Bab 136.
Semua orang udah duduk sebelum mereka masuk.
Di sisi altar ada kursi khusus buat Pengantin Pria, Pengantin Wanita, dan dayang-dayang Pengantin Wanita sama pria-pria pendamping Pengantin Pria.
Lucas jalan cepat ke kursinya dan dia bahkan nggak sempat siap-siap karena dia langsung dikasih mikrofon buat ngomong beberapa hal yang dia tahu tentang Silas.
Lucas sama sekali nggak siap. Ngeliatin bagian dayang-dayang Pengantin Wanita, dia bisa ngeliat jempol Laurel nongol. Dia nyemangatin dan nyuruh dia lanjut. Hal ini ngasih dia kepercayaan diri yang dia butuhin banget. Buat orang lain, dia mungkin keliatan tenang dan terkendali, tapi buat Laurel, dia bisa ngeliat betapa gugupnya dia. Dia suka itu dan nggak malu sedikit pun. Dia suka ada yang bisa nyadar kalau semuanya nggak sempurna kayaknya. Dia suka dia nggak harus sok kuat terus-terusan karena dia dipanggil Bos. Dia suka kerentanannya cuma keliatan sama cewek yang dia cintai. Dia satu-satunya yang bisa benerin dia kalau ada yang salah.
Mereka saling melengkapi meskipun mereka nggak mau ngomong langsung.
"Gue mau ngucapin selamat buat Silas dan Anya," Lucas nyapa, sambil ngangkat gelas anggurnya ke arah mereka.
Silas ngangguk tanda terima kasih dan nyium pipi istrinya. Dia adalah hal paling indah yang pernah dia liat malam ini. Anya cekikikan sementara banyak orang lain yang keasyikan sama kemeriahan malam itu.
"Kita udah bareng dari kecil. Nggak pernah pisah sampai kejadian tragis yang terjadi dan ayah Silas harus pergi jauh banget," kata Lucas. Mending dia ngomong sekarang daripada sok-sok-an bilang semuanya baik-baik aja.
Anya nutupin tangan Silas yang ngepal pake tangannya, ngehentiin dia dari perbuatan itu dan mungkin bikin dia malu di depan orang-orang yang nggak tahu soal bisnis keluarga bawah tanah.
Silas santai begitu tangan Anya nyentuh tangannya. Dia nggak marah sama Lucas, dia marah sama ayahnya yang mati secara kejam di tangan sahabatnya sendiri. Coba aja dia nggak terlalu serakah, ngaku-ngaku ngekhianatin keluarga demi kebaikan keluarga, dia pasti ada di sini sekarang. Mata Silas berkaca-kaca.
"Gue nggak pernah liat orang yang setia kayak dia. Kita udah ngelewatin suka dan duka, tapi dia tetep ada. Anya, gue udah cerita belum soal waktu Silas..." Dan dia lanjut bikin penonton ketawa dan ngingetin mereka soal hari Silas ngakuin cintanya dalam keadaan mabuk berat. Rekaman diputar dan semua orang ketawa ngakak.
Beberapa bagiannya diedit, tapi nggak ada yang bisa bantah kalau itu suara mabuknya Silas di telepon. Anya udah bales dendam karena Silas siap banget ngerasa malu.
"Lo pasti bercanda," Silas gumam, nenggelemin kepalanya di dada Anya saat mereka makin ngeledek dia. Setelah Lucas bersulang, giliran Anya.
Adiknya, Maya berdiri. Dia jalan anggun ke panggung dan Laurel kaget karena ini cewek yang sama yang dia liat lagi marah-marah ke salah satu dayang yang ngerias rambut Anya pagi ini.
"Kalau adik gue naik altar dengan rambut kayak pantat ayam, gue pastiin lo nggak bakal hidup besok!" Maya teriak dengan aksen Kolombia-nya yang kental memenuhi udara.
Laurel kaget sejenak karena cewek yang berdiri di depan penonton keliatan beda atau emang keliatannya gitu.
Dengan rambutnya yang diiket jadi sanggul malas, lipstik ashen yang menyala-nyala yang udah belepotan di bibirnya yang udah gelap, dia keliatan kayak lagi di gala.
"Gue mau berterima kasih ke kalian semua karena udah dateng ke pernikahan adik cantik gue, suatu kehormatan bisa berdiri di sini hari ini," Maya senyum dengan senyum paling memukau yang dia punya.
Dia lebih tua dari Anya, tapi dia nggak malu denger adiknya nikah duluan.
"Anya selalu ceria, manis, dan kalau digabung...aneh."
Kalian berdua aneh...pikir Laurel sambil merhatiin makhluk itu. Maya berhasil narik perhatian semua orang dan itu karena dia keliatan aneh. Untungnya, Laurel udah berhasil ngatur pilihan gaun Anya buat pernikahan, tapi di balik gaun panjangnya ada sepatu hak biru yang aneh. Laurel berani taruhan itu dibuat khusus sama Anya sendiri.
Proyektor berdengung sedikit sebelum akhirnya nyala dengan foto-foto bayi Anya. "Ini dia, adik kecil gue yang cantik."
Keributan pecah ketika Maya mulai nangis. Maskaranya luntur di wajahnya, lipstiknya memutuskan buat nggak nempel di bibirnya, dan ketika dia nyoba bersihin wajahnya, sepertiga foundation-nya ikut luntur.
Laurel cekikikan gugup sambil ngecengin tatapan khawatir yang Anya kasih ke dia. Dia nggak bakal naik ke sana dan oh...
Laurel lari ke Maya yang lagi nangis sejadi-jadinya di depan semua orang. Mengerikan.
"Oke, udah, udah," Laurel nepuk bahu Maya sambil diam-diam narik mikrofon dari tangannya. Malunya udah cukup buat malam ini.
Silas ngerasain malam terbaik dalam hidupnya sementara Anya masang tampang cemberut. "Sayang, gue rasa malamnya masih terlalu pagi buat ini."
Lucas berdeham keras, bikin Silas diem. Dia nggak seneng Silas seneng-seneng sementara adik iparnya di belakang lagi nangis sejadi-jadinya. "Gue rasa lo nggak seharusnya nambahin kesenangan lo ke piring, Silas. Ini serius."
"Ayo dong!" Silas mengeluh. Dia bertingkah kayak anak kecil.
Laurel ngelap mata Maya. "Nggak papa. Luapin aja." Dia tahu hal kayak gini pasti terjadi. Tapi dia nggak nyangka bakal kayak gini. Orang yang cengeng, nangis kejer. Nggak nyangka.
"Gimana caranya lo nyaranin gue buat ngeluarinnya kalau gue nggak bisa?"