Bab 165.
Dia menemukan satu di bawah ranjang dalam hitungan detik dan melemparkannya ke arah jam.
Jatuh dengan suara 'dug' dan Lucas meringis saat Laurel menggeliat karena suara itu.
Dia hampir menampar dirinya sendiri karena membangunkan ceweknya.
"Pagi..." Laurel menyapa sambil tersenyum. Dia setengah mengantuk dan lucu banget ngeliat dia bangun sambil senyum. Itu bikin jantungnya berdebar dan dia gak bisa nahan buat gak nyium dia di bibir, gak peduli protes dan napas dan omongan lainnya. Dia gak peduli.
"Pagi." jawab Lucas setelah itu. Rasanya kayak mint dan gak terlalu buruk kok. Gak pernah ada waktu yang salah buat nyium bibir yang montok itu.
Telepon Lucas berdering, bikin dia pengen nyatuin telepon itu sama tembok. Siapa sih yang nelpon dia pagi-pagi begini?! Dia meraih telepon dari meja nakas. "Ngomong."
"Bos, sudah siap." kata Trisha di telepon.
Lucas mencubit pangkal hidungnya. Begitu dia sampai sini bawa abu jenazah Rocco, dia bakal mastiin dia les privat jadi bodyguard sama Cecil. Aturan nomor satu: jangan nelpon dia pagi-pagi pas lagi mesra-mesraan sama ceweknya. "Oke. Trisha?"
Telinga Laurel langsung tegak denger itu. Hormon cemburunya udah mulai kumat karena dia gak kenal orang lain yang ada hubungan sama Lucas, namanya Trisha.
"Iya, Bos?"
"Jangan nelpon gue pagi-pagi, sialan!" Dia membentak, memotong pembicaraan.
Laurel langsung duduk. "Siapa itu?"
Lucas mengangkat alis dengan bingung. "Kenapa lo pengen tau?"
"Gue pengen tau karena gue pengen tau. Dia sepupu lo? Tante lo?" Laurel menyelidik dengan rasa penasaran di matanya. Di balik itu ada rasa takut. "Salah satu jalang lo?"
"Kaya gue nyium aroma cemburu nih?" tanya Lucas, senyum ngembang di pipinya. "Lo harus benerin hormon cemburu lo tuh."
Laurel cemberut. "Gue gak cemburu." Dia jadi serius. "Siapa dia Lucas?"
Lucas menyibak rambut yang nutupin sebagian wajahnya. "Dia bodyguard yang gue sewa buat lo."
Laurel tersentak. "Gak perlu sampe gitu juga buat jagain gue. Cecil aja cukup kok."
Lucas berdeham sambil dagunya terangkat dramatis. "Cecil itu cowok dan gue gak suka dia deket-deket sama lo. Lo harusnya cuma buat gue aja."
Laurel tertawa terbahak-bahak. "Kalo gitu, begitu dia dateng, lo gak bakal bisa lagi akses nomornya atau apapun. Siapa pun namanya, dia gak bakal tinggal di rumah ini, dia bakal tinggal di kandang kuda dan lo cuma bakal punya mata buat gue karena gue milik lo dan lo milik gue. Jasanya cuma dipake kalo emang perlu aja."
Lucas mengangguk setuju. Dia punya mata buat ceweknya dan gak bakal mau terima bentuk perselingkuhan apa pun. Padahal dia ragu banget Trisha punya mata buat dia. Cewek itu isinya cuma otot dan gak bakal kaget denger dia ngabdain diri buat ngejagain orang. Iya, dia keliatan segila itu dengan kepala botaknya dan semua itu. Dia punya tampang biksu yang kuat. Terus dia inget kenapa Trisha nelpon.
"Gue punya berita buruk." Dia mengumumkan ke Laurel.
"Apaan tuh? Kalo soal camilan yang lo beli, gak ada ceritanya lo balikin." Jawabnya menantang.
Kemarin, Lucas udah bawa pulang camilan dari penjual permen terbaik di Korea. Dia tau Laurel suka makanan manis, tapi dia balik buat nemuin Laurel ngeluh sakit gigi. Tapi, dia gak peduli karena dia langsung merebut camilan dari tangannya dan nyeret dia buat nyobain serangkaian makanan yang dia bikin.
Konyol sih, tapi dia suka itu dan dia. Itu bukan berita buruk yang mau dia kasih tau, tapi dia seneng dia inget. Laurel udah bikin aturan buat gak nanya soal perjalanan dia sampe dia mutusin buat ngasih tau. Semua yang dia minta ada di dia.
Lucas dalam hati berterima kasih sama Tuhan karena udah ngasih dia Laurel Marco.
Lucas mengerutkan dahi. "Sayang, lo harus ke dokter gigi dan itu udah final. Gue hampir lupa sampe lo nyebutin."
Laurel dalam hati nge-facepalm. Harusnya dia nunggu sampe dia siap cerita. Sekarang mulutnya kepanjangan. Rasa sakit yang dia rasain semalem udah reda, tapi Lucas gak mau dengerin. "Oke. Lanjutin aja berita buruknya."
Lucas kaget. "Emang lo gak harusnya keliatan ketakutan?"
Laurel mengangkat bahu. "Dan kenapa gue harus ngerasa gitu? Lanjutin aja berita buruknya. Gue siap kok."
Dia menghela napas berharap dia sedikit siap buat apa yang mau dia kasih tau. "Ayah lo meninggal karena serangan jantung, tiga hari yang lalu."
Laurel tersentak kaget. "Gimana bisa? Lo pergi-pergi buat ngirim... emang lo bunuh dia?"
"Gue pengennya gitu." Lucas menggeram marah. "Gue ngiket dia di kursi biar kita bisa diskusi biasa. Dia teriak sekencang-kencangnya pas diskusi kita dan ambruk beberapa menit kemudian. Gue minta maaf banget."
"Gue gak sempet ketemu ayah gue sebelum dia mutusin buat ninggalin gue dan kakak gue. Seperti biasa, dia kabur kaya pengecut.". Laurel membiarkan air mata menetes di pipinya saat dia melakukan satu menit hening dalam kepalanya. Dia gak mau ngeluarin air mata buat pria yang udah nyakitin dia setelah kematian ibu mereka, tapi dia masih ayahnya. Meskipun dia nyambuk dia pake rotan setiap kali dia salah, selalu lebih mentingin kakak perempuannya daripada dia, bikin dia bertanya-tanya apakah ibunya mendapatkan dia dari pria lain. Gak gitu karena setiap kali dia ngaca, dia selalu ngeliat sekilas wajah ayahnya di wajahnya.
Dia adalah bagian dari dia apa pun yang terjadi.