Bab 141.
Itu nunjukin kunci pintunya berhasil dibuka. Pintu berderit pas dia dorong lebih lebar ke samping. Tikus-tikus kecil lari kesana kemari pas mereka denger suara penyusup dan debu memenuhi hidung Antonia. Dia mundur sedikit buat batuk. Matanya berair dan langsung merah seketika.
"Gue gak bakal kesana deh kalau jadi lo." Seseorang berkata, bikin Antonia kaget setengah mati. Dia noleh dengan marah buat liat ternyata wanita pendek itu. Kok dia bisa jalan tanpa ada suara kakinya kedengeran, ya? Antonia bingung sekaligus marah.
"Apaan?!" Antonia teriak. Dia masih belum pulih dari kekacauan di kamar itu. Dia tau adiknya gak pernah separah ini kotornya. Eh, ralat deh, adiknya emang males, tapi gak kotor. Gak mungkin banget. Pasti gara-gara dia gak ada di rumah.
"Gak ada siapa-siapa di dalem sana, dan kecuali lo suka bersih-bersih, gue gak saranin lo masuk ke dalem."
Antonia mencibir. "Lo tau apa, nenek sihir? Ini apartemen adek gue."
Teresa menghela napas. "Adek lo masuk kesini sama dua cowok ganteng. Gue ngeliat dari jauh waktu dia nyoba kabur dari mereka bareng temennya."
Antonia agak kaget. Ada apa sih ini? Jangan-jangan ini alesan kenapa dia gak bisa ngehubungin adiknya? "Temen yang mana?"
"Dia kerja di klub namanya Bounce, lo bisa cek sendiri."
Itu klub yang sama, Nathan bilang dia mau cek. Dia bahkan nelpon buat bilang adiknya baik-baik aja, tapi kok wanita ini ngomong kayak gitu? "Lo yakin adek gue baik-baik aja? Bukannya lo bilang ke orang-orang kalau dia udah nikah sama dua cowok?"
Konyol banget, kan?
Wanita itu cekikikan untuk kedua kalinya. "Gue cuma kasian sama lo. Laurel itu cewek baik, tapi dia gak pantes diculik sama dua cowok yang ngaku-ngaku jadi suami atau pengawal dia..."
Antonia mengerutkan dahi dengan jengkel. "Lo ngomongin apa sih?! Adek gue aman apa gak?!"
"Adek lo udah nikah sama dua cowok. Mereka dateng kesini ngaku-ngaku pengawal dia, tapi gue tau kalau seorang wanita jadi sandera. Gue sering nonton di film." Teresa menyeringai. Dia keliatan kayak orang gila bagi Antonia. "Lo bisa cari tau sendiri, dan lo bakal liat kalau gue ngomong yang bener."
Rahang Antonia menganga pas dia liat wanita itu pergi. Kapan New York jadi penuh sama orang-orang aneh? Dia ngeluarin hapenya buat nyoba nomor Nathan lagi, tapi gak bisa dihubungin. Lagi.
"Arrgghhh!" Ada satu hal yang harus dia lakuin sekarang, yaitu pergi ke Bounce.
.....
Dela Cruz masuk ke kantornya dengan kemarahan yang menggelegar. Dia gak pernah semalu ini seumur hidupnya. Dia marah banget sampe gak bisa liat ada orang berdiri di sudut ruangan.
"Dela Cruz." Salah satu dari mereka memanggil, bikin dia hampir loncat kaget. Dia langsung megang pistolnya.
Dela Cruz noleh dengan pistol mengarah ke sumber suara, matanya berapi-api. "Apaan?!"
Nathan keluar dari bayangan, tangan di udara dan Ace jalan di belakangnya. "Ini gue."
Dela Cruz nurunin pistolnya seketika Nathan muncul. Dia kaget ngeliat si jenius cilik berdiri di depannya. Kok dia bisa masuk kantor dan yang paling penting, ngapain dia nyebrang perbatasan Meksiko?
"Gue gak bermaksud nyakitin lo." Nathan meyakinkan lagi.
"Terus gimana caranya lo bisa masuk ke kantor ini?" Dela Cruz nanya, menyipitkan matanya ke Ace yang keliatan kayak anak Harvard di belakang si jenius cilik. "Lo, bocah! Dari mana aja sih?"
"Lo terlalu sibuk sama hal lain sampe lupa sama bocah malang yang lo kirim sendirian ke distrik." Nathan menggerutu.
Dela Cruz mengangkat bahu, ngelepas jaketnya. Beberapa hari ini emang sialan, dan dia gak siap buat omongan gak jelas ini. "Kita obrolin ini nanti aja, ya? Gue bener-bener gak mood." Dia menggantung jasnya, berbalik badan buat nyelonong ke kursi kulitnya. Itu bikin bokongnya nyaman.
Nathan ngegebrak meja. "Kita gak akan keluar dari kantor ini sampe lo bilang kenapa lo ngirim bocah malang ini sendirian ke distrik!"
Dela Cruz menyipitkan mata ke si jenius cilik itu. Dia gak bakal terpancing, dan ngeliat bocah itu ngumpet di sampingnya, pasti ada sesuatu yang dia kasih tau.
"Jangan lupa lo di bawah unit siapa." Dela Cruz memperingatkan sambil kursinya berputar. "Gue gak peduli siapa yang ngirim lo kesini, tapi lo di bawah komando gue disini." Dia ngeliatin Ace lagi. "Gue gak ngelakuin kesalahan apa-apa. Gue cuma nyuruh bocah itu nganterin beberapa barang ke Sheriff."
Nathan ngangguk, ngejauhin Ace dari belakangnya. "Beneran gitu?"
Ace ngangguk yakin, tapi matanya nunjukin ketakutan tertentu, dan itu bikin senyum di wajah Dela Cruz.
"Tuh, kan?"
"Tapi lo tau kan kalau jual narkoba ke polisi itu ngelanggar aturan." Nathan nyoba membela. "Liat apa yang mereka lakuin ke bocah malang itu."
Dela Cruz mendengus. "Ah, udah deh. Kalau dia masuk penjara, itu nunjukin dia gak pinter. Gue cuma nyuruh dia buat tugas, dan dia gagal kayak orang bodoh." Dia nunjuk dengan kasar. "Ibu lo gak akan pernah dapet perawatan!"
Ace merintih sambil mundur selangkah, gak kayak biasanya. Dia hancur. "Bos, gue udah anterin barangnya, tapi sheriffnya jahat."
"Kalau lo mau kerja di bawah gue, lo harus pinter! Gue gak kaget sih? Lo ngerusak pekerjaan pertama gue, jadi kenapa lo gak ngerusak yang kedua?!" Dela Cruz melempar buku catatan ke arahnya. "Lo harusnya kayak si jenius cilik disini." Dia melirik Nathan dengan nakal. "Dia pinter dan tau kapan gak boleh ikut campur... Sekarang, kalian berdua keluar dari kantor gue, gue lagi gak enak mood."