Bab 108.
'Kenapa kamu ngikutin aku?'
Trisha berhenti. Dia gak tahu apa yang merasukinya majikannya yang baru dan langsung mati. 'Aku ditugasin buat nyediain semua yang kamu butuhin buat pergi dari fasilitas ini. Banyak orang yang gak suka sama kamu, dan kamu tahu itu kan.'
Itu bener. Gak ada siapa-siapa yang bisa lindungin dia sekarang kecuali cewek ini yang…
'Aku ngerti!' Antonia teriak. Dia benci banget suaranya menggema. 'Gak usah ngomong di depan muka aku kalau aku dibenci di tempat kerja.' Dia menggertak. Apa mesin cewek ini gak ngerti buat mundur aja? Antonia menghela napas, melanjutkan jalannya.
Trisha masang muka khawatir. Dia udah dilatih buat nunjukkin emosi apa pun yang dibutuhkan majikannya buat nenangin diri.
Siapa sih boneka ini? Antonia ngegerutu pas cewek itu ngikutin dia kayak lebah ngejar madu. 'Presiden yang nyuruh kamu? Bilang sama dia, aku gak butuh pengawal kampret. Apaan sih semua ini?' dia nanya gak jelas sambil belok tajam ke sudut, nemuin pintu kantornya dan ngebukanya dengan paksa.
Maksudnya buat ngasih tahu cewek itu kalau dia gak boleh masuk ke ruang pribadinya.
Trisha ngerti kemarahan majikannya. Siapa yang gak bakal marah kalau keadaannya kayak gini?
'Aku datang ke sini buat kerja!' Antonia menjerit sambil ngelepas sepatu hak kirinya dari kakinya. Dia ngelemparnya, gak peduli mau mendarat di mana. Dia marah banget. Sekarang dia udah dipecat secara halus dari kerjaan, bakal ada waktu buat dia ketemu adiknya.
Tapi ada satu orang yang paling dia kangenin, Nathaniel smith. Dia yang Antonia pengen temuin, bukan adiknya.
Pikiran-pikiran ini bikin dia ngerasa bersalah.
Presiden itu orang yang licik, dan meskipun dia belum pernah ketemu, dia bikin dia ngerasa kayak anaknya. Dia pernah denger suaranya tapi belum pernah ketemu langsung. Dia bahkan pernah lihat punggungnya tapi gak pernah ketemu. Konyol banget kan?
Sekarang, dia ngirim dia pergi cuma dengan catatan yang nyebelin. Orang pertama yang dia rasa deket, pergi ke New York. Yang kedua nolak buat ketemu dan malah milih buat ngirim dia pergi selama tiga bulan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Antonia ngusap keningnya frustasi. Harus mulai dari mana dia? Nengok ke atas, dia bisa ngelihat bayangan Trisha di pintu. Antonia hilang kesabaran. Suara sepatu hak kanannya yang kena pintu nunjukkin gimana marahnya dia.
'Keluar dari ruangan aku!' dia menjerit. Tepat saat itu pintu kebuka, nunjukkin Sanders dengan jas putihnya, dengan ekspresi kaget di wajahnya.
Dia hampir aja kena sepasang sepatu hak merah montok. Dia tahu itu punya siapa.
'Apa? Kaget sama kelakuan aku?' Antonia nyinyir. Tentu aja kantornya berantakan dan Antonia ada di tengahnya.
Sanders memutar matanya. 'Denger, aku gak di sini buat ngehakimin kamu.' Lebih baik kalau dia gak berasumsi dan cuma hemat napas. Harimau betina yang marah di depannya bakal nelen dia cuma gara-gara salah ngomong.
'Kalo gitu jangan liatin aku kayak aku gila.' Antonia bergumam. Dia bangun dari kursi. 'Aku mau minum. Mau ikut?'
Ini pertama kalinya seniornya ngajak dia buat jalan-jalan. Senang banget dia bisa keluar bareng modelnya. Sanders ngangguk. 'Iya. Jam berapa?'
'Sekarang?' Antonia masuk ke jaketnya. Udara malam dingin.
Sanders geleng-geleng. 'Gak tahu… masih jam kerja-'
'Kamu bisa tetap di sini. Gak ada tekanan.' Antonia memotong.
Mata Sanders melebar. Gak mungkin banget dia nolak tawaran kayak gitu. Dia udah mulai suka sama senior barunya ini. Matanya nunjukkin sesuatu yang mirip api dan Sanders penasaran apa yang nyebabinnya. 'Nggak mau!' Sanders bilang sambil meraih tas tangannya.
Antonia ngebuka pintu, sambil membungkuk buat ngambil sepatunya, dia nemuin Trisha di sudut, dan nunggu entah apa. Dia menghela napas. 'Kamu boleh ikut kalau mau.' Dengan itu, Antonia melenggang menyusuri lorong. Dia yakin pengawal barunya gak bakal ninggalin dia buat minum sendirian.
Antonia nyatet dalam hati buat nanya ke Trisha apa kerjaannya dan siapa yang beneran nyuruh dia. Tapi untuk sekarang, tenggorokannya kering dan dia butuh sesuatu buat gak cuma ngilangin rasanya.
….
Satu-satunya klub yang deket sama fasilitas penjara penuh banget hari itu. Agak bikin kaget karena harinya belum selesai.
'Kamu yakin soal ini?' Sanders nanya sambil duduk di kursi tinggi. Dia naruh tasnya di meja.
Antonia memutar matanya. 'Kamu harus terbiasa sama aku yang baru ini. Aku gak harus jaga penampilan di tempat kerja lagi. Tiga tahun kerja hasilnya tiga bulan cuti gak resmi.'
'Aku mau banget ada di posisi kamu sekarang.' Sanders memecah jari-jarinya saat minuman ditaruh di depan mereka. 'Gak mungkin aku dikasih cuti kayak gitu dengan cuma-cuma. Kamu deket sama presiden jadi aku kira…'
'Aku gak se-deket itu sama presiden seperti yang kamu kira. Kenapa kamu pikir aku gak pernah nyebutin dia ke kamu sebelumnya?'
'Kamu gak pernah nyebutin apa pun ke aku sebelumnya, Antonia.' Sanders memasang wajah datar.
'Tapi aku ngebolehin kamu ngomong sama aku santai.' Antonia mengangkat bahu, ngelihat minuman di depannya. Dia belum pernah minum vodka dan ini salah satu momen saat dia harus mikir ulang keputusannya. Dia noleh ke belakang buat nemuin pengawal cewek itu menjaga jarak.
Trisha menjaga jarak. Dia gak mau kelihatan kayak ngikutin mereka cuma buat have fun.