Bab 52.
Dia berusaha banget, guys!
Lucas ngangguk sambil nyimpulin sesuatu yang ada di otaknya. "Buatin kita kopi masing-masing, terus permisi, ya." Dia melototin Silas dan Anya. "Kita perlu ngobrol."
Mereka semua ngangguk dan bikin diri nyaman.
Laurel ngedumel pas dia diizinin masuk ke dapur. Dia baru mau jalan pas sadar sesuatu. Lucas lagi ngeliatin dia dengan mata kayak elang dan kayak lagi nanya sesuatu.
"Kamu tahu dapur dari mana?" Matanya nanya dengan nakal. Itu tes dan dia baru aja gagal. Dia lagi berusaha nyari tahu apa dia tahu jalan ke dapur. Gimana sama instruksi tentang kulkas yang dia kasih?
Silas dan Anya nonton drama yang lagi terjadi tanpa ngerti apa yang lagi terjadi. Laurel muter bola matanya begitu dia sadar.
"Dapur di mana?" tanyanya datar.
Lucas berdehem. "Mundur 34 langkah dari sekarang, terus belok kanan. Dapur ada di pojokan."
"Makasih, Bos Lucas yang maha agung dan hebat." Laurel pengen bilang gitu tapi nahan diri. Dia nggak mau masalah lebih banyak karena Bos Lucas kayaknya lagi nggak mood sama mulut pedasnya.
Dia bener-bener lupa sama adiknya.
Laurel balik lagi beberapa menit kemudian dengan secangkir kopi dan sambil melototin pasangan gila itu, dia nyajiin kopi mereka. Mereka nggak ngeh dia melototin karena mata mereka fokus ke tablet. Mereka lagi ngomongin sesuatu tentang ekonomi dan harga pasar gelap.
Apa Lucas beneran pengusaha? Yah, dia kelihatan kayak orang yang terpercaya sih.
Usaha keras, dia pengen ngintip apa yang mereka omongin.
"Mereka nungguin kamu. Para Bos udah dateng dan kamu bahkan belum mandi atau sarapan. Kamu harus jaga diri kamu atau kamu bakal end..." Silas mulai dengan wajah khawatir.
"Cukup." Lucas ngehentiin dia sebelum dia bisa ngomong sesuatu yang nggak boleh Anya denger. Dia kan belum tetap jadi dia nggak berhak atas informasi apapun apalagi informasi pribadi.
Silas nundukin kepalanya minta maaf. Dia emang lagi melewati batas akhir-akhir ini. AirPod item di telinganya ngedip merah dan dia neken tombolnya. "Ngomong." Katanya.
Laurel nggak naik ke atas. Dia di dekat tangga, dengerin percakapan mereka. Dia nggak nemuin apa-apa yang berguna. Satu-satunya yang dia bisa dapat adalah tentang para bos yang nungguin Lucas. Apa Lucas petinggi di sini? Laurel ngangguk-ngangguk kagum. Kalo dia emang dihormati, mungkin dia nggak bakal liat akhir hidupnya sebelum dia nemuin rencana buat kabur untuk kedua kalinya.
"Luis udah nyiapin semua yang perlu buat mereka. Setelah kejadian itu, dia sakit tapi dia tetep kekeuh mau ambil kerjaan itu. Dia bakal ngepasang tali kekang ke anjing-anjing itu dan kamu bakal punya cukup waktu buat ngomong dan bahkan lebih banyak kontrol."
Lucas ngegebrak mejanya bikin Laurel kaget dari tempat dia ngumpet.
Laurel emang jago ngumpet. Itu kayak bakat khususnya karena nggak ada temen sebayanya yang nemuin dia pas main petak umpet. Kayak dia menghilang ke dalam tembok dan kecuali dia pengen seseorang tahu kehadirannya, dia nggak terkalahkan.
"Bukan cuma tentang Kontrol, dan kamu tahu itu." Dia mendesah. "Udah sana." Dia ngebolehin mereka pergi terus balik ke Anya. "Aku seneng buat kamu tapi kamu harus hormatin aturan di rumahku. Nggak ada ciuman di sofa. Jelas?" dia nanya, natap Anya intens.
Anya ngangguk gugup. Kayak dia bisa ngelihat ke dalam jiwanya. Bukan salah dia Silas mutusin buat nyium dia pas mereka masuk. Bahkan dia udah ngeyakinin dia kalo nggak ada yang bakal ganggu mereka selama mereka nggak bikin berisik. Jelas, dia lupa sama cewek yang diculik sahabatnya.
Silas beneran narik Anya keluar dari apartemen temennya. Dia mikir apa yang lagi direncanain Lucas. Dia nggak sabar nunggu pernikahannya. Bakal banyak banget prank dan Anya mending siapin pikirannya. Nggak, lupain itu. Istrinya gila jadi dia bakal baik-baik aja pas hari itu tiba.
Dia bakal nahan pertanyaannya tentang cewek aneh itu lagi. Sebanyak dia dan calon istrinya berusaha buat nggak terintimidasi sama kehadirannya, mereka emang terintimidasi.
Dia serem dan tatapannya pagi itu nggak ngebantu apa-apa.
Silas bukan orang yang mau ngakuin sesuatu kayak yang dia liat dan juga dia nggak terintimidasi sama cewek. Jujur aja, dia nggak suka sama Laurel Marco.
Sebastian bener. Temennya lagi jadi lembut dan itu semua gara-gara cewek bernama Laurel Marco ini. Kalo dia nonton tanpa ngelakuin apa-apa, Lucas nggak bakal jadi bos yang ditakutin semua orang. Dia bakal jadi melankolis dan lagi jatuh cinta. Bukan berarti Silas egois tapi dia ngerasa temennya butuh seseorang yang cukup mampu buat mimpin bareng dia.
Pikirannya melayang ke ibunya Lucas. Dia cantik, kuat dan bisa mimpin atau setidaknya itulah yang mereka pikir sampai dia mutusin nggak mau dan ngelakuin semua yang dia bisa buat ngehentiin Lucas jadi bagian dari bisnis keluarga.
Dia ngelakuin semua yang dia bisa dan gagal.
"Sayang?" Anya manggil calon suaminya. Dia udah mau keluar pas dia nemuin Silas masih duduk. Dia lagi natap kosong ke angkasa. Dia tahu ada banyak hal yang ada di pikirannya.
Ini kode buat Laurel buat ngilang sebelum mereka nemuin dia ngumpet di pojokan. Dia baru mau naik ke atas pas Lucas nemuin dia. Dia megang cangkir kopi di tangannya dan alisnya keangkat bingung.
Ya, dia bingung kenapa dia masih di tangga bahkan setelah nyuruh dia permisi sebentar.
Makan waktu lama sebelum Lucas bisa mikir.