Bab 75.
Itu datang dalam bentuk omongan jelek, tikam-menikam, bahkan gosip.
Kalau Laurel pikir hidupnya selalu indah, itu bohong.
Mereka berdua gak gampang.
Tuan Marco berubah jadi sesuatu yang gak bisa dia dan adiknya kenali setelah Mrs. Marco meninggal dan Laurel menderita karenanya. Kasihan, kasihan, Laurel.
"Cerita di balik foto ini adalah yang gak pengen kamu denger.." Antonia masih bilang bahkan tanpa dia minta.
Dr. Nathan senyum. "Kamu mulai dari mana aja. Lebih baik aku tahu semua tentang dia. Dia mungkin mau ikut aku ke sini kalau aku deket sama dia."
Antonia geleng-geleng. "Adikku gak segampang itu. Aku bisa bilang meskipun kita mirip, dia bisa bikin kamu gila cuma dengan kehadirannya."
Dr. Nathan mencibir. Susahnya gimana sih? Gampang kok kalau sama Antonia, kenapa gak gampang ngobrol sama adiknya?
Dia gak pernah ngerti cara berpikir saudara perempuan atau perempuan pada umumnya.
"Serius? Ceritain lagi dong." Karena dia suka ngomongin adiknya, dia bakal denger suara merdunya seharian.
....
"Dadaah." Antonia melambai ke Nathan yang senang. Senyum lebar di wajahnya dan Antonia gak bisa gak ikut senyum.
Dia juga gak bisa gak sadar kalau dia nyembunyiin sesuatu dari dia. Teleponnya itu masalahnya. Kenapa dia nyaranin pergi jauh-jauh ke New York City buat dia? Pasti ada sesuatu yang lain dan dia gak bodoh buat lihat itu.
Kadang kalau dia ngomong, dia gak selembut kelihatannya dan itu keren. Dia gak suka boneka teddy selalu dan dia tahu kapan harus berubah jadi yang dominan yang dia suka.
Antonia nyengir. Itu bukan urusannya kalau Nathan ada urusan lain di New York. Satu-satunya fokusnya adalah adiknya. Kalau dia bisa dapat berita tentang keberadaan adiknya, dia bakal tidur lebih nyenyak, makan lebih enak, dan lebih banyak ketawa.
....
Udah dua hari!
Udah dua hari sejak Cecil bawa dia pulang.
Udah dua hari sejak ulang tahun Luciana.
Udah dua hari sejak dia keluar buat makan.
Apa sih masalahnya? Lucas tanya sambil guling-guling di kasurnya. Dia kangen senyum jahilnya, kangen caranya dia nyerbu kulkasnya kalau dia pikir dia gak tahu, bangun dengan cokelat nempel di rambutnya.
Dia gak keluar sejak hari itu.
Lucas gak bisa tidur. Dia sibuk sama urusan keluarga dan itu gak gampang. Ace ngasih dia berita tentang rencana jahat saingannya.
Kamu mungkin bertanya-tanya siapa saingannya. Yah, itu gunanya Ace dipekerjakan. Dia di sana buat mata-matai dan lapor balik ke kartel. Dia juga ngawasin dia. Banyak yang harus dikerjain dan dia gak punya waktu buat drama Laurel.
Tapi dia gak bisa abaikan itu. Lucas turunin kakinya ke lantai. Dia harus ketemu dia atau dia bakal gila. Dia jalan ke pintu; dia buka pintu ngeliat kegelapan tangga terus mutusin buat gak ngomong sama dia. Dia yakin dia gak mau ngomong sama dia.
Lucas tahu dia udah nyinggung dia tapi dia gak kayak para bos mafia bandar narkoba yang bakal ngurung dia di suatu tempat. Dia biarin dia pakai HP-nya, ngasih dia kamar tidur, beliin baju buat dia, bahkan ngajak dia ke acara sebagai gandengannya.
"Apa dia harus berterima kasih atas semua itu?" Hatinya bertanya dengan getir.
Lucas menghela napas. "Bukan salahnya, Luis mutusin buat bertindak bodoh di hari yang menentukan itu. Kalau gak, dia gak bakal ada di dilema ini. Dia bakal balik ke kehidupan normalnya. Lucas gak merasa kasihan karena tidur sama cewek-cewek itu. Ini karena dia punya kebutuhan sebagai laki-laki dan kalau dia gak bisa dapetin dari cewek yang dia suka, dia bakal dapetin dari cewek lain sampai dia mutusin buat ngizinin dia masuk.
Dia tahu itu egois buat mikir kayak gitu tapi dia gak bisa nahan diri. Lucas mondar-mandir di kamar karena susah tidur. Udah larut buat mikir kayak gitu dan dia gak malu mikir kayak gitu.
Kenapa? Kenapa pikiran tentang dia bikin dia ngerasa kayak gini?
Lucas selalu ngerasa kosong tapi kekosongan ini beda. Dia udah bisa ngerasa Laurel jadi kelemahannya dan dia gak suka itu.
Lucas Dante gak pernah lemah atau punya kelemahan apa pun. Kalau dia terus mikirin dia kayak gini, dia bakal jadi kelemahannya. Dia punya mata polos yang bikin dia tegang. Bukan berarti dia komplain. Penampilannya di pagi hari adalah yang dia pengen bangun setiap hari. Buat cium dia tanpa sadar sementara rambutnya kayak sarang.
Itu imut.
Dia gak kayak cewek lain yang coba dandanin wajahnya sementara mereka pikir dia tidur cuma buat bangun kelihatan kayak malaikat di sisinya. Dia benci cewek-cewek kayak gitu. Kenapa dia tetep tidur sama mereka adalah buat ngilangin nafsu birahinya yang membara.
Laurel gak kayak cewek lain yang dia kenal. Dia gak bakal deskripsiin dia sebagai manis dan waktu dia ngumpat adalah hal paling indah yang pernah dia denger. Sementara dia misuh-misuh di mobil, Lucas berusaha keras nyembunyiin tegangnya.
Dia seksi.
Gak pantas punya pikiran kayak gini tapi apa yang bisa dia lakuin? Dia udah mutusin buat gak ngomong sama dia selama dua hari. Beda kalau mereka saling menghindari. Beda waktu dia nyaranin penggantinya sama jalang itu.
Dia setengah hati berharap dia bakal nerima dan juga berharap dia gak bakal nerima. Dia udah salah paham banget sama sarannya. Dia gak bermaksud minta dia buat ikut dia buat bertiga atau buat digantiin. Dia cuma pengen dia bener-bener deket sama dia. Dengan ngeliat wajahnya dia udah puas.