Bab 143.
Antonia masuk ke kamar hotelnya dengan rasa capek yang bikin dia hampir pingsan. Bahkan waktu kerja di lab penelitian, dia nggak pernah ngerasa kecapekan ini. Nggak kayak waktu dia ngebersihin rumahnya sepuluh kali buat ngilangin debu yang bikin dia sesak napas. Kamar hotelnya biasa aja, dan dia emang sukanya gitu. Kalaupun ada, sih, ada sentuhan elegan dan perabotan lama di kamar itu. Dia emang minta ranjang kayak gini, soalnya ranjang yang lebih mewah nggak sreg di matanya kayak yang ini.
Dia emang kuno, dan dia suka barang-barangnya kayak gitu.
Ngelepas hak sepatunya, dia langsung duduk di ranjang. Empuk dan nyaman banget. Dia ngerapiin ujung-ujungnya pake jari telunjuknya buat ngilangin bekas lipatan. Sekarang, udah sempurna.
Ngambil hapenya, dia berharap ada panggilan tak terjawab dari temen-temen kerjanya, tapi cuma ada satu panggilan tak terjawab dari ayahnya. Sang presiden. Antonia berdeham sambil nelpon nomornya. Dia ngangkat di dering pertama, tau banget kalau Antonia nggak bakal nelpon kedua kalinya.
"Halo, ayah," katanya dengan nada ketus. Jelas banget dari suaranya kalau dia nggak seneng sama dia.
"Antonia. Kamu udah baca pesenku, kamu di mana?" Suaranya memenuhi ruangan.
"Aku di New York." Jawabnya sambil nunggu ayahnya ngomong sesuatu yang bisa ngerusak hubungan mereka selamanya.
Hening sejenak di seberang telepon. Pas dia mau nutup teleponnya, dia ngomong lagi. "Kalo kamu ketemu Laurel, bilang maaf ya."
"Aku nggak bisa. Kamu harus bilang sendiri." Jawab Antonia, lalu matiin teleponnya. Kalo dia ngomong lebih lama lagi sama dia, mungkin dia bakal ngomong hal-hal yang nggak dia pengen.
Besok, dia mau mulai nyari adiknya.
Malam itu, Antonia nggak tidur. Setiap kali dia tidur, dia bangun keringetan dan mimpi buruk yang siap ngejar dia di mimpinya. Udah terlalu banyak, sampe dia nggak tidur sampe pagi.
Ada ketukan di pintu.
"Siapa itu?" Dia manggil sambil guling dari ranjang. Mungkin kopi enak bisa bikin dia mendingan.
"Layanan kamar!" Seseorang manggil dari luar.
Antonia nguap sambil maksa dirinya buat bangun dari ranjang. Dia pake baju tidur dan rambutnya berantakan banget. Dia nggak bisa keluar dengan penampilan kayak baru bangun tidur. Tanpa buang waktu, dia masuk kamar mandi, cuci muka, dan ngiket rambutnya jadi sanggul berantakan. Setidaknya rambutnya bisa keliatan lebih baik dan nggak kayak sarang burung. Beberapa menit kemudian, dia buka pintunya.
Itu cowok yang dia tanya soal klub tadi. Antonia buka pintunya lebih lebar. Biasanya, dia nggak bakal ngebolehin orang lain masuk kamar, tapi cowok ini punya informasi yang bisa ngebantu dia. "Masuk."
Cowok itu ngangguk. "Siap, Nyonya. Saya punya sesuatu yang pengen Anda denger."
Antonia melipat pakaiannya di sekelilingnya erat-erat. "Cepetan, ngomong," perintahnya dengan jelas.
Cowok itu ngulurin telapak tangannya. Dengan kata lain, dia minta duit buat ngomong. Ini bikin Antonia memutar matanya. Dia nggak kaget ngeliat tingkah laku kayak gitu dari cowok seusia itu. Dia harus nyari uang, dan dia harus nemuin adiknya. Itu win win buat mereka, dan karena itu Antonia mutusin buat ngasih dia uang.
Dia ngejatohin beberapa lembar uang ke tangannya dan mulutnya resmi kebuka.
"Bounce ada di ujung jalan. Kalo Anda belok pertama..."
Antonia ngangkat tangannya buat nyuruh dia diem. Bukan itu yang dia bayar.
"Kalo saya butuh petunjuk, saya nggak bakal nanya Anda. Sekarang kasih tau apa yang harus saya denger dan jangan buang-buang waktu pagi saya."
Cowok itu berdeham sambil tangannya makin erat ngegenggam uangnya. Dia ngulurin tangan gemetarnya buat minta lebih. Nggak ada salahnya kan? Duit lebih berarti informasi lebih...kan?
Antonia ngelempar lagi beberapa lembar uang ke tangannya.
"Adik Anda kerja di Bounce udah lama banget. Dia dikenal sebagai pembuat masalah buat orang lain, sementara buat sebagian orang dia malaikat. Tiga bulan lalu, ada rumor yang beredar kalau dia diculik sama orang-orang nggak dikenal di tengah malam."
Mungkin malam dia nelpon, Antonia inget sambil merinding. "Kamu dapet informasi lebih dari itu?"
Sayangnya cowok itu geleng-geleng kepala. "Nggak. Tapi saya denger dia balik lagi dan keliatan sehat, tapi dia nggak lama di sana karena suami..."
"Bisa nggak sih semua orang berhenti ngomong gitu!" Potong Antonia. "Aku tau adikku nggak bakal kabur sama orang asing sembarangan karena dia emang penakut seumur hidupnya. Jadi berhenti bilang dia ngejilat dua laki-laki dan ngaku nikah sama mereka!"
Cowok itu keliatan bingung sambil garuk-garuk belakang kepalanya. "Itu aja yang bisa saya kumpulin dan sebelum Anda nanya apa saya tau di mana orang-orang itu tinggal, saya nggak tau."
Antonia nyungsep di ranjang sambil ngeliatin cowok itu kabur. Dia sekarang benci klub karena kejadian terakhir dan nggak mau masuk Bounce buat nanya informasi sendiri. Dia dibilang cowok ini mata dan telinga New York, tapi dia nggak bisa dapet informasi yang jelas soal adiknya dari dia, kecuali hal yang sama kayak yang Teresa bilang.
"Ini konyol!" Antonia berbisik-teriak ke langit-langit yang dicat putih. Kenapa susah banget nemuin adiknya? Dia cuma nunda yang nggak bisa dihindari.
Antonia guling ke sampingnya, lupa soal kopi dan suasana hatinya yang buruk.
....
Nomor nggak dikenal nelpon Laurel lagi. Ini udah kesekian kalinya dan sekarang nelpon lagi. Bikin kue emang seru sama Cecil.