Bab 158.
Rumah Silas sama aja. Dia nyuruh bosnya masuk terus ngunci rapat biar gak ada gangguan.
"Bos. Penting banget nih? Ada apaan sih? Bisnis lagi ngeboom, kita juga udah lama gak berantem sejak jaman bokap lo." Silas duduk di meja deket jendela. Kamar itu kosong, cuma ada meja nempel tembok sama beberapa kursi plastik nyebar di ruangan.
"Makanya gue gak kaget. Gue udah nunggu sesuatu terjadi karena damai banget udah kayak kelewatan. Dengan situasi di Korea Selatan sama Meksiko, gue bisa bilang kita mau perang." Lucas nyilangin tangan ngeliatin ekspresi khawatir Silas. "Dela Cruz berencana buat pemberontakan dan ada yang nyuruh dia dari sini, makanya gue butuh bantuan lo buat 'pembersihan besar-besaran'."
Silas nge-groan. "Lo tahu kan betapa susahnya 'pembersihan besar-besaran' ini bakal terjadi di sini. Apa kita juga lakuin di negara bagian lain?"
Lucas geleng kepala. "Enggak, bakal ribet banget. Kalo kita bisa tangkep Dela Cruz pas lagi beraksi, gue jamin kita bisa dapetin yang lain. Dela Cruz pengkhianat dan dia gak bakal mau turun sendirian."
"Oke, kita mau ngapain?" Silas berdiri. "Bawa dia ke sini buat dihukum!"
"Itu kan gak sesuai aturan mafia. Kita harus tangkep dia pas lagi beraksi, inget? Kalo kita gak bisa tangkep dia pas lagi beraksi, semuanya cuma teori dan satu-satunya cara buat lakuin itu adalah dapetin Rocco Marco sama mata-mata di antara kita." Lucas garuk-garuk janggut sambil mikir.
Silas ngangguk setuju. "Jadi lo mau gue bantu lakuin 'pembersihan besar-besaran' sementara lo pergi ke Korea Selatan?"
Lucas menghela napas. "Mungkin butuh dua hari buat nyampe sana, cuacanya lagi jelek."
Silas mondar-mandir di ruangan. "Gawat nih. Bisa bikin semua kerja keras kita sia-sia. Tapi kenapa sekarang? Kenapa sekarang dia beraksi, dan kenapa Dela Cruz gak lakuin ini?"
Lucas cekikikan. "Dela Cruz kan rubah tua. Dia nunggu waktu yang pas buat nyerang gue. Dia nunggu kelemahan gue dan sekarang dia udah liat, dia gak bakal lepasin kesempatan ini. Lo harus bawa istri lo ke tempat aman. Dia gak bersalah dalam hal ini. Kalo buat istri dan anak-anak anggota yang lain, anak di bawah 15 tahun boleh lewat, tapi anak usia 15 tahun ke atas gak boleh. Mereka harus diperiksa bener-bener."
"Siap, bos." Silas mikir, bikin catatan di otaknya buat ngelakuin yang dia bilang.
"Para wanita harus diperiksa. Bikin seolah-olah kayak pesta kumpul-kumpul besar. Tanya-tanya mereka dan pastikan lo gak mencurigakan. Kalo ada yang keliatan mencurigakan, pisahin buat gue nanti balik."
Silas ngangguk. "Siap bos."
"Cecil bakal tetap di sini dan bantu. Kalian berdua harus lakuin ini se-diskrit mungkin. Pastikan semua aturan dipatuhi secepatnya. Siapa aja yang ketahuan ngelanggar aturan..."
Silas nge-groan. "Bos, ngomongnya kayak lo gak bakal balik lagi."
Lucas nepuk-nepuk punggung sahabatnya. "Gue cuma mau kirim pesan doang. Gue bakal balik. Kalo bukan karena apapun, buat Laurel yang bakal nunggu gue balik." Kali ini dia yakin Laurel gak bakal main belakang lagi buat ketemu Dela Cruz sekarang dia udah kasih tahu siapa dia sebenarnya. Mungkin dia pikir dia bisa nyembunyiinnya, tapi dia bisa liat rasa sakit di matanya waktu dia bilang orang yang dia pikir dia itu bukan. Sama kayak Luis.
Dia berjanji buat lindungi Laurel dari orang-orang dengan identitas palsu.
....
Sebastian ngetok pintu biru. Dia berdoa banget biar orang di baliknya mau buka pintu. Dia harus banget nyampein sesuatu.
Rosemary buka pintu pelan-pelan. Dia kaget ngeliat Sebastian. Pipinya yang keriput langsung merah.
"Kamu ngapain ke rumah saya?"
"Pembersihan besar-besaran." Sebastian cuma jawab gitu dan Rosemary langsung kaget.
Semuanya tiba-tiba dan gak ada yang dikasih tahu sebelumnya. "Apa semua orang atau?"
"Iya, semua orang yang berhubungan dengan mafia, termasuk istri dan anak-anak. Ini besar Rosemary. Gue gak tahu apa yang bakal terjadi kalo bos mikir gue pengkhianat."
Rosemary ngeliatin dia curiga. "Dan kenapa kamu mikir kayak gitu?"
Sebastian bisa liat gimana Rosemary ngeliatin dia. Tatapan lembutnya berubah jadi gak percaya. Cepet banget dia berubah pikiran cuma dari matanya. Itu nunjukin dia gak main-main sama pengkhianat dan dia juga gak akan kompromi sama kesetiaannya pada bisnis keluarga.
Sebastian cekikikan. "Santai aja, gue gak ngapa-ngapain, tapi gimana kalo gue dijebak? Kejadian kayak gitu pernah waktu zaman Reginald."
Rosemary memutar matanya, ingatan itu kayak kejadian kemarin yang dia datengin. Reginald adalah salah satu anak muda yang kerja langsung di bawah bos Mafia yang berpengaruh. Bos mafia ini sama kayak Lucas dan Reginald punya kesempatan buat deket sama dia. Suatu hari datang dan bos hampir diracun oleh orang kepercayaannya. Orang kepercayaan itu adalah Reginald. Dia adalah pemuda yang menjanjikan yang kesetiaannya gak pernah diragukan. Reginald menyangkal bahwa dia ada hubungannya dengan itu sampai hari pembersihan besar-besaran.
Mereka akhirnya menangkap orang yang mencoba membunuh bos, tapi ketika dia ditanya siapa komplotannya, dia menunjuk jari ke Reginald.
Dia dituduh sebagai komplotan oleh pelaku sendiri dan keduanya harus turun tanpa Reginald punya kesempatan buat membela diri.
Dia dibunuh tanpa alasan. Tapi ini gak diketahui karena saat itu, semua bukti mengarah padanya.