, tapi kalau dia bikin Laurel liat alasan kenapa gak boleh ketemu orang itu, mungkin Laurel bakal berubah pikiran.
Laurel langsung noleh. "Aku gak percaya sama dia. Dia itu penguntit yang aku ceritain. Aku harus liat siapa dia sebenarnya dan percaya deh, aku seneng banget nyari tau. Dia orang jahat dan yang kita omongin cuma soal kekuasaan."
Laurel gak cerita tentang insiden di kamar mandi. Gak perlu juga.
"Cuma itu aja?" Lucas agak curiga. "Laurel, kalau dia punya sesuatu tentang kamu karena aku, kamu bisa cerita ke aku."
"Aku bakal cerita apa yang aku rasa perlu, oke," Laurel ngelus-ngelus dagu Lucas yang berbulu. Laurel suka cowok yang berbulu, meskipun gak terlalu banyak, karena Lucas gak kekurangan soal itu.
Lucas ngangguk, nikmatin tangan Laurel di pipinya. Tangannya lembut, beda sama tangannya yang nunjukkin pelatihan dan kerja keras yang harus dia lakuin buat bisnis keluarga jadi seperti sekarang.
Cecil ngeliatin dari kaca spion dengan wajah datar sambil nyetir mereka pulang.
…
Antonia ngelempar selimut ke tubuh Trisha. Dia kesel dan kepanasan. Nathaniel gak nelpon dan dia juga gak bisa ngehubungin Nathaniel. Operator bilang nomor teleponnya gak ada.
Mungkin enak buat pengawal tidur di sofa dia tanpa mikirin apa-apa.
Brak, suara selimut jatuh membangunkan Trisha. Udah selalu kayak gini. Sejak Antonia ngizinin Trisha tidur di sofa, dia selalu bangun tengah malam, ngelempar selimut berat ke Trisha cuma buat mastiin kalau Trisha gak satu-satunya yang gak bisa tidur nyenyak.
Antonia kena insomnia, tapi harga dirinya gak ngebolehin dia naik pesawat ke Amerika Serikat. Trisha udah berusaha keras meyakinkan Antonia buat menghadapi bayangannya, tapi usahanya sia-sia karena Antonia punya harga diri. Tapi kerinduannya pada Nathaniel bikin dia gila. Dia gak nyadar kalau dia bisa kangen sama seseorang sampai kena insomnia. Berhari-hari dia mantengin ponselnya nungguin berdering. Dia nungguin orang yang paling penting dalam hidupnya buat nelpon. Kakaknya dan Nathaniel, tapi hari-hari itu berlalu dan mereka gak pernah nelpon.
"Aku udah mutusin buat pergi," Antonia ngumumin ke Trisha beberapa minggu setelah insiden racun. Dia gak kerja lagi dan Sanders juga gak ngehubungin dia. Meskipun begitu, Antonia denger sesuatu tentang Sanders.
Dia denger Sanders dikeroyok sama narapidana. Yang terjadi adalah Trisha nyampein berita ke seseorang di penjara dan berita itu nyebar ke orang-orang yang sayang sama Antonia. Mereka nyusun rencana penyergapan dan bikin mata Sanders lebam.
Sanders masih di rumah sakit, tapi Trisha nyimpen semua informasi ini buat dirinya sendiri dan bilang ke Antonia kalau dia lagi gak kerja.
Gak ada yang coba ngeracunin majikannya dan lolos begitu aja.
"Pergi kemana?" Trisha pelan-pelan bangun dari sofa. Beberapa malam pertama emang sakit, tapi tubuhnya yang keras cepet banget adaptasi sama kondisi tidur yang keras.
Antonia garuk-garuk belakang kepalanya. Dia menghela napas. "Kamu mau aku jelasin? Aku bilang aku mau ke New York. Puas?"
Trisha berdehem. "Kenapa tiba-tiba banget?"
"Kalau aku pergi kesana, kamu bisa selesaiin tugas kamu disini. Bilang ke ayahku kalau dia berhasil ngebuka lagi luka lama," Antonia mengangkat bahu seolah gak terpengaruh sama kejadian aneh ini.
Trisha ngerasa gak enak. "Aku gak nyaranin kamu pergi kesana karena…"
"Simpan penjelasanmu buat ayahku. Kamu gak bakal ikut ke Amerika Serikat. Aku hargai dukungan kamu selama ini, tapi ini udah final. Aku gak mau ada bagian dari ayahku yang ngikutin aku."